Seseorang bertanya kepada perempuan itu, "Mengapa akhirnya kau melepaskannya jg?"
Perempuan itu terdiam sejenak, dengan tenang dia menjelaskan
"Alasannya sederhana. Aku hanya meminta kepada Allah agar aku diberikan keberanian untuk tegas meninggalkan seseorang yang kepada dirinya sendiri saja dia bingung harus melakukan apa. Dan ketika malam itu, aku hanya berdoa demikian."
"Lalu, malam itu dia memberikan jawaban sama seperti sebelum sebelumnya membuatku tidak tega meninggalkannya, ditengah kebimbanganku sejenak aku diam berpikir sambil terus berdoa meminta keberanian kepada Dia yg maha pemberi keberanian dan malam itu tiba tiba saja kepedulianku terhadapnya luruh dan memutuskan untuk meninggalkannya. Kita hanya butuh peka untuk menilai setiap sinyal yang ditunjukkan-Nya bukan? Dan kau tahu. Semakin kesini, Allah seperti semakin menunjukkan mengapa aku tidak diperuntukkan baginya dan dia tidak diperuntukkan untukku."
"Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa bukan kau yang diperuntukkan untuk dia dan begitu pun sebaliknya?"
"Aku tidak bisa menarik dia kearah yang lebih baik. Dulu aku begitu yakin setiap orang punya kesempatan untuk bermetamorfosis sehingga dengan PDnya aku berbisik ke dalam diriku, berikanlah kesempatan itu untuknya, karena sejujurnya tidak ada manusia yang benar benar sempurna dan ia akan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Ternyata sulit bagiku untuk dia. Mungkin bukan aku seseorang yang bisa membawa dia ke arah itu."
"Kau itu orang yang paling tulus yang pernah aku kenal, sudah tahu diawal banyak hal hal krusial di dirinya yang sulit untuk dirubah, kau dengan begitu tulusnya mau memberikan kesempatan itu buat dia, dan lihatlah sekarang kau yang begitu banyak terluka perihal harapan yang dia tanam, aku tau kau tak begitu menyukai dia, diawal juga begitu, dia bukan seseorang yang kau cari, tapi kau itu orangnya berkomitmen dan sangat berprinsip, itu bisa jadi boomerang buat kau, aku tau berprinsip itu bagus, tapi kau harus lihat juga untuk siapa prinsip itu pantas diberikan. Ahhh, ada yang bilang orang orang tuluslah yang paling banyak terluka. dan kau salah satunya.”
Perempuan itu tersenyum kecut.
“Apa kau menyesal mengenal dia?
“Tidak, aku malah bersyukur mengenal dia, membuat aku jadi lebih selektif. Kau tau sejak mengenal dia aku jauh lebih matang dan dewasa. Bukankah setiap kejadian yang Allah berikan ada hikmah di dalamnya, yah mungkin Allah sedang menempa aku untuk menjadi wanita yang lebih kuat lagi, tidak cukup hanya dengan memiliki prinsip dan komitmen yg kuat tapi mental yang kuat juga, karena pernikahan itu ibadah seumur hidup yang tiap detiknya setan akan coba untuk mengganggu, Alhamdulillah Allah itu begitu baik.”
"Ya, aku bisa lihat itu. Pola pikirmu tentang pernikahan sudah banyak mengalami perubahan. Lalu bagaimana jika suatu saat dia ingin kembali, apa kau masih mau menerimanya?
“Kau tahu aku kan?” Perempuan itu menatap tajam.
“Ya ya aku tahu, tapi kita tak pernah tahu jika suatu waktu dia datang dan mengatakan ingin kembali dan telah siap, lalu apa kau akan memberikan kesempatan lagi?
Perempuan itu menatap penuh tatapan yang sulit ditebak, lalu ia berkata dengan tenang,
“Keledai saja tidak akan masuk kelubang yang sama dua kali. Aku ditakdirkan Allah menjadi manusia bukan seekor keledai” perempuan itu tertawa dan melanjutkan perkataanya
“Jika aku kembali mempercayai janji palsunya dan memberikan kesempatan kepadanya lagi, maka itu pertanda bahwa aku lebih bodoh dari seekor keledai."
“Jadi kau tidak akan menerimanya kembali?”
“Tidak” jawab perempuan itu dengan tegas.
“Lalu bagaimana jika dia yang Allah takdirkan buat membersamaimu?”
“Jika dia yang Allah takdirkan aku bisa apa, aku tidak punya kuasa untuk menolak takdir Allah, tapi kau tau aku selalu percaya janji Allah dalam kitabnya “laki laki yang baik untuk perempuan yang baik dan begitu sebaliknya”, bukan bukan aku mengatakan jika aku sudah baik, aku masih jauh dari kata itu, tetapi ikhtiarku untuk mendapatkan yang terbaik akan terus aku lakukan sampai waktu yg tepat itu tiba yaitu dengan memantaskan diriku, agar kelak Allah hadirkan yang baik menurutNya. Jika suatu saat dia datang dalam keadaan sudah baik agama dan karakternya. Ya mungkin itulah takdir Allah."
"Jadi kau ingin mengatakan, jika agama dan karakternya sudah baik maka kau akan menerimanya kembali, begitu?"
"Wallahu A'lam, hanya Allah yang tahu. Tapi jika dia sudah baik terlebih dari segi agama dan karakter dia tidak akan datang kepadaku duluan, dia akan datang kepada yg berhak atas diriku, Allah, ayah dan mamaku. Jika restu itu telah ia dapat, maka aku tak punya alasan lagi untuk menolaknya bukan?
“Ya kau benar, oiya kau tidak membencinya bukan?
"Tidak, aku tidak pernah membencinya. Bukankah benci itu sebuah rasa juga? Bahkan hatiku saat ini tak memiliki rasa apapun untuknya"
"Baiklah ku ucapkan selamat karena berhasil menjadi orang tega." Dia tertawa dan melanjutkan perkataannya lagi
"Kau orang baik dan akan mendapatkan yang baik pula." dia menepuk pundak perempuan itu seraya tersenyum.