3-4-5
3. Aku masih ingat betul umurku 3 tahun, saat hujan besar datang mengguyur bagian selatan jakarta, air menggenang di halaman rumah, aku menatap dari balik jendela, ibu menyeduh kopi dan mengambil biskuit roma, lantas menyelupkan sebagian biskuit kedalam kopi panas. Asap asapnya mengebul, hangat, berpadu dengan angin yang masuk dari sela sela jendela. Saat itu untuk pertama kalinya aku membuat perahu kertas, ibuk yang ajarkan. Aku melepas perahu itu di halaman rumah.
4. Aku ingat betul, saat umurku 4 tahun, aku bermain di balik kain kain yang sedang di jemur dibawah terik matahari sekitar jam 10 pagi sambil menggendong boneka bayi yang botak. “aku gak mau sekolah buk, maunya di rumah aja sama ibuk, nonton teletabis hehe” umurku 4 tahun, menolak masuk tk secara halus.
5. Umurku 5 tahun, saat aku masuk tk. aku masih ingat betul, rumah kami di pinggiran kota, banyak debu. Sekarang aku mengerti, saat itu ayah ibuk tak punya uang cukup, aku merengek kue ulang tahun tapi ibu bilang tidak ada budaya merayakan ulang tahun di keluarga kami, tapi aku ingin sekali dibelikan kue ulang tahun yang berhias krim warna-warni. Aku merengek hampir tiap hari pada ayah setiap kali melewati toko kue itu. Tapi di ujung minggu ayah belikan kue itu, Walau ukurannya lebih kecil daripada yang aku mau.
Sore itu mendung, aku ayah ibu berkumpul di meja makan, ruangan itu gelap hanya diterangi cahaya yang masuk lewat jendela, kami menyanyikan lagu selamat ulang tahun, dan meniup lilinnya, lalu aku bertepuk tangan, memotong kuenya dan memberikannya kepada ayah ibu. Kami merayakannya seolah itu pesta yang meriah. Aku tau betul saat itu bukan tanggal ulang tahun ku, sudah lewat jauh. Tapi Itu ulang tahun pertama ku, dan mungkin terakhirku? Karena tak ada ulang tahun-ulang tahun selanjutnya. Bukan karena mereka tak mampu membelikanku kue berhias krim warna-warni, Tapi karena ada hal yang lebih membahagiakan.. kado terindah di setiap tahunnya, mereka, ayah dan ibuk.















