AAY’HAN
Endless Rain - X-JAPAN
Mencintai wanita yang tidak mencintai dirinya sendiri….
Suatu malam kau datang padaku dengan kedua mata yang basah dan hidung yang memerah akibat terlalu banyak diseka, tubuhmu basah akibat menerobos hujan empat blok dari kantormu ke hotel tempatku tinggal tanpa payung di bulan February yang dingin, kau berkata ‘aku tidak tahan lagi’ sambil menangis dengan tubuh yang mengigil kedinginan.
Aku selalu bertanya-tanya apa yang membuatmu menangis semalaman setiap kali kau membuka timeline Line-mu atau Twitter-mu. Aku menghargai privasimu, sejatuh cinta apapun aku padaku, kau tetap bisa memiliki wilayah pribadi yang bisa kau miliki sendiri tanpa aku ikut campur, dan ternyata hari itu datang, hari dimana kau membagi wilayah yang selalu kau kunci dariku. Aku tidak berharap bahwa itu adalah sebuah kisah indah dengan mantan kekasihmu atau sebuah kepribadian manis yang tidak pernah seorangpun tahu, aku tidak berharap hal ‘pelangi’ yang tersembunyi di dalam sana.
Kita duduk bersila diatas kasurku dengan secangkir susu cokelat Nutela kesukaanmu, malam itu diluar hujan yang berarti menandakan bahwa sudah mulai naik suhunya perlahan.
Malam itu kau mengatakan bahwa sesuatu yang ada di dalam sana adalah sebuah rahasia yang amat gelap dan kau yakin aku akan meninggalkanmu setelah aku mendengar ceritanya, tapi aku tetap bersikeras jika kau harus menceritakannya padaku setelah apa yang kau lalui dengan bodohnya menerobos hujan ke tempatku pukul 2 dini hari, tidak dijegat oleh preman di gang gelap atau tersesat saja aku sudah bersyukur.
Kau mengatakan padaku bahwa kau memiliki empat orang teman yang kau sayangi walaupun pada akhirnya yang satu tidak begitu cocok denganmu karena terlalu banyak bicara dan kau benci itu, namun jauh di dalam hatimu, kau tetap menghargai wanita itu sebagai temanmu yang berharga meski tidak ingat tanggal ulangtahunnya saat kutanya.
Tiga orang yang sudah kuanggap saudara sendiri, begitu katamu dengan air mata yang kembali mengumpul di pelupuk mata. Aku mencintai mereka layaknya aku mencintai diriku sendiri, aku tidak ingin mereka kecewa padaku. Aku tidak begitu mengerti perasaan seperti apa itu, aku memiliki banyak teman dekat dan lelaki jika memiliki masalah maka langsung main hajar tanpa ragu-ragu, atau setidaknya itu aku.
Kau mengatakan bahwa mantan kekasihmu berinisial F. dengan masa depan paling menjanjikan itu asal mencetuskan ide untuk menjodohkan teman-temannya pada teman-teman berhargamu tersebut, tanpa pikir panjang karena terlalu senang kau akhirnya mengiyakan ajakan mantan kekasihmu itu.
Kau tunjukan semua foto yang kau dapat dari mantan kekasihmu, semua informasi yang kau dapat hingga kau karang sendiri ke sahabatmu, meski sembunyi-sembunyi tapi kau sangat ingin mereka saling mencintai dan impian untuk dating bersama menjadi kenyataan. Kau begitu bersemangat hingga tidak mengecek kebenaran apapun dari mantan kekasihmu, bahkan kau rela berbohong untuk menutupi kebusukannya yang dahulu kau anggap bukti cinta.
Kau sungguh senang dengan kenyataan bahwa sahabat-sahabat berhargamu bisa mencintai teman dari kekasihmu tersebut hingga kau merencanakan piknik bersama akhir tahun saat mantan kekasihmu kembali ke Negeramu. Semuanya masih berjalan baik-baik saja hingga kau mencium sesuatu yang aneh, kau menemukan akun jejaring sosial dengan foto yang sama yang mantan kekasihmu berikan, sembunyi-sembunyi kau menyelediki semuanya sendiri, satu per satu foto tersebut kau temukan di pencarian Google, hatimu hancur, rasa bersalah menyelimutimu dan keinginan untuk menghilang muncul berkali-kali.
Kau pernah sesekali mengatakan bahwa kau merasa kesepian pada ketiga sahabatmu tersebut, hatimu bimbang antara sahabatmu yang sangat menyayangimu atau kekasih yang sudah melamarmu saat itu. Namun kau putuskan untuk bertanya lebih dahulu pada kekasihmu, kau menunjukan semua bukti dalam satu surel berharap mantan kekasihmu membalas dengan penjelasan yang bisa kau jelaskan kepada ketiga temanmu tersebut.
Namun apa yang kau dapat, kau justru dimaki bodoh, wanita tolol, kau dan ketiga temanmu disebut wanita tolol yang mau termakan rayuan pria yang bahkan belum pernah mereka temui wujud atau paling tidak melalui video. Kau menemukan ternyata kekasih yang paling kau sayangi merayu tiga sahabatmu dan kau merasa sangat bahagia dengan hal tersebut, kau merasa tidak ada wanita yang lebih tolol dibanding dirimu, aku setuju.
Dan perbuatanmu setelahnya justru lebih tolol, bukan menyudahi dan membeberkan fakta bahwa kau dan tiga sahabatmu dibohongi, justru kau menutup-nutupi kesalahan mantan kekasihmu yang diam-diam masih kau suka meski sudah berkali-kali kau diperlakukan seperti budak olehnya. Kau mengakses akun palsu yang mantan kekasihmu buat untuk membuat Si Pria Yang Paling Jatuh Cinta Pada Sahabatmu menghilang dengan tenang, agar kau tidak perlu dipertanyakan lebih banyak lagi.
Kau membuat skenario paling murahan, kematian. Kau membuat pemeran utama tersebut mati dan tetap membuat citra mantan kekasihmu baik dihadapan yang lainnya. Kemudian ketiga pria yang dahulu sering merayu dan bertukar surel tersebut hilang dari peredaran. Tidak ada yang mempertanyakan, misimu kau anggap berhasil setelah berbulan-bulan penyamaran dan tiada henti memikirkan kebohongan apa lagi yang akan kau katakan kelak.
Tapi sepandai apapun tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Kau lupa bahwa kau membuat permintaan pertemanan di akun facebook dari salah satu orang yang mantan kekasihmu pakai, secara sangat kebetulan juga, satu dari tiga sahabatmu yang kau tipu itu melihat notifikasi permintaan pertemananmu di akun facebook, mereka menyelidikinya, menanyai semua foto yang kauberikan tempo hari, singkat kata, hancurlah persahabatan kalian.
Ketololan yang kau lakukan selanjutnya adalah tidak bisa menemukan kata yang baik untuk mengungkapkan semuanya, maksud hati berkata tenang justru dibaca sebagai kepolosan bodoh, maksud hati menyudahi debat karena kau terlalu malu untuk menangis di depan keluargamu justru berakhir dengan kata-kata kasar yang kau ucapkan pada ketiga sahabatmu yang paling dan masih kau sayangi.
Aku tidak ingin memutuskan seberapa bersalah kau dalam hal ini, yang kuherankan adalah mengapa kau masih melindungi mantan kekasihmu dari kenyataan bahwa ia juga bersalah? Mengapa kau tanggung semua kebencian untukmu sendiri? Mengapa kau anggap ‘biar aku saja yang mengalah’ adalah sebuah tindakan keren sementara kau memperburuk namamu dan mantan kekasihmu melenggang bebas hingga sahabat-sahabatmu percaya bahwa F. adalah hal fiktif lainnya, kenapa?
Aku tahu dia benar-benar ada karena aku ada disana saat kau menghapus seluruh foto kalian berdua yang kau gembok di akun facebook. Aku melihat wajahmu yang paling bahagia, kau tertawa sungguhan, Keparat itu beruntung menemukanmu jauh sebelum kau rusak. Aku percaya bahwa F. sekarang menertawaimu yang hancur sendirian, atau berempat dengan tiga temanmu lainnya.
Kau mengatakan bahwa kau adalah orang paling buruk sedunia, bahwa kau tak pantas mendapatku, bahwa kau yakin setelah malam itu aku tidak akan menghubungimu atau mengangkat telephonemu lagi. Tapi tidak terjadi bukan?
Itu karena aku yakin kau tidak hidup dimasa lalu, kau melangkah dan meninggalkan dirimu yang hancur dibelakang, perlahan kau bangun lagi potongan demi potongan dirimu. Aku dengar dari teman kuliahmu yang lama bahwa kau berubah, kau jauh lebih banyak tertawa, banyak bercanda dan banyak bergaul meski aku tahu kau tak pernah iklas tertawa, kau bergabung dengan yang lain, duduk di meja yang sama hanya untuk menghilangkan kenyataan bahwa kau kesepian dan jauh dariku, fakta bahwa setiap saat kau merindukan ketiga sahabatmu.
Kau yang sekarang jauh lebih berbinar dari kau yang dahulu, mungkin, aku tidak yakin seperti apa kau saat itu. Terkadang saat kau benar-benar merindukan ketiga sahabatmu yang lalu, kau selalu memegang dadamu, mengusapnya kasar dengan nafas yang berat, seakan menekan lubang besar di dadamu yang menganga sejak kau tidak pernah mencoba memperbaiki kesenjanganmu dengan mereka.
Aku tidak masalah dengan hal itu selama saat kau bersamaku kau hanya fokus denganku.
Tapi malam kemarin, saat aku kita berjalan di lorong Alamanda Tower dengan kantong es krim Alfa Midi yang kupegang, kau kembali mengeluarkan air mata tanpa sebab, aku lagi-lagi tidak bertanya, aku menunggumu membukakan pintu terhadap ruang privasi yang masih sangat rapuh tersebut. Dan kau memperbolehkanku mengintip untuk kedua kalinya.
Aku memasang wajahmu sebagai display picture akun BBM-ku dan mempostingnya di akun Path, kemudian muncul ini. Itu katamu sambil menangis terpojok di depan ranjang.
Aku tidak begitu mengerti bahasa Indonesia, tapi menurut translate kamera status di Line tersebut mengatakan bahwa mendapatkan seorang kekasih tampan dan seksi adalah hal yang luar biasa dengan wajah pas-pasan seperti itu, aku yakin kalimat yang membuatmu sakit adalah kata ‘(bukan untuk yang pertama)’ benar?
Dari awal sekali kita memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan dan akhirnya kita memang terikat satu sama lain kau sudah mengingatkan padaku untuk menganggapmu tidak ada di seluruh jejaring sosial yang bisa diakses oleh banyak orang. Kau bilang kau tidak suka perhatian dari banyak orang, aku percaya saja, saat itu.
Sekarang tidak lagi, Darling Le, berhentilah memanipulasi perasaanmu sendiri. Aku tahu setiap kali kita bertemu di Jakarta kau selalu menghindari kita keluar pada siang hari, kau menghindari aku menjemput di kantormu meski kau tahu kita bertemu dikantormu yang sekarang sudah kau tinggalkan. Kau tidak membiarkan siapapun tahu tentang hubungan kita karena kau menilai dirimu tidak pantas berdampingan denganku, ya?
Memang apa salahnya seorang model professional berkencan dengan wanita biasa yang berhijab? Memang apa salahnya seorang model dan audio engineering macam aku berkencan dengan wanita yang tidak memiliki wajah secantik model-model di majalah lifestyle? Memangnya ada sebuah undang-undang yang melarang bahwa aku, Robert, tidak boleh berkencan dengan wanita Indonesia yang tidak suka berdandan, memakai celana jeans, sepatu converse rusak, MacBook black ketinggalan jaman dan pernah melakukan hal buruk terhadap sahabatnya sendiri? Tidak ada yang mengatakan hal tersebut.
Aku mengencanimu murni karena aku sangat bahagia bersamamu, kau adalah wanita yang sabar, kau selalu mencoba membuat suasana hatiku kembali cerah meski aku baru saja terserang badai, kau selalu mendukung karirku, kau tidak pernah keberatan aku pergi ke pesta dan berfoto dengan wanita-wanita cantik meski setelah itu kau biasanya mengamuk habis-habisan bertanya apa aku jatuh cinta dengan wanita seksi dan maha cantik di pesta?
I got your point, darling Le.
Bagiku mencintai bukanlah persoalan wajah, aku sudah cukup tampan untuk keturunanku, mempunyai kekasih yang tidak secantik model yang kau katakan—Yumi Lambert, Vika Levina dan Josephine LeTutor—bukanlah masalah bagiku.
Kau yang berhasil membuatku bertekuk lutut akibat kelakuan anehmu, kau yang berhasil membuatku rindu dengan pelajaran Bahasa Indonesia aneh apa lagi yang kau ajarkan padaku, kau yang berhasil membuatku mencintai kota Jakarta yang macet dan panas, kau yang berhasil membuatku bekerja lebih keras untuk mewujudkan impianmu menikah diusia muda. Kau yang berhasil membuatku penasaran apa sebenarnya Islam itu, mengapa kau berkata ‘hanya orang yang percaya Tuhan yang melihat Islam adalah agama yang damai’, hanya kau yang berhasil membuatku percaya bahwa orang yang percaya Tuhan adalah orang yang menyenangkan.
Yang aku tidak sangka adalah musikmu, kau mencintai musik yang kebanyakan wanita tidak sukai, beberapa memang main-stream seperti Super Junior, Arctic Monkeys dan Daft Punk, tapi aku kaget ketika melihat deretan lagu The Doors, Led Zeppelin, Pink Floyd dan Janis Joplin di iTunes mu. Kau benar-benar wanita penuh kejutan. Tidak ada Ariana Grande, Lady Gaga, Nicky Minaj dan sebangsanya. Kau tahu seberapa banyak wanita sepertimu? Selamat, aku baru menemui satu yaitu kau.
Aku menuruti semua kemauanmu dalam satu tahun ini untuk menyembunyikan rapat-rapat hubungan kita seolah kau dan aku bahkan tidak pernah mengenal satu sama lain. Tapi jika hal seperti ini terjadi, bisakah kita bongkar saja hubungan kita? Aku ingin sekali mengunggah satu foto kau dan aku di akun Instagram milikku, tapi aku juga tidak siap kau membaca komentar jelek tentang hubungan kita, aku tidak siap melihatmu menangis karena aku dan aku tidak siap melihatmu memasang wajah palsu lagi karena aku sudah pasti sedang berada jauh darimu. Maaf karena aku belum bisa membawamu kemanapun aku pergi, aku ingin sekali, tapi aku belum memenuhi syarat Ayahmu, jadi tunggu sebentar lagi ya, aku akan menjemputmu, aku berjanji.
Darling Le, tolong lebih selektif memasukan komentar orang lain, tidak semua bisa kau masukkan ke hati. Hatimu kecil, Darling, jadi pintar-pintarlah memilih mana yang bisa kau masukan dan mana yang tidak, jangan sampai menangis lagi hanya karena komentar yang seharusnya sudah bisa kau tebak dahulu.
Darling Le, aku tahu kau ingin sekali kembali seperti dahulu dengan ketiga sahabatmu yang masih kau cintai, tapi menurut mereka kau hanya sebuah kertas lusuh yang meski diseterika tetap tidak berarti, hanya sebuah kertas lusuh, apa kau siap untuk hanya dianggap sebagai sekedar teman yang lalu lalang? Jika ya, maka sapa mereka dengan obrolan ringan. Jika tidak, maka mundurlah, kau akan melukai dirimu lebih dalam.
Darling Le, kau tahu apa yang sangat sulit dari mencintaimu? Kebencianmu terhadap dirimu sendiri. Bagaimana aku bisa mencintai seseorang yang membenci dirinya? Aku kesulitan, aku terkadang tidak tahu harus memperlakukanmu seperti apa, apakah harus kugenggam erat atau hanya cukup kupegang saja? Aku tahu kau percaya padaku untuk mencintaimu dan disitulah masalahnya, aku ingin kau percaya pada dirimu juga. Aku ingin kau percaya bahwa we can make it works now and forever. Jangan hanya kau gantungkan cintamu padaku, tapi bagi sebagian cinta untukku untuk dirimu sendiri, percaya bahwa apapun yang orang lain katakan adalah hal yang tidak penting selagi aku mencintaimu, tolong digaris bawahi yang jangan didengarkan adalah hubungan kita, komentar membangun harus didengar.
Aku tegaskan, aku tidak butuh wanita cantik, aku butuh wanita yang membuatku jatuh cinta berkali-kali, wanita yang mau merangkulku saat aku kelelahan dan emosional, wanita yang mau mendengarkan keluh-kesahku, wanita yang tidak sibuk dengan ponselnya saat ada aku dan wanita yang berhasil membuatku percaya bahwa aku bisa menghabiskan waktuku dengannya tanpa terbuang percuma meski akhir terburuknya kita tetap berpisah.
Kesalahanmu seperti bintang, bertaburan diseluruh langit malam hingga aku sulit menghitung sebanyak apa kesalahanmu terharap orang-orang yang menyayangimu tapi rasa sayangmu padaku seperti matahari, mengeyahkan bintang-bintang saat kau hadir. I’ve seen your darkest side and I choose to stay. Aku tidak lari terbirit saat mendengar sisi tergelapmu, setiap orang mempunyai sisi tergelapnya masing-masing, begitu pun aku, ya? Kau juga melihatnya, mengetahuinya dan kau memilih untuk tetap bersamaku.
Kau selalu bilang ada lubang besar di dadamu yang selalu membuatmu mengigil tak karuan, membuatmu kesepian, membuatmu merindukan dan berharap tidak pernah berbohong pada ketiga sahabatmu dan masih belum bisa tertutup, lubang itu masing menganga, memperlihatkan jantungmu yang perlahan membeku.
Bisakah aku menawarkan tanganganku untuk menutupi lubang tersebut, tapi aku tidak akan bisa menutupnya jika sendirian, maukah kau memberikan tanganmu untuk membantuku menutupi lubangnya? Kita bersama-sama bisa menghalau dingin yang masuk.
Darling Le, aku mohon jangan bersedih lagi, aku akan kembali ke pekerjaanku dan berpisah puluhan mil dan berbeda lebih dari 12 jam. Aku tidak bisa mengenggam tanganmu saat kau sedih, jadi usahakan tahan sedihmu hingga aku kembali dan menemuimu lagi, ya?
Love & Kisses,
Your Silly Robert.
p.s. I mind with tagline said ‘everybody is a King!’ in fact not everybody is a King. There is Stuart, Brown, Longbottom, Potter, Naptikov.
karena tulisannya terlalu indah untuk disimpan sendiri.














