Keren sih, tapi buat apa?
Belakangan ini lagi sering kehabisan bahan hiburan. Karena pergi nggak bisa, akhirnya tentu lari ke medsos. Mungkin klise tapi ketika lagi nggak terlalu banyak kegiatan, mantengin medsos bukan hal yang baik.
Kadang lihat orang lain. Kok mereka masih makan di kafe sih sama temen-temennya? Orang lain tuh orang tuanya direktur/pejabat ya ternyata? Temen-temen S2 kayanya pada kaya, kelihatannya rumahnya bagus dan pada punya mobil? Wow orang lain tuh kalau ulang tahun yang ucapannya direpost orang-orang di instastory sampai jadi titik-titik. Wah, dream wedding dress-ku ternyata tipe dress yang cuma dipake lamaran sama pre-wedding doang sama orang lain, apa orang-orang memang sekaya itu ya? Waduh, teman-temanku produktif banget ya nyimak webinar di jam makan siang?!
Kalau di instagram bawaannya iri, di twitter bawaannya marah-marah. Kok dia bisa mikir gini sih, ini kan menyinggung? Kok ada ya yang berantem gini aja dibelain banget? Kok bisa ya gak kenal tapi komentarnya jelek-jelekin banget?
Ada yang bilang media sosial itu gak baik. Ada juga yang bilang media sosial itu baik, asalkan kita pintar-pintar milihnya.
Aku gak tau apa yang aku percayai. Karena biasanya, yang bilang ‘media sosial itu baik asal pintar milih’ itu orang-orang yang memang terkenal aja dan dapat sesuatu dari media sosial. Jadi sebagai pemain penting, ya wajar mereka menganggap itu ‘ada baiknya’ :))
Lagipula pintar memilih itu gimana? Kalau niatnya emang cuma mau lihat video-video binatang peliharaan yang gemas, kita memang bisa milih follow bulubulukehidupan doang. Tapi kadang konten yang sering tidak terprediksi adalah dari lingkaran pertemanan kita sendiri, terlepas itu dekat atau nggak.
Kemudian aku jadi perlu merenungkan mungkin masalahnya di diriku sendiri? Kenapa gitu harus merasa insecure dan ikut pusing atas hal-hal yang terjadi di dunia maya? Lalu kemudian aku jadi berpikir lebih jauh lagi, aku bahkan gak memperlakukan media sosial seperti orang-orang yang aku cemburui atau meyakini nilai-nilaiku dengan cara yang sama dengan mereka.
Orang lain mungkin anak orang kaya, terus kenapa? Banyak hal yang akan jadi jauh lebih mudah sih, mungkin aku dulu gak perlu ngejar-ngejar beasiswa, dulu bisa ambil banyak kegiatan volunteer tanpa pusing mikirin uang belanja, dulu bisa kerja di LSM idealis yang uangnya gak seberapa, tapi ternyata aku sekarang mensyukuri sekali sekolah gratis. Harus fotokopi atau beli banyak buku ya gapapa, liburan daftar workshop ini dan itu gak merasa sayang, karena dananya memang buat belajar. Gak harus merasa 'bekerja’ untuk dapetin kemudahan itu, tapi tinggal belajar.
Orang lain mungkin bisa jalan-jalan, terus kenapa? Seenak-enaknya makanan dan secantik apa pun pemandangannya, kayanya gak akan sepadan dengan rasa tenang di rumah aja. Memang bosen tentunya. Tapi nggak semua orang punya rumah dan keluarga yang membuat mereka nyaman untuk di rumah aja.
Orang lain punya banyak teman, terus kenapa? Dulu inget pernah makan-makan sama temen-temen, lalu ada yang bilang 'Kok Hana gak pernah posting kalo lagi sama kita sih?’ Lalu aku mikir, iya ya. Tapi aku memang gak pernah merasa nyaman berbagi lagi ada di mana dan sama siapa. Aku bahkan sempet kepikiran untuk deaktif instagram karena merasa sepertinya ekspektasi orang-orang umumnya menganggap instagram itu buat berteman. Sementara aku gak pernah merasakan itu.
Aku mau post apa? Tidak nyaman post fotoku sendiri. Foto jalan-jalanku? Aku tak pernah jalan-jalan. Foto makananku? Aku makan tahu tempe dan sayur aja tu. Foto pacar setiap habis ketemu/video call seperti orang lain yang bilang thanks for today?~ Kan bisa bilang langsung. Apa hal menarik yang bisa aku lakukan? Posting instastory terus bales dengan reaction? Habis itu tap 2x untuk love? Atau nanggepin suatu konten lalu obrolannya cuma segitu aja? Atau jadi merasa terpaksa follow seseorang karena dia teman kita di dunia nyata, padahal kita gak suka kontennya? Atau pengen unfollow bukan karena gak suka juga, tapi pengen mengurangi aja jumlah hal yang dibaca/dilihat tapi gak enak, lalu males mute satu-satu? Mungkin aku memang cocoknya cuma buka kalau perlu post sesuatu aja :))
Orang lain pada produktif, terus kenapa? Ya baguslah mereka produktif. Tapi gak perlu merasa kalah, karena kita juga sering kok produktif tapi gak diceritain ke orang. Orang lain bergaya hidup yang kayaknya fantastis tapi kok ternyata banyak yang begitu, terus kenapa? Aku belajar sejak pandemi banyak banget baju bagus yang gak kepake, jadilah jarang belanja sekarang, kecuali khusus untuk di rumah (yang harganya juga cuma @25rb).
Lalu lihat postingan nikahan orang, ulala~ Tapi kalau aku suatu hari nanti lamaran dengan dekorasi yang dahsyat, akad nikah dan resepsi di gedung bertingkat, dengan makanan yang spekta dan grande~ Apa aku bakal happy? Ketemu segitu banyak orang? Menghadapi begitu banyak acara? Sepertinya nggak. Checkout belanjaan online aja dipikir berhari-hari, apa iya bakal senang ketika ngabisin uang sebanyak itu?
Bahkan kalaupun gratis, apa iya dibutuhin? Rame undangan malah pusing, tempat gede malah sayang, lamaran aja harus didekor, bayar panitia, baju yang cuma dipake gak sampe setahun sekali, dan bayar fotografer?! Keren sih, tapi buat apa? Itu baru lamaran doang, belum yang lain-lain dan yang lebih utama. Buat konten instagram, untungnya apa? Kita kan bukan public figure. Mereka sih bayar puluhan juta buat dokumentasi sah-sah aja, orang tiap viewers itu naikin nilai online presence mereka. Lah kita ngapain? (Mungkin teman-teman uangnya banyak banget sehingga menganggap itu kecil, ya gapapa juga sih).
Andai pun aku dan pasangan masing-masing punya tabungan 500 juta (ngayal aja dulu), kalau harus keluar biaya nikah 100 juta (ngayal lagi anggaplah fancy banget lalu pasangan menyumbang 100 juta juga), kayaknya tak sudi 20% hasil jerih payah bertahun-tahun habis dalam waktu SEHARI?! Ya mungkin harusnya aku bersyukur bisa happy dengan barang-barang dan gaya hidup yang murah. Kalau biasa hidup biasa aja, andai suatu hari nanti jadi kaya seharusnya gak tergoda untuk naikin standar hidup terlalu jauh.
Kadang juga lihat orang berdebat di twitter. Wow pintar sekali. Followers langsung naik ribuan, di-like hingga berjumlah 'k’ di belakangnya. Tapi kalau dipikir-pikir untungnya apa? Apa itu bisa dibanggakan ketika suatu hari kita interview kerja? Apa itu bisa dimasukin CV? Apa itu nambah publikasi? Apa itu nambah poin buat karir kita? Apa itu kita betulan mau berbagi ilmu? Atau kita ingin terlihat benar? Karena kalau kita ingin berbagi ilmu, harusnya bisa kritik personal aja.
Hasil berpikir ini bisa bikin kecemasanku lebih reda, TAPI tidak membuat respon otomatisku ketika lihat konten media sosial temen jadi kalem dan positif. Makanya memang tetap harus dibatasi, ibarat kalau udah tau kita punya riwayat maag, ya jangan jadi beli kopi. Kalau memang 'masalah’ memang gak perlu 'dicari-cari.’ Dan mungkin juga memang rasanya muak banget terus-terusan ‘menerima’ informasi, tapi jarang ‘berbagi’ pikiran muak itu sendiri. Jadi gapapa ya sekali-sekali berpikir di sini.