Kutanamkan di dalamnya mutiara lalu kubiarkan
Bersinar tanpa mentari dan berjalan tanpa rembulan
Kedua matanya adalah sihir dan keningnya laksana pedang India
Milik Allah-lah bulu mata, leher, dan kulit yang dicelup merah
(‘Aidh Al Qarni)
Angin segar tertiup melewati wajahnya yang berbingkaikan kacamata. Perlahan-lahan, lembut, angin itu tertiup dengan begitu damainya. Pagi yang sangat manis.
Seperti tak mau kalah, hawa hangat tiba-tiba memeluknya. Matahari yang malu-malu muncul dari ufuk timur, menyapa seorang perempuan cantik nan anggun yang tidak menutup jendela kamarnya setelah shalat shubuh tadi. Sinar lembut itu mulai membelai wajahnya yang ia hijab dengan sebuah cadar berwarna coklat muda. Warna yang senada dengan busananya hari ini.
Zaidah Najwa Al-Qulub, Zizi nama panggilannya. Sudah setahun ini ia menjalani status sebagai mahasiswi pascasarjana di universitas yang cukup terkenal di negaranya. Selain menjadi mahasiswi, Zizi juga masih aktif belajar dan mengajar di sebuah pesantren yang tak jauh dari kampusnya.
Zizi bersiap-siap untuk beraktifitas. Ia kenakan gamis berwarna coklat muda dengan kerudung berwarna senada, membuatnya terlihat begitu anggun. Tak lupa bros bermotif bunga kecil menghiasi busananya hari ini. Kaos kaki berwarna coklat muda pun membalut kakinya. Berbeda dengan kebanyakan perempuan masa kini yang masih sering memamerkan aurat dan kecantikannya, Zizi tetap istiqamah dalam memelihara dan menjaga auratnya agar tidak menjadi fitnah bagi dirinya. Beberapa buku ia masukkan ke dalam ranselnya. Ia pun mulai melangkah dengan mantap, diiringi dengan ucapan tauhid pengagungan kepada Tuhannya.
“Bismillaahi tawakkaltu ‘alallah laa haula wa laa quwwata illaa billaah..” ucapnya lirih, berbaur dengan suara detak jarum jam di dinding kamarnya.
Sudah pukul 06.30. Ada banyak agenda yang harus ia jalani hari ini.
Gemericik air hujan mulai mengguyur hamparan bumi Allah sore ini. Cuaca memang sedang tidak menentu dan sulit diprediksi. Pagi cerah, sore hujan. Pagi mendung, siang hujan. Seharian mendung, tapi tidak hujan. Sungguh tak menentu. Namun itu tak menghentikan langkah seorang akhwat yang berlari tergesa-gesa sambil melindungi kepalanya dari serbuan tetes air hujan yang siap mematuk kepala siapa saja yang berada di bawahnya.
Meskipun beberapa cipratan air mengenai bagian bawah gamisnya dan air hujan mulai membasahi kerudung putih bersihnya, itu tak menyurutkan langkahnya untuk mengikuti sebuah kajian rutin khusus muslimah di masjid kampusnya. Namun, tidak seperti biasanya, hari ini ia berangkat pada detik-detik di saat kajian akan segera dimulai. Selepas menegakkan shalat ashar tadi, A’yun langsung bercengkrama dengan hafalan Qur’annya. Malam ini ia akan menyetorkan hafalan 1 juz terakhirnya, juz 20.
“A’yun, tunggu..!” terdengar suara akhwat memanggil namanya saat hendak memasuki jalan menuju masjid Nurul ‘ilmi. Ia menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah sumber suara itu.
“Nisa?! Assalamu’alaikum, ukhti!” ucapnya seraya mengembangkan senyum. Manis sekali.
“wa’alaikumussalam. Ngga bawa payung, ukh?” ucap Nisa seraya langsung merangkul A’yun.
Mereka kini berjalan di bawah payung yang sama, sepayung berdua. Nisa terus merangkul A’yun yang terlihat mulai menggigil. Suasana mendadak romantis. Pemandangan hangat tersuguhkan di bawah guyuran hujan yang mulai deras disertai angin yang berhembus kencang. Kerudung besar mereka berkelibat lembut.
“Soalnya aku pikir sore ini tidak akan hujan. Dua hari kemarin sore cerah, dan tadi siang sudah hujan. Ternyata Kuasa Allah berkata lain..” ujar A’yun disusul dengan tawa kecilnya.
“Ada-ada saja kamu, Yun. Ayo cepat, sepuluh menit lagi kajian dimulai, temanku yang anggun..” ujar Nisa menghangatkan suasana. Mereka tersenyum simpul. Mata mereka berbinar.
Tak beberapa lama berselang, mereka telah sampai di depan gerbang masjid. Terlihat sudah banyak sekali akhawat yang tengah mengantri untuk masuk ke dalam aula. Setelah membubuhkan identitas dan tanda tangan pada secarik kertas bertabel, satu per satu dari mereka mulai masuk ke dalamnya.
Kabin dingin masjid kampus mulai dipijaki. Jengkal demi jengkal telah terlangkahi. Sedetik kemudian A’yun dan Nisa sudah berada di depan meja presensi.
“Maa syaa Allah, tambah anggun saja nih teh A’yun. Bawaannya adem kalau lihat teteh.” Celetuk salah seorang akhwat penjaga meja presensi.
“Eh, dek Nada, apa kabar?” balas A’yun disusul dengan menjabat tangan Nada – adik mentoringnya – dan memeluknya ringan.
“Alhamdulillah sehat teh. Teteh gimana kabarnya?” tanya Nada lembut. Matanya terus tertuju pada mata teduh A’yun. Ia terbenam ke dalam sebuah telaga bening yang menenangkan.
“Teteh juga sehat dek, Alhamdulillah.” jawab A’yun dengan senyuman manis yang mengembang di wajahnya.
“Tulisannya rapih banget yah, maa syaa Allah, seperti orangnya. Hihi..” puji Nada pada sosok perempuan di depannya. Perempuan itu lantas tersenyum lagi untuk ke sekian kalinya. Pipinya memerah.
“Nadaaa.. kamu muji teteh terus ih, jadi malu..” A’yun tertawa kecil dan tersipu di depan adik mentoringnya itu. “Teteh masuk dulu ya, dek. Tetap semangat menjaga presensinya. Hehe” ucap A’yun seraya masuk ke dalam aula untuk mereguk sejuknya ilmu dalam majelis ilmu sore ini.
“Yun, tungguin!” protes Nisa.
“Astaghfirullah, ‘afwan, Nisa..” ucapnya sembari terkekeh lirih. Dia terlalu bersemangat detik itu.
Sejurus kemudian, mereka benar-benar telah memasuki ruangan aula yang sudah terisi penuh. Mereka mematung. Bola mata mereka sibuk diarahkan ke setiap sudut ruangan, mencari-cari space kosong untuk mereka tempati.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Detik waktu terus berdenting menyisakan hening di antara mereka.
“Nah. Itu di depan ada yang kosong!” sergah Nisa pada detik ke-10 semenjak mereka berdiri mematung.
“Mana?” tanya A’yun sembari mendongakkan wajahnya.
Belum sempat menjawab, Nisa langsung menarik A’yun menuju tempat kosong itu.
“Pelan-pelan, ukh.” ucap A’yun lirih.
“Punten.. permisi..” ucap mereka berbarengan saat harus melewati kerumunan peserta kajian yang tengah duduk rapi menunggu acara dimulai. Kajian rutin hari ini tampak sangan ramai, berkali lipat dari biasanya. Maklum saja, tema kajian hari ini sangat menarik, “Meraba Hati dengan Cinta”. Jika saja kajian tersebut bukan hanya untuk akhwat, mungkin akan semakin banyak peserta kajian ini hingga meluber ke luar aula.
“Bismillah, semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi jalan hidayah bagiku untuk terus memperbaiki diri dan memantaskan diri di hadapan-Mu, ya Allah..” batin A’yun.
Pembawa acara telah berdiri di depan. Sejurus kemudian acara kajian pun dibuka dengan bersama-sama mengucapkan basmalah. Seluruh peserta langsung fokus untuk menyimak. Tampak A’yun dan Nisa masih sibuk menyiapkan alat tulis untuk mencatat materi. Mereka begitu bersemangat.
“Wanita adalah makhluk mulia yang Allah ciptakan di muka bumi. Letak kemuliaan seorang wanita ada pada kehormatannya. Maka menjaga diri baik jasad maupun hati adalah hal yang sangat penting bagi seorang wanita. Lihatlah bagaimana agama ini sangat menjunjung tinggi kehormatan dan kemuliaan perempuan. Jaga hati dan pandangan kita. Jangan dengan mudah diumbar, karena akan membawa pada kehinaan. Jadilah seperti mutiara di laut. Tersimpan aman di bawah sana, namun sejatinya menyimpan banyak keindahan yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya.”
Nasihat sederhana tentang pentingnya seorang perempuan menjaga hati dan kehormatan dirinya, yang disampaikan oleh pengisi kajian khusus muslimah sore itu sanggup menyentuh hati Nisa. Berkali-kali ia putar kembali ucapan itu dalam sebuah monitor di tempurung kepalanya. Hatinya bergemuruh hebat. Matanya ia pejamkan.
Darinya ia dapat melihat sebuah cahaya putih yang sangat terang. Perlahan ia ikuti cahaya yang semakin mendekat itu, jiwanya melayang. Hingga pada akhirnya ia berada dalam sebuah ruang tanpa sekat, hanya ada cahaya berwarna putih di sana-sini.
Di saat itulah hidayah datang dengan cara yang Dia sukai. Datang dengan cepat, secepat kilat yang menyambar mendahului bunyi petir yang menggelegar. Hidayah itu menghujam dengan deras dan masuk tepat ke pangkal hatinya.
Ia merasakan matanya panas, kemudian mulai berkaca-kaca. Air matanya menetes satu titik, dua titik, dan beberapa tetesan turun dari pelupuk matanya. Dan kali ini, ia benar-benar menangis. Nisa menyadari akan sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Hati dan keimanannya telah ternoda. Ada sosok yang mendominasi hatinya selain Allah. Satu hal yang mungkin menjadi penghalang baginya untuk bisa menghapal Qu’an dan menjadi seorang Hafidzah seperti sahabatnya, Qurrota A’yun.
Selepas kajian sore itu, di atas hamparan sajadah yang terbentang Nisa mulai menengadahkan tangannya. Mengadu sepuasnya pada Dzat yang menciptakan rasa yang tengah berkecamuk di hatinya saat itu.
“Ya Allah, sungguh aku tak kuasa membendung perasaan yang terus mendesak ini. Meski sepenuhnya kusadari ini adalah anugerah dari-Mu, dan fitrah yang berlaku bagi setiap hati hamba-Mu, namun aku masih belum bisa mengaturnya. Bantulah hamba memadamkannya ya Rabb, karena ini belumlah halal untuk aku ungkapkan padanya. Namun ya Allah, jika memang aku harus mencintai makhluk-Mu, maka tempatkanlah rasa ini pada tempat yang tak mengganggu cinta ini pada-Mu..”
Tangisnya pecah di sepertiga malam terakhir itu. Telapak tangannya ia tangkupkan di wajahnya. Sedetik kemudian ia benamkan wajahnya dalam sujud yang panjang, hingga tempat sujudnya itu benar-benar basah karena derai air mata yang mengucur deras dari matanya.
Ia pasrahkan kepada-Nya tentang apa yang terbaik baginya. Sungguh Nisa sedang dilanda kebingungan juga ketakutan atas perasaan yang ia miliki. Namun ada harapan kecil yang tak bisa ia sembunyikan dan tak bisa ia pungkiri, ia menginginkan pemuda itu. Ia memohon berulang kali, tak hentinya mulutnya mengulang doa yang sama dalam sujud panjang itu. Agar Allah menjaga hatinya dan jangan sampai rasa kagumnya terhadap pemuda itu membuatnya lalai atas perintah untuk menjaga hati.
Malam yang begitu panjang, detiknya seperti beku. A’yun masih terjaga dalam di kamarnya. Perlahan ia langkahkan kakinya ke arah jendela. Dibukalah tirai jendela kamarnya hingga terlihat sebuah bulan sabit sedang tersenyum ke arahnya. Di sekitarnya, bintang-bintang menghiasi jubah sang malam yang gelap menjadi sebuah pemandangan yang indah. Bintang gemintang itu membentuk sebuah formasi. Membentuk layang-layang, busur panah, ketupat lebaran, dan bentuk unik lainnya. Ia tersenyum lebar. Bintang-bintang di hadapannya terus berkelip, tak mau kalah dengan kerlingan mata A’yun yang meneduhkan itu.
“Alhamdulillah…Maa syaa Allah.” ucapnya lirih.
Hari ini adalah hari kedua semenjak A’yun resmi menyandang gelar hafidzah. Dua hari yang lalu ia diwisuda bersama ratusan santri penghafal Qur’an di pesantren ternama di kota Bandung, tempatnya menuntut ilmu – kuliah - sekaligus juga menjalani aktifitas sebagai seorang santriwati Tahfidz Qur’an, seperti kakaknya.
Ketika sedang hanyut dalam lamunannya malam itu, tiba-tiba terdengar sebuah nada pesan singkat dari ponsel miliknya. Ia bergegas mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja dekat kasurnya. Diambillah ponsel itu, kemudian ia kembali berdiri di dekat jendela kamarnya, kembali menikmati suasana malam yang sedang merekah.
Asslamu’alaikum, ukh.
Maaf aku sms larut malam seperti ini, aku merasakan sebuah kegelisahan yang tak berujung
Aku ingin bercerita denganmu, ukh. Boleh?
A’yun mengeritkan dahinya.
“Ada hal apakah yang membuatmu gelisah seperti itu, sahabatku?” batin A’yun.
Boleh. Ceritakan saja, ukh. Insya Allah aku akan membantu sebisaku..
Tak membutuhkan waktu yang lama, pesan singkat itu telah terkirim.
Malam semakin larut. Gelap semakin merayap menyisakan kesunyian. A’yun masih mematung menunggu balasan pesan singkat dari Nisa. Hingga menit ke-15 semenjak sms terakhir tadi, Nisa belum juga membalas. A’yun mulai khawatir terhadapnya.
Di ufuk barat nan jauh di sana, nampak mentari perlahan menuruni dinding senja yang berwarna merah kekuningan. Dari kejauhan tampak bayangan dua orang perempuan yang sedang berbincang di selasar masjid Nurul ‘ilmi.
Sejuknya angin sore membelai lembut rerumputan dan dedaunan di dekitarnya hingga tampak bergoyang, pun dengan kerudung besar mereka yang tampak berkibar lembut. A’yun dan Nisa, dua sahabat yang saling mencintai karena Allah sedang berbagi kisah, tentang hati mereka.
“Yun, pernahkah kau merasakan sebuah rasa yang tak bisa kau definisikan dan tak bisa kau ukur?” tanya Nisa membuka percakapan.
Angin sore terdengar bersenandung bersama dedaunan.
“Mungkinkah yang kau sebut itu cinta?” selidik A’yun dengan nada yang lembut.
“Seperti itu lah adanya, ukh. Kurasakan ada benih-benih cinta tumbuh bermekaran di saat yang tidak tepat. Entah mengapa di dalam hatiku selalu muncul sosok bayangan seorang laki-laki yang tak sengaja bertemu dan dan menolongku ketika aku hampir menjadi korban pencopetan di sebuah terminal dekat kampus kita. Setelah dia memberikan dompetku yang sempat berpindah tangan ke pencopet, aku tak sengaja bertatapan mata dengannya. Dengan cepat ia tundukan pandangannya dan mengucapkan maaf. Aku tek mengerti mengapa dia berkata demikian. Yang kurasakan hanyalah, dia sangat alim. Hari-hari pun berlalu. setelah sekian lama aku selidiki, ternyata dia sering menjadi pengisi di beberapa kajian, dia juga seorang nasyiders, ukh.”
“Mintalah perlindungan pada Allah agar kau tidak tertipu oleh jerat setan, Nis. Jangan sampai kau tidak bisa membedakan mana cinta dan mana nafsu. Masalah hati memang masalah yang sangat kompleks. Namun yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa cinta itu fitrah bagi setiap manusia. Namun ia bisa menjadi fitnah atau bencana ketika orang tersebut tidak mampu mengatur dan membendungnya agar tetap diam pada tempatnya.” terang A’yun dengan bijak.
“Lantas apa yang harus aku lakukan, Yun?”
“Cintai dulu Allah sepenuh hati. Setelah itu, terus rayu Allah agar segera menjadikan dia sebagai pendampingmu jika kau memang mau dengannya” jawab A’yun disertai tawa kecil. Nisa tersenyum dan menunduk. Pipinya merona.
Suasana perbincangan kala senja itu benar-benar menjadi menjurus ke ajang curhat. Tak lama setelah memberikan masukan pada sahabatnya, A’yun mengungkapkan sesuatu yang tak pernah ia ungkapkan sebelumnya.
“iya, Yun?” jawab Nisa seraya mengangkat wajahnya yang tertunduk.
“Bicara tentang cinta, aku juga punya kisah yang tak kalah menyita perhatian juga seperti yang kau rasakan saat ini..”
“Bolehkah aku mendengarkannya?” tanya Nisa penuh penasaran.
“Jujur, saat ini aku juga pernah merasakan hal yang sama denganmu, tentang sebuah rasa yang belum terikat oleh ikatan yang halal. Namun bedanya, sampai saat ini perasaan itu telah lama aku endapkan dalam hati hingga tak seorang pun tau sebelum pada akhirnya aku menceritakan hal ini padamu, Nis.
Sejak dulu aku masuk kuliah, tepatnya di semester kedua, ada seorang pemuda yang kukagumi budinya. Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu mulai ada.
Pertemuan di masjid kampus saat hendak shalat dzuhur saat itu membuatku merasa laki-laki yang satu ini berbeda, ada yang istimewa dari pribadinya. Sekilas dia tampak biasa, kubilang dia tak lebih tampan dari beberapa laki-laki yang sempat mendekatiku untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Penampilan dia biasa saja, tapi satu hal darinya yang sangat jarang kutemui dalam diri laki-laki akhir zaman, menjaga pandangan. Dia selalu menundukkan kepalanya ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Kekaguman itu semakin bertambah saat kutahu bahwa dia sering menjadi imam juga muazin di masjid kampus ini.
Aku tak pernah mengetahui dia kuliah di jurusan apa, namanya saja tidak tahu. Dia terlalu alim hingga membuatku malu, sangat malu, bahkan untuk melontarkan sebuah pertanyaan sederhana semacam siapa namamu kepadanya, aku tak berani.
Aku tidak tahu bagaimana perasaan kagum itu muncul di hatiku, yang kemudian tumbuh dengan subur mengisi ruang hatiku. Perasaan yang tak terdefinisikan dengan baik ketika mendengar suaranya atau berpapasan dengannya, ada rasa senang tapi malu juga grogi, campur aduk. Aku tak cukup yakin jika aku telah jatuh hati kepadanya.
Selama ini aku meyakini bahwa cinta itu tumbuh setelah akad nikah sehingga perasaan suka sebelum nikah belum bisa dikatakan cinta. Perasaan yang kupunya bahkan tak cukup membuatku berani memandang lekat wajahnya atau mencari tahu tentangnya melalui lini masa seperti facebook, twitter, dan lainnya. Wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik, janji-Nya yang Dia abadikan dalam surat An-nur ayat 26 menjadi pedoman yang membuatku mampu bertahan, mengaguminya dalam diam.
Tapi, satu hal yang tak terbantahkan, namanya terselip di doa malamku. Satu bentuk keberanian atas kekagumanku kepadanya, mendoakan. Doa yang tak ada lelah saat aku mengulanginya, “Ya Allah, bolehkan dia menjadi Imam hamba?”
dan tahu kah kamu, Nis.. semenjak saat itu ku pendam dalam-dalam rasa itu. Aku tak ingin menjadi korban tipu daya setan, aku begitu takut hal tersebut menimpaku. Aku terus memperbaiki diri dan memantaskan diri di hadapan-Nya. Karena aku tau, jodoh kita adalah cerminan diri kita, seperti apa yang aku sebutan dalam surat An Nur tadi. Semenjak saat itulah aku berniat meningkatkan kualitas ruhiyah ku. Tahajjud kutegakkan, dhuha kubudayakan, dan mencoba menghafal Qur’an degan mengikuti program pesatren Tahfidz.
Alhamdulillah, saat ini Allah mengaruniakan gelar Hafidzah di pundakku. Aku bahkan tak lagi memikirkan apakah dia jodohku atau bukan, yang terpenting Allah ridha padaku, dan menaruh cinta-Nya pada setiap sudut ruang hatiku..”
kata-kata A’yun sangat rapi meski suaranya bergetar menahan haru atas segala pencapaiannya hingga detik ini. Ia sangat bersyukur, cinta yang dating sebelum waktunya tersebut dapat ia redam dan ia kendalikan menjadi sebuah lecutan motivasi bagi dirinya untuk menggapai cinta sang pemilik cinta, Allah Swt.
“Maa syaa Allah, semoga jodoh yah, Yun.” Ucap Nisa penuh kagum padanya. Mata mereka berkaca-kaca, ada sesuatu yang mengalir deras di hati mereka sore itu.
Terimakasih banyak kakakku sayang, atas segala bimbinganmu selama ini. aku tak menyangka bisa mendapatkan suami yang shaleh, hafidz Qur’an, dan penuh kasih sayang.. seperti suami kak Zizi.
Oia kak, tetaplah istiqamah dalam menegakkan syariat-Nya. tetap semangat mengisi kajian-kajian keislaman di mana pun dan kapan pun, kak. Banyak loh yang suka cara penyampaina kakak, teman-teman A’yun juga banyak yang mendapatkan hidayah ketika kakak mengisi kajian, apalagi tentang hati dan Al Qur’an. Hehe
kapan ketemu lagi, kak? Tanah Mesir begitu panas ketika siang dan begitu dingin ketika malam. Kak, A’yun rindu..
(Adikmu, Qurrota A’yun)
Zizi menitikkan air mata saat membaca pesan singkat yang hinggap di ponselnya, ada rasa bangga pada adik kesayangannya itu.
“Baarakallah, adikku sayang.. semoga secepatnya kita bisa bertemu kembali” ucapnya lirih, bergetar, bangga.
“Assalaamu’alaikum, Zizi. Abi pulang..”
Terdengar sebuah suara yang sangat ia kenali dari balik pintu. Sudah lama Zizi menunggu di sana.
Dibukakanlah pintu itu, lantas terlihat sosok bayangan seorang pria yang sangat ia kenali di hadapannya. Zizi tersenyum. Keduanya saling bertatapan mata. Sedetik kemudian ia cium punggung tangan pria itu.
“Mas, ini silahkan the hangatnya diminum. Mas pasti capek bekerja seharian ini..” tawar Zizi seraya menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat meneduhkan hati pria itu.
“Terimakasih banyak istriku.” Jawab pria itu dengan wajah yang berseri-seri. Kemudian mereka duduk bersama di sebuah sofa.
“Istriku, sehangat apapun teh dan semanis apapun ia, itu takkan bisa mengalahkan manisnya senyummu dan hangatnya sikap lembutmu.” Sambungnya seraya mengecup kening sosok wanita shalehah di depannya.