we're not kids anymore.

titsay
taylor price
Xuebing Du
dirt enthusiast
🪼
trying on a metaphor
Sade Olutola

Product Placement

Discoholic 🪩
One Nice Bug Per Day
wallacepolsom
NASA
Cosmic Funnies

JVL

祝日 / Permanent Vacation
RMH
ojovivo
d e v o n

izzy's playlists!
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from China

seen from Türkiye

seen from Germany
seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Lithuania

seen from Malaysia
seen from France
seen from China
seen from United Kingdom
seen from Lithuania
seen from Greece
seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from United States
@syam-03
Tak akan ada pelangi yang muncul hanya karna engkau merasa hari ini adalah hari baik
Lihat showcase crew your dream. https://vt.tokopedia.com/t/ZS9LEGNAPutm3-sxd0u/
https://vt.tokopedia.com/t/ZS9LEGNAPutm3-sxd0u/
“Pada putih dan abu kehidupan ini, kenangan sederhana justru menjadi yang paling abadi.”
Tentang Menerima
Aku tak pernah membenci
keputusan siapa pun tentangku,
sebab pilihan mereka
bukanlah sesuatu yang wajib kumiliki.
Apa yang mereka pilih
adalah hak mereka sepenuhnya,
bukan ukuran tentang nilai diriku,
bukan pula alasan untuk menyesal.
Aku belajar menerima
tanpa merasa direndahkan,
belajar melepaskan
tanpa menyimpan dendam.
Karena pada akhirnya,
setiap keputusan yang datang kepadaku
adalah bagian dari jalan
yang harus kulewati—
bukan untuk disesali,
melainkan untuk dimengerti.
Prajurit
Aku adalah prajurit,
bukan yang mengangkat senjata,
melainkan yang menahan luka
tanpa banyak suara.
Tak ada kata mundur
dalam langkah yang kupilih,
sebab yang kuhadapi bukan musuh,
melainkan diriku sendiri.
Dan bila lelah datang
hingga tak ada lagi tempat bersandar,
aku tak mencari jalan pulang—
aku memilih bertahan,
menang dalam diam,
atau gugur dalam keyakinan
yang kupeluk sepenuh hati.
Menunggu Gelap
Tak perlu menunggu malam
jika hanya ingin menunggu gelap,
sebab gelap sering lahir
dari hati yang terlalu lama berharap.
Ada terang yang tak datang
meski mata masih terbuka,
dan ada sunyi
yang tumbuh bahkan di tengah ramai.
Maka belajarlah memahami,
bahwa gelap bukan soal waktu,
melainkan tentang bagaimana
kita berdamai dengan diri sendiri.
Edelweis
Jika Pemilik alam ini berkenan,
aku tak akan memetik edelweis itu.
Sebab keindahannya bukan untuk dimiliki,
melainkan disaksikan dengan penuh hormat.
Aku hanya ingin membawamu
ke tempat ia tumbuh dengan tenang,
di ketinggian yang tak memaksa,
di udara yang mengajarkan sabar.
Biarlah ia tetap mekar
pada takdirnya sendiri,
sebab cinta yang paling tulus
tak selalu ingin memiliki—
cukup menemani,
dan menjaga agar ia tetap hidup.
Melepas
Tidak semua hal harus kau pegang,
sebab ada yang justru hancur
saat terlalu erat digenggam.
Sebagian hadir hanya untuk singgah,
mengajarimu arti ikhlas,
lalu pergi tanpa perlu alasan.
Belajarlah melepaskan
bukan karena kalah,
melainkan karena paham
bahwa tak semua yang datang
ditakdirkan tinggal.
Di Hadapan Cermin
Aku berdiri di hadapan cermin,
bukan untuk memastikan rupa,
melainkan mencari jejak diriku
yang kerap hilang dalam hiruk dunia.
Cermin tak pernah berdusta,
ia hanya memantulkan apa adanya—
lelah yang kupendam,
rindu yang tak sempat kusebutkan,
dan luka yang kupelihara diam-diam.
Di sanalah aku belajar,
bahwa mengenal diri
adalah keberanian paling sunyi:
menerima bayangan sendiri
tanpa ingin mengubahnya.
Tentang Kemauan
Ketika sesuatu yang wajar
hadir begitu saja,
aku memilih menjadikannya tak biasa—
bukan karena dunia menuntut,
melainkan karena kemauanmu
yang ingin kuistimewakan.
Sebab tak semua yang wajar
pantas diperlakukan biasa,
ada yang layak dijaga lebih lama,
hanya karena ia datang
dengan niat yang tulus.
Kamu adalah Bunga
Kamu adalah bunga
yang tumbuh tanpa meminta musim,
mekar dalam diam,
meski angin tak selalu ramah.
Aromamu tak pernah memaksa
untuk dicium siapa pun,
namun siapa yang lewat dengan hati tenang
pasti akan berhenti sejenak.
Kamu tak berisik tentang keindahan,
sebab caramu hidup saja
sudah cukup menjelaskan
betapa tenangnya menjadi dirimu.
Cerpen kedua dan akhir
Cerpen awal
Menjadi Sandaran
Aku pernah percaya
bahwa bersandar adalah cara paling manusiawi
untuk bertahan.
Namun waktu, dengan diamnya,
mengajariku satu hal:
tak ada yang benar-benar menetap
selain langkah yang terus berjalan.
Satu per satu sandaran pergi,
bukan untuk melukai,
melainkan agar aku belajar
menjadi kuat tanpa menggantungkan diri.
Kini aku berdiri
di antara lelah dan pasrah,
menjadikan sunyi sebagai ruang pulang,
dan diriku sendiri
sebagai tempat berteduh terakhir.
🌿 Dalam Doa yang Tak Pernah Kecewa
Aku tidak pernah kecewa
dalam berdoa kepada-Mu,
sebab sejak awal
aku tahu,
tak semua yang kuminta
harus Kau beri.
Ada yang Kau simpan
agar aku belajar sabar,
ada yang Kau tunda
agar aku mengerti makna berharap,
dan ada yang Kau jauhkan
karena Kau tahu
aku belum siap menjaganya.
Jika pun doaku pulang
tanpa jawaban yang kuinginkan,
aku tetap bersyukur—
sebab Engkau tak pernah abai,
hanya sedang mengajariku
cara percaya yang lebih dalam.