Matahari mulai terlihat, Aku memandangnya sebentar lalu bersiap. Hari ini tampak seperti biasa, penuh kegiatan walau liburan sudah di depan mata. Walau begitu, tak ada rasa menyesal hadir disela-sela kesibukanku.
Seperti matahari yang tak pernah lelah untuk menyinari yang lain, seperti itulah Aku ingin diriku menjalani kehidupan ini.
Diawali dengan doa dan pamitan kepada Orang tua, Aku mulai melangkah.
*melihat pengumuman lomba*
Temanku : “Yah, sedih ya kita ga lolos lomba itu!”
Aku : Iya, padahal udah berharap banget.
Kami mulai mengobrol, dan di ujung percakapan, Aku terpaku mendengar ucapan temanku....
“Mungkin karena kurang persiapan, jadi ya begini. Proses tak akan pernah menghianati hasil kok. Mungkin, kita masih kurang usahanya. Lagipula, kalau diloloskan nanti malah membuat kita sombong. Masa bikin proposal H-1 bisa lolos.”
Benar juga, apa yang dibicarakan olehnya. Ada sebab, ada akibat. Ada kejadian, ada pelajaran sebagai imbalan. Wajahku yang tadinya murung, kini mulai bisa tersenyum. Melangkah maju untuk mengerjakan amanah di pundak.
Namun, tak lama senyumku menghilang. Saat perjalanan pulang, ban motorku bocor, ah sial!
Aku mencari Bengkel terdekat, tapi apa boleh buat, tidak ada.
“Sudah gagal ikut lomba, sekarang ban bocor!! Besok apalagi?!!!” Ucapku dengan nada kesal. Hatiku mulai gelisah. Rasa putus asa menghantui, penuh noda dalam hati. Seperti ada yang mengganjal, mungkin ini adalah cobaan untukku. Sambil meratapi nasib, aku kembali melihat matahari yang sudah mulai tenggelam. Ya, cahayanya pun mulai redup.
Dan Aku pun tersadar, Aku tak boleh menjadi matahari yang cahayanya bisa redup dikala malam tiba, atau tertutup awan. Cukuplah menjadi diriku sendiri, dengan caraku sendiri.
Adzan Maghrib berkumandang, dan kegelisahanku pun hilang. Bukan karena Aku menemukan Bengkel, tetapi karena Aku teringat akan QS. Ar-Ra’d ayat 28, yang artinya “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”.
Cobaan hari ini mulai bisa kuikhlaskan.
Rasa kesal, putus asa, pergi menjauh dari diriku.
Kegelisahan dalam hati, hilang seakan dimakan waktu.
Ya, Hatiku menjadi tentram setelah aku mendengar suara Adzan.
Dan seketika itu pula, Aku melihat bengkel di sebelah kiri jalan.