TENTANG PUNDAK DAN TEMPAT PULANG
Ada kalanya beban tidak harus selalu terlihat agar bisa dirasakan beratnya. Ia terjebak dalam arus yang menderu, terpaksa memikul tanggung jawab yang melampaui pundaknya sendiri. Ia terbiasa memberi, terbiasa menahan duka di balik senyum yang dipaksakan, sampai akhirnya ia lupa bahwa ia pun berhak untuk sekadar lelah.
Waktu belakangan ini terasa seperti musim yang enggan berganti. Ada sesuatu yang menekan napasnya setiap kali ia mencoba memejamkan mata di sunyinya malam. Mungkin itu tentang tanggung jawab yang membelenggu, atau tentang rumah—yang seharusnya menjadi tempat pulang yang hangat—justru terasa seperti asing yang dingin, tempat di mana ia dipaksa untuk selalu terlihat tegak.
Saat matahari menepi, ia masih berusaha merawat citra sebagai sosok yang bisa diandalkan. Namun, begitu pintu kamar terkunci dan dunia di luar sana mulai mati suri, pertahanannya runtuh. Ia menangis tanpa suara. Di sana, di antara dinding yang membisu, ia merasa seolah semestanya sedang perlahan retak, sementara ia tak memiliki pegangan. Kecemasan datang seperti bayang-bayang yang enggan pergi, menagih janji-janji masa depan yang kini tampak buram dan tak lagi berwujud.
Ia merasa terasing. Bukan karena ia benar-benar sendiri, melainkan karena ia merasa tak ada yang mampu menjamah seberapa dalam retakan yang ia simpan di balik dadanya.
Namun, di tengah retakan itu, masih ada satu ruang yang tetap terjaga. Ada satu tangan yang tidak menuntutnya untuk berlari, pun tidak menghakiminya saat ia memilih untuk berhenti. Tangan yang hanya ingin memastikan bahwa ketika dunianya sedang berantakan, ia tidak perlu memunguti kepingannya seorang diri.
Karena pada akhirnya, untuk menapaki badai, kita tidak selalu butuh kompas yang presisi. Kita hanya butuh seseorang yang bersedia duduk di samping kita, menunggui sampai air mata itu tuntas membasuh sesak, dan meyakinkan bahwa saat esok menjelang—meski segalanya belum kembali pulih—setidaknya ia punya alasan untuk kembali membuka mata.
~Ruangsenja

















