Entah kenapa saya benar-benar iri terhadap pria macam Soe Hok Gie. Bukan karena ia (hanya) menulis catatan harian yang lalu dibukukan dan ternyata laris dipasarkan. Bukan juga karena ia pandai dalam mendaki gunung. Bukan..bukan itu, tetapi saya iri terhadap kemampuannya dalam hal agitasi. Khususnya mengagitasi –merayu –lawan jenis. Agitasi yang baik serta romantis. Setelah menonton film “Gie” di tahun ketiga Sekolah Menengah Atas (saat itu dengan bodohnya saya kira film tersebut adalah sekuel kedua AADC –karena dibintangi Nikolas Saputra), saya baru ngeh siapa Soe Hok Gie itu. Dalam film tersebut, Gie digambarkan merupakan sosok yang kritis, keras kepala, pemikir, romantis, dan lelaki kaku yang gagap terhadap perempuan. Tunggu dulu, sepertinya mas Riri Riza salah jika membuat Gie ialah sosok yang gagap terhadap perempuan, saya pikir Gie adalah keterbalikannya. Gie adalah penggoda perempuan yang senang dan lihai menggebet banyak perempuan di kampusnya. Karena tercatat dalam buku berjudul Soe Hok Gie, Sekali Lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya, ada nama-nama perempuan seperti Yayuk Sutiati, Kartini Pandjaitan, Luki Sutrisno Bekti, dan juga Nessy Luntungan yang pernah dekat dengan Gie. Sederet nama perempuan itu dulu katanya adalah beberapa kembang kampus yang berhasil digebet sama Gie ini. Namun, dari perempuan-perempuan itu, tak ada yang diakui oleh Gie sebagai pacar hingga kematiannya di Gunung Semeru sana. Berengsek sekali bukan? Dari sini saja terlihat, bahwa Gie adalah pria yang senang nggebet perempuan. Dan di sisi lain, terlihat pula bagaimana ia sebenarnya sesosok pria yang lihai membuat banyak perempuan merasa nyaman sehingga akan tetap di sisinya. Dan salah satu kelihaiannya ialah merayu. Kepandaian Gie dalam merayu banyak perempuan yang membuat saya iri terhadapnya. Karena saya bukanlah pria yang pintar merayu perempuan, saya tak punya gebetan lebih dari satu. Stuck pada satu nama saja. Jika sudah cukup intens komunikasinya –antara saya dan gebetan saya itu. Saya akan langsung menembaknya. Walaupun hasilnya seringkali (dan selalu) nihil akan sorai sebuah penerimaan. Kenapa sih Gie kok hanya nggebet saja? Tahu kan rasanya nggebet dan digebet? Saat ketika sebuah ketidakpastian dan rasa penasaran bercampur menjadi satu. Menurut saya, seorang Gie sangat menginginkan kebebasan, salah satunya ialah kebebasan bergaul dengan siapapun –seenak udelnya . Karena mungkin saja jika ia telah berpacaran, pasti akan ada batasan pergaulan untuk menjaga hati si pasangan. Gie sepertinya tak mau ada batasan pergaulan. Atau karena Gie juga seorang aktivis? Karena saya melihat muncul kecenderungan bahwa seorang aktivis lelaki ialah seperti ini, pintar merayu perempuan dan lalu menggebetnya, namun untuk mengakui perempuan itu sebagai pacar, hal itu susah dilakukan, seperti ada tembok besar yang menghadang dan susah dilewati. Tembok yang memisahkan kebebasan dan batasan. Adakah seperti itu? Ada.. John Maxwell saja dalam penelitiannya untuk disertasi doctoral di Australian National University juga pernah secara khusus menyoroti hubungan Gie dengan gebetannya.“Kondisi emosi Soe Hok Gie dinodai oleh ambiguitas dan kebingungan selama berbulan-bulan ini ketika ia berjuang mengatasi perasaannya terhadap ketiga gadis yang telah menjadi bagian penting dari kehidupannya,” kata Maxwell ini. Gie bangga akan kejombloannya sekaligus kedekatannya dengan teman-teman perempuannya. Sebenarnya, dengan kepandaian merayu dan membuat nyaman perempuan, mudah saja bagi Gia untuk memacari satu, tiga atau keempat perempuan tersebut sekaligus. Namun Gie tak melakukannya. Gie, manusia yang bersyukur bisa mati muda itu meninggalkan kisah asmaranya hanya secuil. Namun, perlu diketahui dari memoar yang saya tulis ini bahwa Gie ialah sosok yang teguh pada aksioma “Jomblo adalah pilihan”. Dan tak pernah ditulis dalam biaografinya, bahwa Gie pernah ditolak oleh seorang perempuan. Tak pernah ada!! Gie pun (mungkin) tak akan pernah kesepian di Sabtu malamnya sebagai jomblo. Ia dengan brutal dapat membongkar mitos malam Minggu-nya. Entah itu dengan diskusi, naik gunung, ataupun ngedate dengan salah satu gebetannya. Dan saya iri akan hal itu (juga). *) Tulisan saya ketika saya (masih) jomblo