Buku Bagiku: Sejak Berkenalan Hingga Saat Ini dan Nanti Biasanya orang yang senang menulis itu berawal dari senang membaca. Belum pernah saya menemukan blogger atau penulis yang tulisannya ‘asyik’ tapi tidak dekat dengan buku.
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from China
seen from India
seen from United Kingdom

seen from China
seen from China
seen from India
seen from China
seen from Chile

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Oman
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Sweden
Buku Bagiku: Sejak Berkenalan Hingga Saat Ini dan Nanti Biasanya orang yang senang menulis itu berawal dari senang membaca. Belum pernah saya menemukan blogger atau penulis yang tulisannya ‘asyik’ tapi tidak dekat dengan buku.
Kopi Kecil(ku)
Kopi kecilkuuu, kopi kecilku, a a a a aaaa~ *nyanyi pake nada my little pony*
Kopi kecilku yang sudah tidak kecil lagi, aku tidak tahu apakah aku harus senang atau tidak. Kamu telah membuka cabang baru dan memperluas daerah kekuasaanmu yang dulu hanya sekotak kini tidak lagi sekotak. Penampilanmu juga telah didandani sedemikian rupa--entah oleh siapa-- sehingga ada perubahan yang cukup signifikan.
Aku tahu perubahan itu pasti, hanya saja di sini aku belum dapat menerima secara penuh perubahanmu.
Dulu dengan mudah aku dapatkan tempat duduk di sudut manapun dengan kedamaian yang menyertai, paling hanya suara mesin penyeduh kopi dan steamer susu serta blender. Dulu di setiap meja kayumu, aku dapati segelas 'kopi organik'. Dulu belum banyak orang yang mengetahui--atau mungkin menyadari-- keberadaanmu. Dulu dengan mudah sinar matahari senja menyusup ke dalam dirimu.
Namun kini, sulit rasanya untuk mendapatkan tempat duduk karena harus bersaing dengan pengunjung lain. Kini sulit ku dapati segelas 'kopi organik' di setiap meja kayumu, melainkan asbak rokok penuh puntung dan abu. Kini yang ku dengar percakapan orang-orang dan klakson kendaraan bermotor dari luar. Kini sinar matahari senja terhalang oleh tiang-tiang pondasi proyek pemerintah.
Harusnya aku senang karena kini telah banyak orang yang jatuh cinta akan pesonamu.
Mungkin aku harus belajar ikhlas untuk menerima keadaanmu yang sekarang dan mungkin nanti. Semoga kamu akan terus ada sampai diriku tiada.
.
.
.
. Mungkin atau harus, ya?
Hati yang meringis Jiwa yang menunduk Sampai kapan kau akan duduk diam? Agamamu banyak dilecehkan, sedangkan kau masih ongkang-ongkang kaki melihat dan mengomentari setiap pertunjukan. Mudah sekali kau menyalahkan, padahal kau paling susah menerima kritikan. Sampai kapan? Sampai kapan kau hidup dengan ketidak berdayaan? Sampai kapan kau hidup dengan hanya menilai orang? Tidakkah engkau lelah? Oranglain sudah berlari dengan amalan. Kau masih tetap nyinyir dan bangga akan diri yang merasa lebih. Oranglain sudah bisa hafal Quran, kau? Untuk tilawah saja masih kesusahan. Allah.. Bagaimana bila malaikat menjemput? Apa yang akan kau katakan? Apa yang akan kau pertanggungjawabkan? Untukmu.. Berdamailah dengan keadaan. Tutup matamu dari kejelekan orang. Luaskan hatimh untuk menerima kebenaran. Menunduklah, kau tidak selamanya benar. Bumi itu bulat, kalau harus bisa menaklukan dan memandang setiap sudut bumi? Mungkinkah? Maafkanlah! Jum'at 08.32 #BubuFayyadh #Rufadh #1m1c
Kaki Oke
Sebagai salah seorang mahasiswa yang menggeluti kancah perkolaborasian antara rekayasa dan sistematika, maka kepiawaian dalam menuangkan gagasan teoritik dan tematik namun masih dalam pagar adaptif sangatlah bergantung pada keseimbangan antara penggunaan otak kanan dan kiri. Sebagaimana hasil melansir dari National Geographic, bahwasannya otak kanan mengatur kinerja fisik bagian tubuh kiri dan vice versa. Di sisi lain, secara kecakapan otak-pun khalayak ramai tentunya memahami bahwa otak kanan berfungsi untuk memperdalam sifat-sifat impulsif dan bersifat refleksi seperti musik, kenyamanan visual, dan berbagai pergerakan impulsif serupa. Sementara itu, otak kiri memiliki daya guna utama dalam curahan logika dan segala hal yang berwujud sistematis dalam cangkir peradaban setiap individunya.
Meskipun demikian, terlepas dari tuntutan kecakapan saya sebagai seorang calon planolog ataupun mahasiswa, pada intinya setiap individu dianjurkan untuk memiliki kecakapan yang seimbang antara dunia otak kanan dan kiri. Latihan memang harus digiatkan dalam upaya penyeimbangan keduanya agar tidak terlalu condong ke salah satu. Dominansi cenderung terjadi terutama karena pergerakan motorik yang terlalu mengandalkan salah satu sisi organ penggerak tubuh. Guna menyelaraskan antara kemampuan yang tertinggal dengan dominan, maka kegiatan-kegiatan bertajuk stress-release seperti menonton film, bermain musik, menyanyi, atau menggambar akan membantu menyeimbangkannya.Namun, tanya pun tergiring ketika kemampuan bermusik ataupun menggambar dirasa nihil padahal ingin mengembangkan kecakapan otak kanan pada diri. Dalam melakukan penyeimbangan otak kanan terhadap otak kiri maka dapat dilakukan dengan kiat sederhana sebagaimana di bawah ini:
1. Gunakan mouse dengan tangan yang biasanya tidak digunakan untuk mendominasi segala kegiatan. Misalkan sebenarnya right handed person, tapi dalam rangka melatih otak kanan maka kebiasaan menggunakan mouse tersebut dapat diubah menjadi left handed.
2. Menggunakan jempol kiri untuk mengetik di handphone.
3. Selalu menanyakan "What if" pada setiap gagasan yang dicetuskan.
4. Belajar menulis secara berkala dengan menggunakan tangan kiri.
5. Memegang buku dan membalikkan halamannya dengan tangan kiri
Dan lain-lain hal kecil lainnya yang dapat menstimulan kinerja otak kanan serta pergerakan menggunakan organ tubuh penggerak bagian kiri. Dari pembiasaan diri, tentunya penyeimbangan kinerja otak akan membaik dan dapat membantu meningkatkan kreativitas dalam menuntaskan pekerjaan. Nah, jadi gitu ya. Yaudah, sekian.
Salam, kaki oke. Kanan-kiri oke.
Jejaka Produktif
[ Senin, 2 Januari 2017 ]
Selingan liburan peralihan tahun ini adalah suatu penjelajahan ala kadarnya yang dikemas dalam wujud analisis minimalis. Berbekal handphone pintar, bensin, motor dan nawaitu, maka terealisasikanlah niatan Jelajah Kampung (red: Jejaka) perdana ini (formalitas, nying, padahal biasanya juga buang-buang bensin). Latar belakangnya hanya karena kelemahan diri akan rendahnya memori untuk merekam estetika dan konektivitas jalanan Jogja, modal waktu berlebih, dan kehadiran satu sahabat yang selalu memotivasi dan menemani (let’s say hi to Boty). Sebenarnya seolah tidak begitu ingin tahu tentang cerita setiap kampungnya, tapi ketersesatan memaksa untuk mencari tahu. Dan saya sedikit suka cara itu, paksaan.
Syukur kiranya karena dianugerahi takdir oleh Yang Maha Kuasa untuk bermukim selama 20 tahun di salah satu bagian negeri dengan penuh sejarah dan heterogenitas demografi. Berjuta kampung pun menanti untuk disambangi. Sudah pastilah seluruh umat di Indonesia mengetahui kota mana maksudnya. Kota pelajar dan kota budaya sebagai julukan lawasnya, mungkin dewasa kini perlu ditambahkan titelnya sebagai kota atraktif nan kreatif. Jejaka kali ini mengunggah tema ‘produktif‘ karena memang hasrat yang sedang ingin mencari pasokan inspirasi berlebih. Bukan kali pertama memang bagi saya untuk menyusuri kampung ini. Namun baru kali ini saya mencoba untuk meniliknya lebih dalam dari sebelumnya.
A Happy Learner is a Return Learner
Sebagai awalan, tentu penulis ingin menjauhkan diri dari prakata bahwa “tidak terasa” sudah mencapai minggu ketiga Bulan Ramadhan. Toh, memang sebenarnya cukup berasa karena tahun ini juga mengejar berkah mandat akademis yakni kelulusan dari bangku strata-1, hehe. Namun, yang paling menarik setelah nanti Ramadhan selesai pastinya adalah pertanyaan, “what’s next?”. Apakah hasil tempaan diri pada bulan suci tersebut hanya akan berhenti sampai Idul Fitri semata? Mau maju, jalan ditempat, atau malah putar balik?
Melansir dari Calak Edu 3: Esai-esai Pendidikan 2012-2014 (Baedowi, 2015), bahwasannya sebagaimana bisnis, pelanggan yang bahagia adalah mereka yang kembali menjadi konsumen setelah lebih dari sekali bertransaksi. Hal yang hampir serupa pun dapat dikatakan terjadi pada konteks Ramadhan. Sebagaimana kita tahu bahwa Bulan Ramadhan tercipta untuk menjadi perfect timing bagi seorang hamba untuk belajar. Belajar berbagi, bersabar, dan juga mengikhlaskan. Tidak hanya dalam konteks ritual atau ibadah, tetapi juga dalam konteks sosial kemasyarakatan. The learning month, adalah sapaan akrab bagi saya pribadi untuk menyapa bulan Ramadhan yang hampir berlalu ini.
Namun siapa sangka, ternyata pelajaran kehidupan sejak awal hingga akhir itu terdapat di Bulan Ramadhan. Dengan perumpamaan utama bahwa kita mengetahui kapan berakhirnya hidup kita. Yaps, berlomba-lomba di awal untuk menggembor-nggemborkan semangat beramal di bulan penuh Rohmat, lalu ditengah-tengah mulai terlena dan hanya sebagian yang bersikeras untuk tetap berpegang teguh pada pendiriannya memaksimalkan proses di bulan suci. Hingga sampai di waktu-waktu terakhir bahwa niat baik akan berujung pada hasil yang baik pula dan Allah pun akan memberikan rahmat-Nya pada yang Dia kehendaki.
Sebagaimana suatu kebahagiaan yang hakiki bagi Muslim dan Muslimah, kedatangan Bulan Ramadhan selalu dirindukan dan begitu pula kepergiannya yang selalu dirayakan dengan perayaan kemenangan dan penyambungan kembali tali silaturahmi. Berharap akan adanya perbaikan diri setelah menjadi Fitri, kesalehan sosial dan ritual menjadi impian bagi setiap pribadi Muslim dan Muslimah.
Pada dasarnya, kebaikan Bulan Ramadhan sudah sewajarnya tidak hanya memperbaiki diri sendiri. Setelah datangnya Idul Fitri, maka jeritan hati di malam suci pun sepatutnya dapat membuahkan cermin sosial yang lebih baik. Dengan kata lain, menjadi pribadi yang saleh secara individual dan sosial. Tidak hanya mempedulikan ibadah sendiri, namun juga ibadah bersama ataupun sesama. Menurut Ahmad Boedowi, 2015, kesalehan sosial sesungguhnya secara simbolik ditandai dengan kesadaran untuk saling membuka diri, memberi sekaligus meminta maaf, membuka kembali keran-keran saluran komunikasi yang selama ini terhambat, baik sengaja maupun tidak sengaja.
Di sisi lain, kesalehan sosial yang diperoleh dari bulan suci ini menjadi tantangan bagi setiap Muslim dan Muslimah untuk dapat berlomba mempertahankan relasi spiritual dan sosial sebagai hablumminallah dan hablumminannas dalam menjalankan kewajiban untuk menyembah-Nya. Semua kembali pada deskripsi utama keterkaitan antara kesalehan sosial dengan Idul Fitri bahwa adalah keberanian untuk berekonsiliasi atau kembali pada kesadaran sepenuhnya bahwa manusia dalam hidupnya haruslah saling memaafkan dan bertindak sesuai Ridho-Nya karena hidup hanyalah titipan Tuhan. Itulah mengapa, kefitrian seseorang ditentukan dari frekuensi seberapa sering seseorang kembali belajar untuk menyadari kesalahan, bersikap baik dan saleh pada sesamanya juga pada Allah.
Menjadi a good learner adalah suatu tantangan terbesar bagi setiap Muslim ataupun Muslimah, sebagaimana sabda Rasulullas SAW yakni,
“Ada tiga hal yang membahagiakan, tiga hal yang merusak, tiga hal yang mengangkat derajat dan tiga hal yang menjadi pelebur dosa.
Tiga hal yang yang membahagiakan adalah takut kepada Allah baik dalam keadaan sendiri atau di depan banyak orang, sederhana dalam kehidupan dan kemampuan menyeimbangkan antara kerelaan dan amarah.
Adapun tiga hal yang merusak adalah sifat kikir yang berlebihan, mengikuti hawa nafsu, dan bangga pada dirinya sendiri.
Tiga hal yang mengangkat derajat orang yang melakukan adalah mengawali mengucap salam kepada sesama, membagi makan pada tamu dan orang yang lapar dan menjalankan shalat malam sementara orang lain sedang tidur.
Tiga amalan yang mampu melebur dosa adalah menyempurnakan wudlu hingga melebihi batas anggota yang harus dibasuh, melangkahkan kaki untuk menjalankan shalat berjamaah dan menunggu masuknya waktu shalat di masjid.”
Memang benar bahwasanya semua dianggap sah-sah saja selama kita masih memiliki predikat sebagai seseorang yang tengah belajar. Namun, predikat tersebut hanya berbalut pembenaran, bukan kebenaran. Maka dari itu, evaluasi utama pada satu bulan jika nanti setelah Idul Fitri berlalu adalah pertanyaan, “Apakah kita menjadi bagian dari suatu kata yakni 'perbaikan'?”.
When I First Met You
When I First Met You
Pertama kali tau kamu akan datang, itu sekitar bulan Juni 2016. Semua persiapan yang kamu butuhkan sudah disiapkan dengan sebaik mungkin. Bulan Desember – Januari, mulai melihat rupamu walau hanya dari layar monitor kotak yang tergantung tenang di tembok. 14 Maret 2017, adalah hari yang sangat dinanti, itu adalah tanggal yang diperkerakan tentang kehadiranmu. Semua hal dipersiapkan, dan semua…
View On WordPress
"Teruntuk Kau yang telah bahagia dengan sosok yang lain"~ . . Yapzzz, Benar banget, Surat kali ini teruntuk mantan. Enggak pa pa kan yah~ . Sebelum aku bercerita panjang lebar, izinkan aku mengetahui kabarmu. Bagaimana kabarmu, ntan?? Haha Ku rasa hari ini jauh lebih baik dari hari hari sebelumnya. Tawamu pun terlihat lebih tulus. Apakah kali ini kau benar benar jatuh cinta ? Atau sama dengan kisah kita, kau hanya ber-akting. Ahh kenangan tentang mu kini berlarian di otakku. Sialan!! . Bersamaan dengan surat ini aku hanya ingin mengucapkan selamat. Bukan untuk kebahagiaan kalian, tetapi atas gelar sarjana yang kau raih di bulan kemarin. Aku pikir hubungan kita akan bertahan minimal sampai hari itu, sampai acara wisudahmu. Setidaknya aku bisa bertemu ibumu. Melihat senyumnya yang tulus, tidak seperti senyummu. Arrgghhh . . Aku pikir takan ada seseorang yang mendampingi mu, sebab perpisahan kita belum cukup sebulan. Aku pikir kau akan meminta berbaikan, seperti biasanya. Bagaimana mungkin kau bisa mendapat penggantiku secepat itu? Atau jangan jangan, selama ini,,,, Ah sudahlah. Kecurigaanku hari ini tak beralasan. Aku tak lagi berhak. . . Sosok wanita berkaki jenjang yang mendampingimu waktu itu berdiri di antara kau dan keluargamu. Kalian terlihat begitu bahagia. Sementara disini aku masih menyimpan perih, merawat luka luka. Wanita itu terlihat akrab dengan ibumu layaknya seorang calon menantu dan calon mertua. Berlaku seanggun mungkin di depan ibumu. . . . . Mengapa melihat mu bahagia rasa rasanya sulit sekali. Pernahkah kau merasa tertipu oleh cinta? Seperti ada banyak kebohongan di dalamnya. Dan aku baru mengetahui segalanya setelah ia bukan milikku lagi. . . . Kecurigaanku terbukti, setelah wisudahmu kemarin, hari ini kau mengikat janji suci pernikahan dengannya. Semoga hubungan yang kau bangun kini tidak di dasari oleh kebohongan. .. . . Selamat Berbahagia~ . . ------- Lupa kalo udah februari gini saatnya nulis surat, malah sibuk nulis puisi. Awalnya pengen pasang foto mantan, tapi mengingat telah ada sesseorang yg mendampinginya,ah gak jadi deh . . #suratcintafebruari #suratuntukmantan #poscinta #30harimenulissuratcinta #1m1c #GerakanAntiGegoleran