Ternyata yang mengguncang bukan perut yang kosong, tetapi hati yang masih penuh dunia; Ramadan datang bukan sekadar menahan makan, melainkan meruntuhkan berhala-berhala cinta selain-Nya.
seen from United Kingdom
seen from China
seen from China

seen from Japan

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Saudi Arabia
seen from Singapore

seen from India
seen from United States

seen from France

seen from Japan
seen from Kosovo
seen from United States
seen from Spain
seen from Lithuania

seen from United States
seen from Japan
Ternyata yang mengguncang bukan perut yang kosong, tetapi hati yang masih penuh dunia; Ramadan datang bukan sekadar menahan makan, melainkan meruntuhkan berhala-berhala cinta selain-Nya.
Renungan Pribadi Soal Takwa
Disclaimer: ini bukan tulisan edukasi tentang konsep takwa. Ini sepenuhnya refleksi pribadi saya. Tidak disarankan untuk menjadikannya referensi. Mohon diproses dengan pikiran sendiri, tidak ditelan bulat-bulat. Jika tergelitik, silakan lakukan penelitian dan perenungan sendiri.
* * *
Pasti kita udah sering denger terminologi “takwa”.
Kalau ditanya apa itu takwa, kebanyakan orang akan menjawab: “Menaati segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.”
Saya ngga pernah puas dengan definisi itu. Maaf ya, izinkan saya jujur secara brutal, definisi itu normatif dan ngga inspiring. Ngga menggugah selera untuk bersemangat mendapatkannya. (Pahami bahwa saya bukan bilang takwa itu ngga menarik, tapi pemaknaan/penafsiran kita atas konsep takwa yang belum memuaskan).
Iya, menurut saya, kalau sesuatu itu penting menurut sunnatullah (atau hukum alam, versi bahasa universalnya), maka secara alamiah pasti kita akan tertarik ke arah sana. Maka, saya curiga, jangan-jangan ada definisi yang lebih dalam, lebih menggugah, lebih membuka kesadaran daripada yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Misalnya, siapa sih orang waras, berakal yang dalam hidupnya ngga pernah bertanya “Kenapa aku ada?”, “Untuk apa aku ada?”, “Apa yang penciptaku inginkan dengan menciptakan aku ke alam ini?”. Saya percaya ini pertanyaan yang universal, yang kalaupun ngga diajarkan di sekolah, secara alamiah kita akan mempertanyakan ini, cepat atau lambat.
Pertanyaan-pertanyaan itu penting. Mereka akan mendorong kita mencari Tuhan, memahami diri kita, mencari petunjuk dari Sang Pencipta--yang semua jawabannya sudah dipersiapkan oleh Allah untuk kita temukan. Karena itu, Allah sudah tanamkan stimulusnya berupa rasa penasaran yang instingtif. Kita tertarik untuk mengenali pencipta kita secara alamiah.
Nah, takwa itu disebutkan di berbagai ayat Al-Quran, menjadi tujuan dari berbagai perintah--yang salah satunya puasa di bulan Ramadhan, maka pastinya penting. Kalau penting, pastinya insting alamiah kita akan bereaksi secara positif (tergugah, terinspirasi) jika kita memahaminya dengan cara yang seharusnya.
Temuan Saya Akan Makna Takwa
Singkat cerita, saya menemukan definisi takwa yang memuaskan bagi hati saya. Saya menemukannya dalam tafsir Al-Quran “The Message of the Quran” karya Muhammad Asad. Definisinya:
Kesadaran akan kemahahadiran-Nya dan keinginan seseorang untuk membentuk eksistensinya berdasarkan kesadaran ini.
Atau sederhananya, takwa adalah “kesadaran akan hadirnya Allah”.
Buat saya, definisi ini lebih memuaskan daripada yang selama ini saya terima. Coba kita tempatkan kedua definisi takwa dalam konteks perintah puasa Ramadhan.
Dalam definisi takwa pertama, kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dalam definisi takwa kedua, kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan agar kita selalu sadar akan kehadiran Allah.
Kita tempatkan juga kedua definisi takwa itu dalam konteks ayat permulaan Al-Baqarah.
Dalam definisi pertama, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan.
Dalam definisi kedua, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang sadar akan kehadiran Allah. Yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan.
Gimana?
Apa lebih bisa dipahami? Apa lebih membuka kesadaran? Apa lebih menggugah? Kalau buat saya, iya banget.
Contoh Implementasi Pemaknaan Takwa
Ketika berpuasa, kita bisa aja minum atau ngemil di siang hari, selama ngga ada manusia yang liat. Tapi yang menahan diri kita apa? Kesadaran akan hadirnya Allah, yang mungkin ngga begitu kita ingat kalau kita ngga puasa.
Ketika berbuka, kita seneng banget tuh, kita berdoa sebelum berbuka, “Ya Allah, terimalah puasaku dan segala amal ibadahku hari ini”. Lagi-lagi, kita distimulasi untuk menghadirkan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan ini disaksikan oleh Allah.
Dari situ, sebenarnya kita bisa lihat bahwa menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (khususnya shaum Ramadhan) adalah stimulan untuk membangun kesadaran akan kehadiran Allah.
Dengan syarat, ketaatan dalam perintah dan larangan-Nya dilakukan dengan benar ya: kalau shalat khusyu’, kalau puasa ikhlas (mindful, aware, niat dari dalam hati), kalau sedekah bukan untuk ngebuang recehan.
Sebaliknya, kesadaran akan kehadiran Allah juga akan memperkuat kemampuan seseorang untuk menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (”Oke, mau menghadap Allah nih, masa aku shalat pake baju bekas bobo?”). Jadi, saya pikir ini seperti continuous feedback loop.
Tips Mengasah Kesadaran Akan Kehadiran Allah
Oke, meskipun ini perenungan pribadi, karena ini dipublikasikan maka saya tetap harus bertanggung jawab menutupnya dengan baik.
“Mengasah kesadaran akan kehadiran Allah” adalah closing yang berat, tapi paling engga saya bisa bagikan beberapa usaha saya untuk melatihnya.
Pertama, bangun mental model hubungan antara kita dan Allah yang lebih personal. Alih-alih berpikir bahwa kita cuma satu makhluk yang ngga signifikan dan mungkin ngga Allah pedulikan karena Dia “sibuk” dengan alam semesta dan manusia lain yang istimewa, ingat bahwa Allah juga Maha Dekat, Maha Tahu, Maha Mendengar, Maha Menyayangi, Maha Memperhatikan sehingga kamu bisa berkomunikasi secara personal dengan Allah.
Dia tidak seperti manusia yang kalau banyak kerjaan pusing dan skip, Dia menunggu kamu untuk datang kepada-Nya. Berkomunikasi, berterima kasih, meminta maaf, berharap, menangis.
Ingat juga bahwa Dia available setiap waktu, ngga cuma di waktu shalat--misalnya. Lagi kerja, lagi ngasuh anak, lagi beberes rumah; lagi senang, lagi marah, lagi sedih; kamu bisa berkomunikasi dengan Allah tentang hal seremeh apapun.
Kedua, pahami bacaan dan doa-doa dalam ibadah. Iya, misalnya bacaan shalat, coba dipahami. Caranya jangan cuma baca artinya secara keseluruhan, tapi pelajari kata per kata.
“Rabbi”--wahai Tuhanku, “ighfirli”--ampuni dosaku, “warhamni”--sayangi aku, “wajburni”--cukupilah aku, “warfa’ni”--tinggikan derajatku, “warzuqni”--berilah aku rezeki, “wahdini”--berilah aku petunjuk, “wa’afini”--sehatkan aku, “wa’fu’anni”--maafkanlah aku.
Bisa pelajari juga akar katanya, misal “ighfirli” dari kata “ghafara”, yang artinya “mengampuni”, asal maknanya “menutup”. Wah ini bisa didalami lebih jauh lagi, silakan cari sendiri ya.
Sedikit belajar Bahasa Arab, biar setiap kita mengucapkan doa dalam shalat, hati kita tahu betul kita sedang berkomunikasi apa dengan Allah. Biar setiap beristighfar, bertasbih, bertahmid, hati kita benar-benar mean it.
Ketiga, sering-sering mikirin what this life is all about. Bayangin setelah membaca ini kamu terkena serangan jantung lalu meninggal, kamu ngerasa siap apa engga? Kalau engga, kenapa? Karena ngga ada amal yang bisa dibanggakan? Kalau gitu itu PR kamu, segera bikin amal yang bisa kamu banggakan saat dihisab nanti.
Atau karena banyak dosa? PR kamu adalah taubat + mengubur dosa-dosa dengan amal baik yang banyak.
Kalau ingat bahwa kita belum siap dihitung amal dan dosanya di hadapan Allah, kita jadi bisa melihat apakah karir, bisnis, investasi yang kita upayakan itu adalah sarana mempersiapkan diri atau menjadi distraksi dari apa yang benar-benar penting.
Coba bikin daftar yang harus kamu siapkan agar jika suatu hari kamu terbaring di rumah sakit, sadar ga lama lagi kamu akan mati, hati kamu ngerasa tenang dan siap menghadap Allah, seperti yang dideskripsikan di Al-Fajr:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”
Misalnya, jika profil kamu adalah seorang ayah dan suami:
1. Sedekah rutin untuk anak yatim (misalnya ini amal andalan kamu) 2. Istri dan anak yang siap ditinggalkan secara mental dan bertekad untuk menyusul saya di surga (melanjutkan berbagai amal sholeh sepeninggal kamu) 3. Rumah untuk anak dan istri biar mereka punya tempat bernaung 4. Passive income untuk menafkahi keluarga meski saya ngga ada, biar mereka ngga susah dan menyusahkan orang lain (3 dan 4 sekilas materialistis, tapi tujuannya bernilai amal sholeh)
Itu daftar simplistik dan contoh aja.
Poinnya adalah sering-sering melatih diri kita mengingat apa yang paling esensial dalam hidup (yaitu siap ketika sudah saatnya kita menghadap Allah) dan mengkalibrasi terus menerus kesibukan kita supaya selalu dalam kerangka membuat Allah ridha sama kita.
So, mari kita membangun, mengasah, dan menjaga kesadaran kita akan ke-Maha-Hadiran Allah.
Wallahu’alam.
Puasa itu ujian
Salah satu hal yang bisa kita pelajari dari berpuasa ialah, kita bisa belajar bahwa puasa itu adalah bagian dari ujian. Sebagaimana ujian yang Allah turunkan selalu ada hikmahnya, maka percayalah, rasa lelah dan beratnya berpuasa yang kita rasakan, akan menuai hikmah kelak, jika kita jalani dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Apa hikmah dari ujian puasa yang kita jalani dengan kesabaran dan keikhlasan?
Bukankah Allah katakan, bahwa orang yang berpuasa doanya tidak akan ditolak? dan bukankah orang yang selalu berpuasa disiapkan satu pintu khusus di surga, yaitu pintu Ar rayyan? Dan lagi, bukankah orang yang berpuasa itu diampuni segala dosanya yang telah lalu apabila berpuasa dengan mengharap pahala dari-Nya?
TENTANG PUASA
berilmu dulu, sebelum beramal
series kesehatan dan pembatal puasa ~
https://muslimafiyah.com/ringkasan-pembatal-puasa-kontemporer.html
Berikut ringkasan dari pembatal puasa di zaman modern, para ulama kontemporer telah membahasnya
*A. Mengenai suntikan*
Perlu diketahui suntikan ada tiga jenis:
1.Suntikan melalui kulit (Intra cutan) misalnya suntikan Insulin: TIDAKmembatalkan puasa.
2.Suntikan melalui otot (Intra muscular) misalnya suntik antihistamin dan beberapa jenis vaksinasi : TIDAK membatalkan puasa.
3.Suntikan melalui pembuluh darah (intra vena) misalnya antinyeri, infus dan vitamin.
Maka ini dirinci:
1.Suntikan bukan makanan misalnya antinyeri dan antihistamin : TIDAK membatalkan puasa.
2. Suntikan yang mengandung makanan atau zat makanan misalnya suntikan glukosa atau infus : MEMBATALKAN puasa.
*B. Memberikan donor darah dan menerima transfusi darah*
- Memberikan donor darah: TIDAKmembatalkan puasa.
- Menerima transfusi darah: MEMBATALKAN puasa (termasuk di dalamnya cuci darah dengan menerima darah dari orang lain)
*C. Mengenai Bau Mulut orang puasa*
Sebagian orang salah paham, yang benar bahwa bau mulut orang puasa berasal dari uap perut yang naik ke atas, bukan dari bau mulut. Ini sudah dibuktikan dengan ilmu kedokteran dan penjelasan ulama. Sehingga disarankan tetap bersiwak atau membersihkan gigi/mulut ketika berpuasa.
*D. Merokok bisa MEMBATALKAN puasa*
*E. Inhaler dan nebulizer TIDAK membatalkan puasa*
*F. Celak, Lipstik (pelembab bibir) dan make-up TIDAK membatalkan puasa*
*G. Pembatal puasa terkait dengan hidung*
- Tetes hidung TIDAK membatalkan puasa.
- Semprot hidung TIDAK membatalkan puasa.
*H. Pembatal puasa terkait dengan Mata*
Tetes mata TIDAK membatalkan puasa.
*I. Pembatal puasa terkait dengan Telinga*
- Tetes telinga TIDAK membatalkan puasa.
- Bilas Telinga (misalnya membersihkan kotoran/serumen) TIDAK membatalkan puasa.
*J. Memakai obat kumur TIDAK membatalkan puasa asalkan dijaga agar tidak tertelan*
*K. Menelan sisa makanan dengan tidak sengaja TIDAK membatalkan puasa*
*L. Boleh berobat ke dokter gigi, suntikan, obat dan darah atau yang tidak sengaja tertelan TIDAK membatalkan puasa*
*M. Sakit kemudian meninggal di Bulan Ramadhan, maka statusnya puasanya:*
-Hutang puasa Ramadhan secara umum tidak diqadha, tetapi bayar fidyah. Karena pendapat terkuat qadha puasa hanya untuk puasa nadzar.
– Jika sakit dan meninggal di tengah bulan Ramadhan, tidak ada hutang puasa dan tidak ada fidyah
– Jika sakit di bulan Ramadhan tidak sempat meng-qadha (tidak sengaja melambatkan), yaitu sempat sembuh sebentar ketika Ramadhan selesai , atau sempat meng-qadha tetapi baru sebagian. Maka sisanya tidak teranggap hutang puasa dan tidak ada fidyah
– Jika sakit di bulan Ramadhan kemudian sempat sembuh dan sengaja melambatkan qadha. Keluarganya/walinya membayarkan fidyah.
*N. Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium TIDAK membatalkan puasa*
*O. Persediaan darah di PMI menipis ketika bulan Ramadhan*
Memberikan donor darah tidaklah membatalkan puasa. Untuk menangani masalah ini perlu kerjasama antara pemerintah, tokoh agama dan tenaga kesehatan. Perlu ada sosialisasi dari pemerintah dibantu dengan tokoh agama dan eksekusi yang baik dari tenaga kesehatan ketika bertugas. Semoga permasalahan terbatasnya stok darah selama bulan Ramadhan tidak terjadi lagi. Sehingga membuat tenang para petugas medis dan bisa memberikan bantuan medis secepatnya kepada pasien.
*P. Cara puasa orang terkena penyakit epilepsi*
Jika sedang kambuh, puasanya bisa dibatalkan. Jika sadar dan tidak kambuh meng-qadha puasa Ramadhannya. Jika tidak mampu karena seringnya kambuh, bisa membayar fidyah saja.
*Q. Vaksinasi di bulan Ramadhan*
Suntikan vaksinasi TIDAK membatalkan puasa. Vaksinasi hukumnya mubah dan secara kedokteran bermanfaat
*R. Pembatal puasa terkait dengan anestesi (pembiusan)*
1. Anestesi melalui hidung dengan menghirup gas anestesi TIDAK membatalkan puasa
2. Anestesi kering (akupuntur Cina) dengan menggunakan jarum kering TIDAK membatalkan puasa.
3. Anestesi melalui suntikan. Sudah dibahas di pembahasan suntikan..
Mengenai hilangnya kesadaran selama anestesi:
1. tidak sadar sehari penuh (selama waktu diwajibkan puasa), puasanya TIDAK sah
2. tidak sadar hanya beberapa saat (tidak penuh selama waktu diwajibkan puasa), puasanya SAH
*S. Pemeriksaan Intravagina dan obat Intravagina TIDAK membatalkan puasa dan tidak perlu mandi wajib (mandi junub)*
Ringakasan dari buku “Fikh Kesehatan Kontemporer Puasa Ramadhan” terbitan Kesehatan Muslim
@Gedung Radiopoetro, FK UGM, Yogyakarta Tercinta
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com
silahkan like fanspage FB dan follow twitter
https://muslimafiyah.com/ringkasan-pembatal-puasa-kontemporer.html
➖➖➖
Semoga kamu (aku) tidak termasuk orang yang mempercayai dia melebihi Dia. Semangat senin! Yuk shalawatan, allahummah shalli'alaa sayidina Muhammad wa'alaa ali sayidina Muhammad. 22/5/16 . . . wirdatrihasfi.wordpress.com #senandungrasa #ramadhan #day24 #shaum #quote #selfreminder #ntms #dakwah #islam #muslim #muslimah #quote #writer #blogger #follow @wirdaily
Tadarus di Bulan Ramadhan
Sehabis tarawih, di masjid-masjid atau mushalla-mushalla sering menyelenggarakan tadarusan, yaitu pembacaan Al-Qur’an biasanya hingga hampir tengah malam. Pembacaan ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, namun juga anak-anak. Kegiatan tadarusan ini, terkadang dilakukan secara bergantian, yaitu seorang membaca dan yang lain menyimak, atau seorang membaca, tanpa ada yang menyimak, namun…
View On WordPress
Mengejar ketertinggalan
Dear..
udah masuk sepertiga akhir bulan Ramadhan nih.
Apa kabar duapertiga Ramadhan kemarin, aman ga?
Sepertinya belum maksimal karena dikejar rutinitas ya?
Sekarang udah mulai senggang kan waktunya? atau malah makin sibuk gara-gara banyak ajakan bukber? hehe.
😭😭 😭
Dear..
Mumpung masih ada kesempatan, jangan disia-siain ya..
Banyak loh penghuni kubur yang pengen banget balik ke posisi kita saat ini 😭
Jangan sampai nanti nyesel di akhir..
. . .
Tertusuk banget sama quote Imam Al-Ghazali yang satu ini,
Kenapa Allah masih menghidupkan kita hari ini? "Karena dosa kita masih banyak dan Allah masih mengizinkan kita untuk bertaubat"
#dasaraku dosa masi banyak, masi bisa haha hihi. Mintanya surga tertinggi, tapi mo berbuat baik masi suka nanti-nanti :(
23 Apr '22 | 9.04 AM