Surat Terbuka (Untuk Tuan Kedua)
Sebelumnya saya tegaskan terlebih dulu, bahwa saya menulis ini bukan karena saya merindukan kamu, bukan karena saya ingin merusak hubungan yang kamu jalani sekarang.
Saya tahu suatu saat kamu akan membaca ini, atau bahkan sekarang kamu diam-diam mengamati. Jangan dulu murka dengan apa yang saya lakukan ini. Semata, saya hanya terlalu lelah karena semua orang masih saja membahas kisah kita. Semua orang masih saja menghubungkan kamu dengan saya. Padahal dunia kita pun berubah, kamu yang sudah menjalani hidup dengan beberapa wanita, dan saya yang masih menjalani hidup dengan seorang lelaki.
Saya akui saya pernah bahagia hidup bersama kamu. Tepatnya dua tahun tiga bulan tiga hari, hidup saya lebih berwarna karena kamu. Melakukan hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, belajar banyak hal tentang hidup, memahami sosok yang begitu egois namun tetap begitu menyayangi.
Rasanya nyaman menjadi bocah yang hanya memikirkan diri sendiri, rasanya bahagia setiap hari tertawa hingga mentari bersembunyi. Saya yakin ketika membaca ini kamu mengingatnya tanpa bersusah payah. Karena ini memang lekat dalam ingatan kita. Dua bocah yang mencoba memahami hati, menepati janji, dan menjaga setia.
Kali ini saya sedang tertawa, kamu tau karena apa? Karena mengingat kita pernah sangat tak dewasa. Ketika bahagia, waktu seakan bukan penghalang. Kita bisa menghabiskan waktu dari pagi hingga malam menjelang. Duduk bersama, bercerita bersama, makan bersama, keliling kota. Ketika datang masalah, segala kata keluar tanpa kontrol. Apapun bahkan bisa rusak hanya karena masalah kecil yang terlalu dibesarkan. Muncul segala curiga, ketidak percayaan, kebohongan, kejenuhan.
Hingga akhirnya kita dipisahkan jarak yang membentang. Masalah datang lebih dari sebelumnya. Kita harus memutar otak, mencari hari kosong untuk sekedar bertatap muka. Bukan hal yang mudah untuk kita. Meski jarak tak terlalu jauh, namun untuk kamu dan saya ini bisa menjadi penghalang besar. Sebelumnya setiap hari, setiap waktu kita bisa bertemu. Namun harus menjalani kehidupan yang berbeda, kita perlu waktu untuk beradaptasi tanpa saling menemu.
Tanpa banyak yang tahu, saya yang hampir setiap minggu harus rela menempuh perjalanan dua jam lamanya. Menyelesaikan tugas sebelumnya agar menyisakan satu hari kosong untuk menemui kamu di Surabaya. Tak banyak yang tahu, saya harus bersiap diri setelah subuh, bergegas berangkat ke terminal agar sesampainya saya di kotamu tak terlalu siang, agar lebih banyak waktu yang bisa kita habiskan bersama. Banyak yang mengira saya bodoh, saya terlalu murah. Persetan dengan omongan orang. Yang saya tau ketika itu, hanya untuk menemui bahagia saya, kamu.
Tiba dimana hari yang tak akan pernah saya lupakan. Namun tenanglah, saya sudah memaafkan. Hari dimana saya harus percaya dengan apa yang saya lihat, hari dimana saya kira kamu adalah satu-satunya sosok yang mampu saya jaga dengan setia, hari dimana saya kira kebahagiaan akan muncul tanpa banyak usaha. Tepat di lilin sembilan belasmu, saya mampu membuka mata. Di depan saya ada wanita manis yang ingin kamu jaga dengan cinta, wanita berparas ayu yang memalingkan hatimu.
Apa yang salah dengan hidup saya? Ketika saya rela menuruti segala yang kamu katakan, kamu tega mencampakan saya tanpa alasan. Sakit? Iya, karena terlalu sakitnya bahkan saya sudah tak mampu menangis. Karena terlalu sakit saya hanya mampu menertawakan hidup. Bahkan tak cukup berhenti sampai di situ. Kamu masih mempercayai saya untuk mencarikan kado wanitamu. Naif? Iya, karena saya masih saja mau bersusah demi bahagia lelaki macam kamu. Selesai sampai di situ? Tidak, pada akhirnya kamu mencari saya untuk menceritakan keluhmu perihal wanitamu. Saya mencoba rasional, membunuh rasa benci saya dan berusaha menganggap kamu sebagai teman. Saya dengarkan apa yang kamu katakan, saya berikan masukan tanpa menengok ke belakang.
Dan sudah cukup sampai di situ, saya memutuskan untuk memulai hidup yang baru, tanpa kamu. Tanpa mengingat masa lalu. Tanpa melihat saya dan kamu pernah bertemu. Saya kira itu adalah akhir hidup saya dengan kamu. Saya kira setelah itu orang akan melihat saya tanpa melihat kamu.
Bertahun-tahun kisah itu berakhir, namun masih saja orang melihat ada kamu di belakang saya. Saya yang mencoba berubah sekarang, harus rela dipandang dan dikaitkan dengan kamu yang dulu. Seakan semua orang tak percaya, seakan semua orang masih ragu dengan kehidupan saya yang baru.
Bagaimana saya benar-benar bisa hidup tanpa kamu? Bagaimana saya harus mengatakan bahwa saya benar-benar berbeda dengan yang dulu? Bagaimana agar orang percaya bahwa kehidupan saya tak semunafik yang dulu? Tolong ajari saya. Karena bertahun-tahun saya mencoba, saya gagal membuat orang percaya. SAYA GAGAL.
Ajari saya, jika kamu tahu bagaimana caranya. Ajari saya untuk tak jijik dengan hidup saya. Ajari saya, jangan hanya diam memandang.
Untukmu, Tuan kedua. Semoga kamu masih ingat. Hari itu tepat dimana kamu membuat saya berpikir bahwa pengorbanan saya sia-sia.
21-April-2014 Kembalilah pada hari itu.














