Surat untuk Rinjani (Bagian 2)
Untuk Rinjani, Kudengar kau sudah menemukan rumah barumu. Bagaimana, kau rasa nyaman?

seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from France
seen from Kyrgyzstan
seen from Kyrgyzstan
seen from Kyrgyzstan
seen from United States

seen from T1

seen from T1
seen from Germany
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from China
seen from Kyrgyzstan

seen from Malaysia

seen from Kyrgyzstan

seen from Netherlands
seen from Iraq

seen from United States
seen from India
Surat untuk Rinjani (Bagian 2)
Untuk Rinjani, Kudengar kau sudah menemukan rumah barumu. Bagaimana, kau rasa nyaman?
Lagu ini berulang kali di putar di tahun 2020. Pertama kali dengar "oh enak nih lagu nya". Gak pernah kepikiran kalau lagu ini bakalan punya memori tersendiri. Memori nya apa?? Menjadi saksi perjalanan seseorang yang tengah berjuang demi sebuah kesembuhan. Seseorang yang ku kenal kuat, ternyata harus berada pada titik terendah nya disaat dia sedang berjuang untuk mewujudkan mimpi nya. Allah seperti menegurnya untuk sedikit beristirahat sembari menghapus dosa-dosanya dimasa lalu. Perjuangan nya melewati sakit yang tidak mudah ini menjadi cerita tersendiri. Dia yang biasanya diam menjadi lebih banyak bercerita, memberi kabar perkembangan nya setiap kali konsul pada dokter, memberi tahu apa saja tindakan yang harus diambil agar penyakit nya segera hilang. Sebagai partner bercerita tentu rasa khawatir itu tak bisa disembunyikan, tapi tetap berusaha tegar, menguatkan dia, mendoakan dan memberi semangat bahwa dia pasti akan sembuh. Dia pasti akan baik-baik saja. Ada beberapa kalimatnya yang masih terngiang di benak ku : "hari ini aku ketemu dokter, tapi datang nya cuma sendiri" "doakan aku biar sembuh, aku mau makan lagi" "aku harus disinar, 30 kali kata dokter nya. Nanti aku bakalan hitam" "aku udah kurus, tiap hari minum jus terus" "obat sariawan yang ampuh apa? Aku banyak sariawan nya abis disinar, mulut ku perih" Lagu ini selalu menjadi penguat ku setiap kali dia usai bercerita. Karena aku tahu dia butuh dikuatkan, butuh didampingi, butuh didengar, butuh didoakan. Dan "Melukis Senja" benar menjadi mantra untuk menguatkan aku ketika mendampingi mu. Karena aku gak bisa dan gak boleh nangis setiap kali mendengar dia bercerita. Bagi ku ini sebuah perjuangan, entah bagi mu. Apa kabar kamu? Sudah sembuh kan? Jaga kesehatan mu, karena aku telah usai menemani perjuangan mu. Tinggal kamu yang harus berjuang sendirian. Terima kasih, Melukis Senja by budi doremi #30haribercerita #30hbc2107 @30haribercerita https://www.instagram.com/p/CJvhs9xjMiA/?igshid=1fwzmr73xx9ya
30hbc21
setiap saya menulis, baik saya posting atau tidak, saya pasti pernah, barang sekali, menyanjung pantai. menuliskan keindahannya, menceritakan kedamaian dan ketenangan ditengah gaduh yang ia rasa, pun, memberi tahu bagaimana saya bisa cinta dengan pantai. . kecintaan saya terhadap pantai, seolah tidak pernah habis. kadangkala bagi saya, pantai itu seperti seseorang, yang ingin sekali didengarkan keluh kesahnya, tanpa perlu dikomentari, tanpa perlu dinilai, tanpa perlu dinasehati. . jika biasanya saya datang untuk kebahagiaan diri sendiri, maka saya ingin, sesekali datang untuk membantunya tenang. mendengar setiap keluh kesah, memahami apa yang terjadi, hingga semua kembali baik-baik saja.
Kita seringkali menuntut kesempurnaan. Kepada diri sendiri, juga kepada orang lain. Orangtua menuntut nilai yang sempurna kepada anak. Atasan menuntut pekerjaan yang sempurna kepada staffnya. Suami atau istri menuntut pasangannya harus sempurna. Bahkan diri sendiri menginginkan melakukan segalanya sempurna. Menjadi perfeksionis bukan suatu kesalahan. Tapi harus diiringi dengan realistis. Bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna selain Rabb seluruh alam. Bahwa manusia memang banyak berbuat salah. Rabb kita memang memerintahkan untuk tampil sempurna. Tapi Dia tau, manusia tidak mungkin bisa sempurna. Maka kalau tidak bisa, berusahalah dekati kesempurnaan. Betapa baiknya Allah ke kita. Karena Allah tau banget kemampuan kita, maka apa-apa yang Dia kasih, baik ujian atau amanah, tidak dibebankan melebihi kemampuan. Dia minta kita tampil maksimal, bukan sempurna. Hanya saja yang perlu digarisbawahi, usahakan semampunya, bukan semaunya. Tidak hanya untuk urusan dunia, lakukanlah juga semampunya, sampai batas kemampuanmu untuk istiqamah dalam beribadah. Ketika kemampuan kita hanya 45 persen, lalu teman kita 99 persen. Kalau dengan 45 persen itu kita sudah memaksimalkan, maka belum tentu kualitas hidup kita kalah dari teman kita. Karena kalau sudah berjuang semaksimal mungkin, insyaa Allah kita termasuk orang-orang yang beruntung. #30haribercerita #30hbc21 #30hbc2107 (at Sultanate of Oman) https://www.instagram.com/p/CJxi3lvl07E/?igshid=19z038tztoyqf
semoga, antara kita, semesta memberikan cerita terbaik versi kita (sekarang)
[7/30] ; cerita singkat menuju pertemuan.
26 Oktober 2019
Rencana kami hari itu adalah pagi kontrol ke puskesmas, terus lanjut ke acara reuni keluarga. Lalu pulang dan istirahat karena malamnya suami baru pulang pukul 11 setelah kunjungan kerja ke daerah dekat Baluran. Saya memaksa beliau pulang, takut tiba-tiba melahirkan. Oh ya, HPL saya tanggal 28 Oktober. Jadilah, suami memaksakan pulang malam itu. Bahkan saya juga sempat bilang, kalau sampai hari Senin belum ada tanda melahirkan, saya minta beliau cuti.
Ketika kontrol, bidan cuma bilang hampir. Tunggu seminggu ke depan. Tanda-tanda persalinan juga belum muncul. Jadi saya cuma iya-iya aja, padahal dalam hati udah nggak sabar.
Malamnya, setelah shalat magrib saya nemenin suami saya bikin laporan bulanan. Tiba-tiba saya kepengen makan martabak telur. Saya minta suami untuk membelikan. Beliau mengiyakan, tapi nunggu laporannya selesai karena kurang sedikit. Menjelang isya, perut saya terasa kaku. Ada sensasi pergerakan turun yang intens. Akhirnya saya memutuskan untuk shalat isya dan tidur duluan. Sampai lupa kalau pengen martabak. 😅
Pukul setengah 11 saya terbangun untuk buang air kecil. Baru setengah jam tertidur lagi, ada sesuatu yang keluar di bawah. Ketika saya lihat, ternyata lendir kecoklatan. Dan sedikit air. Saya kegirangan. Langsung saya bangunkan suami dan beliau terkejut, tapi langsung antusias mengajak ke puskesmas. Saya nggak mau dan minta untuk sabar sebentar sampai kontraksinya teratur. Aplikasi penghitung kontraksi sudah saya buka dan siap menghitung.
Eh, tapi kan sudah muncul cairan? Akhirnya kami memutuskan langsung ke puskesmas. Tengah malam buta. Naik motor lagi. Ibu saya sudah waswas saja, takut brojol di jalan. 😂
Sampai di puskesmas, dicek bukaan, tahunya cuma bukaan satu. Hahaha kecewa deh. Sama bidan jaga suruh nginep aja, karena ketuban sudah rembes. Iya, ketubannya rembes. Jadi deh malam itu kami nginep di puskesmas. Suami saya tidur sambil duduk di sebelah saya, tangannya nggak berhenti ngusapin pinggang saya. Sementara saya tertidur lelap. Tidur paling lelap selama kehamilan saya membesar. Heran. Padahal kontraksi terus jalan.
27 Oktober 2019
Setengah 5 subuh, bude saya datang membawa perlengkapan persalinan. Kok budenya? Iya, ibuk nggak tahan melihat orang melahirkan. Wong dengar kabar saudaranya lahiran aja ibuk bisa lemas seharian, gimana kalau ngelihat langsung? Anaknya pula? Apa nggak pingsan? Nah, daripada kepikiran ibuk pas lagi asik ngeden, aku milih ngajak bude aja.
Pukul 7 bapak-ibuk dateng, bapak-ibuk mertua juga. Saya meminta maaf ke mereka. Minta didoain juga supaya lahirannya lancar. Ibuk udah nangis aja. Padahal saya enggak apa-apa.
Pukul 8 dicek bukaan sekali lagi. Ternyata masih tetap bukaan satu, tapi ketuban yang rembes makin banyak. Keluarlah keputusan, harus dirujuk ke rumah sakit. Waduh, seketika mental saya down. Dalam bayangan saya, udah pasti sc nih. Mau nangis, kan. Jujur, saya takut banget. Disuntik aja saya harus merem rapet.
Sesampainya di rumah sakit, langsung diperiksa. Nggak tahu dikasih suntikan apa. Terus kondisi janin juga diawasi. CTG lumayan lama. Terus dikasih pilihan, mau induksi atau langsung sc. Saya pilih induksi. Sambil nenangin diri biar rileks. Nah, pas CTG tuh kan detak jantung bayinya kedengeran kenceng, ya. Rasanya langsung adem. Makin nggak sabar ketemu. Akhirnya disetujui induksi suntik lewat infus. Pukul setengah 11 saya diinduksi. Tapi suami tetap tanda tangan persetujuan sc, kalau-kalau terjadi sesuatu. Saya disuruh makan banyak. Selain dikasih makan menu lengkap, saya juga dikasih bubur sama puding. Tapi sama sekali nggak nafsu. Saya minta roti aja. Sama minum yang banyak. Lucunya, di sela-sela kontraksi yang makin menguat, saya tidur nyenyak. Jadi kalau kontraksinya menguat, saya bangun. Ketika mulai mereda, saya tertidur lagi.
Menjelang dhuhur, mulas di perut saya semakin menguat. Saya sudah nggak bisa menoleransi. Rasanya mau pup. Udah kebelet banget. Diantarlah ke kamar mandi sama suami. Tapi nihil, nggak ada yang keluar. 😅
Sakitnya makin bertambah. Saya keukeuh mau pup. Kata bidannya gapapa pup di ranjang. Ya kali masa pup di ranjang. 😂
Saya minta infusnya dilepas. Panggil-panggil bidannya. Pas dicek, sudah bukaan 9. Saya udah mau nyerah karena nggak kuat. Keringat dingin udah keluar sebadan. Saya ngeyel minta lepasin infus. Karena pikir saya waktu itu infusnya yang bikin perut saya sakit. Padahal bukaan udah hampir lengkap. 😂
Dorongan buat mengejan mulai terasa, tapi nggak boleh mengejan. Bisa bayangin nggak? Udah mules nggak karuan, mau ngejan nggak boleh. Suami peluk-peluk saya, sambil nuntun nafas saya. Saya lupa semua teknik pernafasan yang saya pelajari selama hamil.
"Ayo yang, tahan dulu. Bentar lagi kita ketemu adek."
"Gini, ikutin aku. Huuuuh, haaaah."
"Jangan ngeden yang. Belum. Alihin buang nafas yang, huuuh huuh. Gini. Yaaa, pinter."
"Sabar ya, tahan dikit lagi. Adek lagi nunggu jalannya kebuka."
Itu yang diucapin suami saya sambil menciumi kening saya. Sementara para bidan mulai nyiapin peralatan yang akan digunakan.
Nah, pas dibolehin ngeden tuh saya langsung ngeden sekuat yang saya bisa. Ternyata selaput ketubannya nggak pecah, jadi harus dipecahin dulu sama bidannya. Tepat pukul setengah 1, anak saya lahir. Saya mengalami robekan kecil karena nggak berasa angkat bokong. Rasanya lega. Legaaaa sekali. Tubuh saya gemetaran. Langsung berasa dingin.
Suami saya menangis tepat ketika anak saya menangis. Saya ikutan nangis dong. Terharu. Tapi karena capek saya nangisnya cuma sebentar.
Nah, saya mulai jiper nih. Katanya kalau dijahit tuh sakit banget karena nggak dibius. Ternyata dibius lokal, nggak berasa, saya malah sambil ngobrol dengan bidannya.
Alhamdulillah, saya bisa IMD, satu jam pasca lahiran sudah bisa kencing. Setelah itu dipindah ke ruang perawatan. Saya cuma menginap semalam di rumah sakit. Padahal maunya paling nggak 3 harian gitu.
Kalau ada yang tanya apakah diinduksi rasanya lebih sakit, saya nggak tahu, ya. Nggak ada perbandingan sebelumnya alias ini pengalaman melahirkan pertama saya. Belum lagi toleransi rasa sakit tiap orang berbeda-beda.
Apakah mau hamil dan melahirkan lagi? Mau. Tapi nggak tahu kapan. Jujur, ngurus bayi tu capeknya berasa banget. Capek pikiran iya, capek fisik iya. Tapi alhamdulillah anakku lumayan pengertian. Waktu masih newborn dia nggak pernah begadang sampai pagi. Bangun pun tiap dua jam sekali untuk nyusu. Nggak nangis-nangis gitu. Mungkin tahu kali ya kalau ayah-bundanya LDM. Hehe.
Melahirkan ini membuat saya merasakan pengalaman luar biasa. Nggak pernah merasa selemah dan sekuat itu sebelumnya. Benar-benar luar biasa. Salut buat para ibu yang kuat menjalani segala rupa persalinan; baik yg spontan, induksi, maupun sc. Kalian luar biasa. 😍
Banyak keterbatasan di masa pandemi ini. Tapi banyak pula peluang-peluang baru yang muncul dalam keterbatasan.
Bulan Maret saat mulai #dirumahaja, aku langsung menyadari bahwa kamera lama jaman muda dulu akan kembali ikut #dirumahaja.
Tahun 2020 kmren kami berencana ingin jalan-jalan bersama anak dan mengikutsertakan si kamera ini yang sudah dianggurin setelah 2 tahun lebih.
Karenaaaa, kalau pergi2 bawaan anak bayi itu banyak bgtt printilannya, ditambah alat pumping pula yang lumayan berat dan makan tempat. Akhirnya tiap pergi-pergi, mau tidak mau, si kamera lebih sering ditinggalkan.
Tahun 2020 thole udah menyapih dirinya sendiri, jadi alat pumping dan printilannya sudah pensiun. Ada lowongan sebenrnya buat kemana-mana bawa kamera mengabadikan momen. Tapi situasi yang jadi tidak memungkinkan.
Iseng-iseng cari kelas foto lewat instagram. Ternyata banyak tersedia! Rata-rata berbayar. Setelah kontak akun sana-sini, akhirnya bulan April 2020 nyangkut ke kelas moto teh Ina. Siapa itu teh Ina? Krg tau juga haha :D. Yang jelas kelasnya affordable sekali untuk menyalurkan keisengan dan keingintahuan. Skrg stlh ku cek harganya udah naik. Mgkin krn peminatnya udah tambah banyak ya buat menambah kegiatan di masa pandemi hehe. Seingetku di antara kelas lain yg serupa, kelas ini yang paling murah :D .
Sayangnyaa, kelas ini khusus fotografi berbasis smartphone huhu. Yang untuk mirrorless belum nemu. Atau adakah rekomendasi?
Tapiii, tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat. Selain teknik dasar pengambilan gambar, kelas ini juga ngajarin editing sederhana. Jadi bisa diterapkan kamera apapun untuk foto produk dll. Durasi pelaksanaan kurleb 7 hari dengan beberapa tema, dan materi dibagikan via WAgrup. Keunggulan ikut kelas online ini adalah meskipun ada deadline pengumpulan, tapi waktunya fleksibel. Jadi bisa sambil ngerjain hal lain, momong anak, nugas, kerja, dll.
Kelas ini berjenjang, tapi aku masi berhenti di kelas basic. Karena saat itu mulai banyak tugas dan mendekati ujian…dan pengen cari kelas lainnya juga hehe. Eh ternyata kelas lanjutannya makin bagus lho materinya setelah liat portfolio Rahma yang udah join. Jadi pengen nerusin lagiii hehe.
Semoga tulisan ini bermanfaat ya kalau2 ada yg pengen mengisi waktu luang atau nambah ilmu fotografi basicnya. See you di cerita selanjutnya yaa 😊 😊.
[ 𝘕𝘺𝘶𝘯𝘨𝘴𝘦𝘱 Lagi, Mager ] 𝘒𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘛𝘦𝘳𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘛𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘤𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘛𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘢𝘧𝘢𝘴 𝘭𝘢𝘨𝘪 Begitu penggalan syair pembuka lagu dengan nomor 'Kembali Tenggelam' dari kesukaanku, si monyet @monkey2mill yang nggak ada obat kerennya! 😊 Lagu asik yang depresif, hihi. Opiniku. Lagu yang langsung mengarahkan ingatanku pada masa kuliah dulu. Lagu ini sering menemaniku yang selalu berusaha membuka laptop atau buku dengan —tugas-tugas kuliah diantaranya—, namun pada akhirnya terduduk lemas, tertancap, sampai terbaring di dini hari. Bukan, bukan karena lagu ini aku menjadi begitu. Justru lagu-lagu yang kudengarkan (termasuk lagu ini) kerap kali membantuku dalam memahami apa yang sedang kurasakan, apa yang terjadi pada diriku. Hingga membantuku katarsis dan mengalami perbaikan mood. Beberapa hari ini gejalaku muncul lagi, aku kembali tenggelam, "nyungsep lagi". Pesimis, anhedonia, rendah gairah, kehilangan nafsu makan, malas bertemu orang lain. Bahkan untuk membuat postingan macam ini pun aku berusaha lebih. Bahkan kemarin aku menyerah pada kantuk dan gagal konsisten memposting #30haribercerita. Saat ini kupaksakan tetap bercerita. Bahkan berencana membayar lunas dengan membuat 2 postingan malam ini. Kadang sulit bagi orang sepertiku untuk menerima ketidaksempurnaan dan melesetnya rencana. Iya, ini PR-ku. Harus kucari akarnya dan membingkai ulang perspektif serta respon spontan semestaku atas hal tersebut. Fiuh~ aku sudah mulai merasa ingin menangis, dengan sebab yang kabur tak jelas musababnya. Sudah, aku hanya bercerita tentang diriku dan rasaku. Semoga tidak terlalu ke-Aku-an. Hehehe. @30haribercerita #30haribercerita #30hbc2107 📷 Tangkap layar dari: https://m.soundcloud.com/monkeytomillionaire/kembali-tenggelam #ceritausai #streetteam #monkeytomillionaire #monkey2mill https://www.instagram.com/p/CJyhNyAg4Z7/?igshid=b4bg2ow1dvjd