Trauma
Lagi-lagi paparan informasi dan kesadaran tentang sesuatu yang dinamakan trauma dalam arti yang lebih luas baru aku dapatkan di usia mendekati kepala tiga.
Istilah trauma bukan cuma untuk hal-hal besar dan mengejutkan secara ekstrim. Tapi banyak hal-hal sehari-hari yang bisa menjadi cikal bakal dari trauma.
Masih terimbas dari terpantiknya trauma dan serangan cemas di hari kemarin. Hari ini aku memproses sisanya, tidak seberat kemarin tapi juga cukup menguras diriku secara mental dan fisik.
Apa yang dilakukan hari ini? Masih meregulasi perasaan dengan menangis. Kebetulan (atau disebut takdirโkarena katanya tidak ada yang kebetulan) hari ini ada pembahasan mengenai pemulihan diri yang diinisiasi @wholisticgoodness . Sangat tepat waktunya bagiku untuk memperoleh clue tambahan tentang trauma dan pemulihan.
"Taking full responsibility of ourselves, including our wounds and our wellbeing." begitu kata mutiara yang menjadi pembuka dari Teh @permadiputri .
Seketika langsung bercucuran air mata, karena memang aku sedang amat sangat mengizinkan diriku untuk menangis.
So relatable! Tepat di malam sebelumnya aku merenungkan tentang beberapa orang yang telah berkontribusi terhadap trauma yang aku alami. Aku masih kerap kali bergumul dengan perasaan marah, kecewa, sedih terhadap orang-orang tersebut. Terutama saat merasa bahwa rasa sakitku di-invalidasi.
Hingga kemudian sampai pada titik merasa konyol jika terus memikirkannya. Hingga aku berikrar,
"Kini aku putuskan untuk pulih seutuhnya."
Dalam pemaknaan yang bisa dikatakan sama dengan yang dibahas oleh Teh Vidya tadi pagi. Mengambil tanggung jawab penuh atas diri kita sendiri, baik itu dalam hal luka-luka kita juga dalam pemulihan dan kesejahteraan diri dan hidup kita. ๐
Hamdalah. Basmalah.
#30hbc25 #30hbc2503 #30haribercerita2025 @30haribercerita












