Mudah untuk bisa menilai tanpa meminta konfirmasi kebenaran suatu kejadian. Padahal asumsi kita tak selamanya benar, kadangkala apa yang dipikirkan berbanding terbalik dengan realita apatahlagi jika menyangkut penilaian subjek manusia. Pernah baca di tumblr bahwa "Kita tidak bisa mencegah orang lain berprasangka buruk terhadap kita. Namun, kita bisa menahan diri kita sendiri untuk tidak berburuk sangka pada orang lain." Tempo hari temanku menasihatkan ini “tiap kamu merasa ada yang tidak reletable dengan suatu kondisi itu artinya kamu harus nyari 70 alasan untuk berprasangka baik, kalau tidak menemukannya, mungkin aja dia punya udzur yang kita tidak tahu. Jangan gampang suudzon.” “Sungguh banyak 70, batinku dalam hati" ” Mungkin kalau dipikir secara rasional, apa sulitnya berprasangka baik, tapi nyatanya tak semudah itu ya mungkin karena berkaitan dengan kecenderungan naluriah otak manusia yang bekerja dengan salah satu prinsipnya, yaitu : mempertahankan eksistensi. Pernah tidak berpikir “akibat prasangka buruk kita membuat orang tersebut mengalami gangguan mental”, terkesan sepele tapi nyatanya saya menemukan informasi ini dari seorang teman yang profesinya sebagai psikolog. Dari peristiwa ini saya belajar untuk menahan diri dalam mengontrol pikiran. Untuk tidak buru-buru memberikan asumsi, untuk selalu memvalidasi suatu informasi, dan pastinya untuk menjaga perasaan orang lain.
Yogyakarta, Januari 29 th 2021













