Maafkan Aku
Belum lama ini, aku terbangun pagi-pagi sekali dan mendapati usiaku menginjak 27 tahun. Aku menyeduh kopi, membakar rokok, kemudian menemukan pikiranku yang sedang menyesali banyak hal. Kemungkinan-kemungkinan yang terlewat. Memarahan-kemarahan yang aku sendiri tak tahu penyebabnya. Rasa pedih dan ingin menangis yang datang tiba-tiba.
Penyesalan itu membawaku kepada tahun-tahun itu. Ya, kamu tahu apa yang sedang kubicarakan. Tahun-tahun di mana, barangkali, sebuah kesempatan masih terbuka. Kepercayaan diriku yang tersisa menganggap demikian. Meski aku tak tahu betul jika yang ingin kamu bicarakan adalah kenyataan. Boleh jadi, yang kuanggap kesempatan hanyalah proyeksi dari harapan-harapanku yang terlampau tinggi. Bagaimana tidak, kamu memang berada di ketinggian itu. Sebagai manusia, aku akan menempatkanmu bersama orang-orang baik, mungkin seperti Zoro. Kamu pantas. Sangat pantas menjadi wakil kapten raja bajak laut.
Aku ingat betul, hari itu aku nyaris tak melakukan apa-apa. Aku membiarkan isi kepalaku mengambil alih segalanya. Menangis, marah, bersedih, dan mensyukuri sesuatu yang ganjil. Aku masih hidup dan kupikir masih ada orang-orang yang menyayangiku. Disayangi, barangkali adalah utang budi yang paling jarang dikembalikan, sebab dalam keadaan tertentu, nama perasaan sayang kepada orang lain justru kesalahan. Aku salah. Kumohon maafkan aku.
#30haribercerita #30hbc2305
















