Ra terbangun dengan peluh di dahi dan nafas tak beraturan. Mimpi yang baru saja ia alami membuatnya terguncang sesaat. Ia menenangkan diri, mengatur nafas, hingga irama jantungnya kembali teratur. Kembali ia memikirkan mimpi yang mengejutkan. Saat membuka ponsel jam menunjukkan pukul 05.00 pagi. Memang tepat waktu bangun tidurnya. Ra segera bangun dari kasur dan melakukan aktivitasnya. Cuma mimpi aja, Ra, batinnya menenangkan diri.
Ternyata sulit mengenyahkan mimpi semalam dari pikiran Ra. Di sela-sela menyelesaikan pekerjaan, ia memikirkan kebenaran mimpinya. Ia merasa mimpinya seperti nyata, tapi dalam mimpi.
"Kenapa, Ra? Kok kusut begitu mukamu," tanya teman samping meja Ra.
"Nggak papa kok, Lan." jawab Ra tidak jujur. Terdengar suara tombol keyboard beradu ritmis dan diakhiri dengan satu ketukan keras.
"Kalau nggak papa, nggak ngamuk gitu, dong. Santai, Ra." tegur Lan yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.
Ra menarik kursinya lebih dekat dengan Lan. "Kamu percaya mimpi nggak?" tanya Ra tiba-tiba dengan suara pelan.
"Mimpi?" Lan tampak ragu dengan maksud Ra.
"Mimpi alias bunga tidur. Bukan mimpi cita-cita, bukan." Ra menjelaskan maksudnya masih dengan suara pelan.
"Percaya soal mimpi itu beneran atau cuma ilusi maksudmu?" tanya Lan memperjelas maksudnya yang dijawab dengan anggukan kepala Ra.
"Ilusi aja itu. Kenapa sih?" tanya Lan yang mulai penasaran.
"Aku mimpi ketemu Sam," ucap Ra dengan suara lebih pelan. Baru satu kalimat sudah membuat Lan berseru kaget yang disambut dengan kepala-kepala menoleh ke arah mereka berdua. "Sssttt... pelan aja kagetnya." tegur Ra.
"Sam?" Kembali Lan memastikan nama yang baru saja ia dengar. Kali ini Lan mengikuti intonasi suara Ra yang pelan.
"Kayaknya itu cuma ilusi aja, deh, Ra. Apalagi udah seminggu lebih kamu update kabar soal Sam terus." ucap Lan menanggapi sepotong cerita dari kawannya yang kusut sejak kabar hilangnya Sam.
"Tapi rasanya beda, Lan. Kayak... kayak beneran, gitu. Dia beneran Sam. Soalnya dia tahu kalau dia hilang, lagi dicari banyak orang. Menurutmu gimana Lan?"
"Hmm... aku nggak percaya mimpi-mimpi begituan, Ra. Kalau menurutku, itu bisa aja dari hasil pikiran-pikiran di kepala kamu. Terus tervisualisasi di mimpi. By the way, baru tadi malam atau udah dari kemarin-kemarin?"
"Baru semalam aja, sih. Bisa jadi gitu, ya. Tapi, Sam titip pesan ke aku Lan. Itu yang mengganjal dipikiranku. Aku rasanya kayak dapat amanah buat menyampaikan ke keluarganya," Raut muka Ra tambah kusut. Seperti bisa terbaca oleh Lan, apa kegelisahannya.
"Gimana kalau tunggu sampai beberapa hari lagi? Mungkin dua-tiga hari ke depan. Kita buktikan, mimpi itu cuma ilusi atau emang beneran." Lan coba memberi opsi kepada Ra.
"Aku juga mikir begitu. Oke, thanks, Lan, udah mau dengerin curhatan pagi ini." Ra kembali menarik kursinya menghadap layar komputernya sendiri. Lan pun kembali bekerja dengan berkas-berkasnya.
Malam ini Ra akan membuktikan mimpi itu. Dalam hati Ra berharap mimpi itu kembali datang. Ada dorongan kuat dalam diri Ra untuk mempercayai mimpi itu. Ada pula sebersit rasa syukur dapat kembali bercakap dengan Sam setelah tiga tahun terakhir hubungan keduanya renggang.