Hai, ini ada undangan untuk acara nikahanku, barangkali bisa datang yaa.
Aku membaca pesan WA sederhana dari sahabat dekatku, Gio. Dulu kami adalah anak yang biasa nge cafe bareng, kerjain skripsi bareng, dan galau bareng soal akan diselesaikan kapan ini skripsi. hehe.
Hari ini aku mendapatkan undangan untuk acara bahagianya. Dia akan menggenapkan agamanya. Tentu, sebagai seorang teman, aku adalah salah satu orang pertama yang juga bahagia mendengar kabar itu. Tapi, kalau boleh jujur, ternyata kabar ini juga mentriggerku untuk mulai mempertanyakan diri sendiri. Kapan aku menikah? Kapan aku akan menemukan seseorang yang tepat? Kapan aku bisa yakin kepada satu wanita kemudian berkomitmen mengarungi suka dan dukanya hidup?
Bukankah dulu kita sama-sama susah?
Bukankah kita dulu sama-sama mengerjakan tugas bersama?
Namun kenapa dia sudah menemukan sesorang yang tepat sedangkan aku belum?
Satu per satu pertanyaan ganas mencekoki pikiranku.
Ya, tidak ada orang yang lebih jahat dari pikiran kita sendiri, kan? Beruntung aku tak sampai menyalahkan takdir.
Namun beberapa pertanyaan memang masih menghantui.
Apakah aku harus menurunkan standar?
Atau aku perlu meluaskan sabarku?
Atau mungkin aku yang perlu memantaskan diri lebih jauh lagi?
Berbagai pertanyaan itu masuk secara berbarengan, memuat syaraf otakku kelimpungan mencerna satu per satu.
Astaga, aku harus kembali kepada realita. Here and now.
Aku jawab pesan singkatnya
”wahh, congratulations ya Gio. Semoga dimudahkan dan semoga aku bisa dateng di acara bahagiamu.”
@langitlangit.yk @careerclass @bentangpustaka-blog















