Hidup sebagai manusia gagal memang sulit. Merasa hidup tak berguna, tak ada harapan, dan seperti gelap semuanya.
Cerita ini berawal dari ditolaknya aku menjadi technical researcher di salah satu lembaga zakat Indonesia. Bukan posisi yang paling strategis, namun juga bukan posisi yang mudah untuk dimasuki. Pada awalnya aku berpikir bahwa aku capable untuk dipercaya di role ini, tetapi ternyata belum rejeki.
Aku masih bisa berpikir positif. Mungkin aku diamanahi oleh Allah untuk mengurusi project management dari Career Class dan diminta untuk move ke kampung asal.
Namun, di beberapa hari yang berdekatan, ketika pengumuman project management itu tiba, ternyata kelompok kami tidak termasuk di salah satu tim yang dipercaya untuk lanjut ke tahap berikutnya.
Di titik inilah aku mulai berpikir.
What should I be?
Sebetulnya mau Allah itu apa?
Sampai ke pertanyaan “Apakah sebetulnya aku ini bermanfaat atau tidak?”
Berbagai pertanyaan terus menyerang. Ditambah dengan ketidakpastian tentang pengumuman kampus yang memang belum ada hingga sekarang. Aku tak mungkin kembali ke belakang. Aku harus maju ke depan, tetapi semuanya seperti gelap.
Gagalnya aku mengabdi di lembaga zakat ataupun di kegiatan Career Class ini cukup membuatku bertanya dan down.
Tapi aku juga ingat bahwa semua cobaan dari Allah adalah berujung kepada kebaikan, kan?
Aku duduk, mengatur nafas, sebetulnya aku akan menjadi apa?
@langitlangit.yk @careerclass @bentangpustaka-blog





















