Mari kita bernostalgia sejenak...
Kota M sungguh kota yang punya daya tarik. Bagi siapapun yang pernah mendiami kota ini lebih dari 30x24 jam, akan sulit untuk tidak menjadikannya tempat domisili. Barangkali mencapai 80% mereka yang pernah menjalani kuliah di kota M, lalu menjadikannya sebagai tempat tinggal untuk menjalani kehidupannya selepas kuliah. Bagaimana tidak? Dia dikenal dengan kota yang dingin, banyak pepohonan di sana-sini, bahkan beberapa pohon besar sepertinya tidak akan pernah ditebang oleh pemerintahnya, kecuali ia akan roboh dengan sendirinya. Kota yang memiliki magnet bagi setiap manusia yang pernah mengunjunginya. Termasuk aku.
Semasa SMA, aku tidak pernah sekalipun berniat untuk menjadikan kota M sebagai tempat domisili. Namun, takdir berkata lain. Adanya tragedi Lumpur Lapindo di tahun 2006 membuatku terdampar di kota ini, atas pilihan orangtuaku. Sebuah hal yang tidak masuk ke logikaku waktu itu. Ditambah dengan ketakutan seorang bapak, jika Lumpur Lapindo itu benar-benar menenggelamkan kota dan memutus jalur perjalanan darat antara kampung halamanku dengan ibukota provinsi. Padahal, sekalipun benar-benar terputus, kukira pemerintah tidak akan tinggal diam membiarkan roda perekonomian masyarakan provinsi ini terganggu. Pemerintah akan mencari cara bagaimana tetap berjalan, walau tragedi sedang berlangsung. Jika tidak ada penghalang, kukira pemerintah provinsi ini tidak akan bisa maju secepat ini.
Pendaftaran Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) akan dibuka besok selama tiga hari berturut-turut. Aku sudah membayangkan akan berangkat seorang diri menuju ke kampus U yang telah ditunjuk sebagai pusat pendaftaran di kota M. Naik angkot dari rumah saudara, membawa berkas, panas-panas. Bakal seru nih!
"Assalamu'alaikum," lamunanku buyar ketika mendengar suara yang tak asing lagi di telingaku membuka pintu rumah. Bapakku.
"Eh. Wa'alaikumsalam. Lho, bapak ke sini?" tanyaku sambil membenarkan posisi dudukku di kursi ruang tamu.
"Iya. Bapak mau ngantar kamu." Buyar sudah bayanganku. Diantar bapak? Artinya perjalanan sedikit akan lebih menakutkan. Hufth!
****
"Kamu mau ke kampus mana?" tanya bapak tiba-tiba saat mengajak kami sekeluarga untuk makan malam menu sate kambing kesukaan kami. Beberapa bulan sebelum pendaftaran SPMB dibuka. Di kampung halamanku.
"Kampus I," jawabku pendek sambil mengunyah sate.
"Jurusan apa?"
"Arsitektur."
"Kenapa arsitek? Daripada arsitek, mending ke teknik sipil. Masih saudaraan." Mendengarnya membuatku berhenti makan tiga detik. Kulihat bapakku, datar. Tanpa ekspresi. "Teknik Sipil masih banyak dibutuhkan. Kalau kamu pilih arsitek, ntar kamu lebih banyak di studio, lho!" lanjut bapak tanpa mengindahkan tatapan datarku tanda tidak setuju.
Selalu. Selalu. Dan Selalu. Pilihanku tidak pernah langsung disetujui. Studio? Kenapa dengan lebih banyak di studio? Apakah buruk? Aku juga tidak tahu apa itu studio. Apakah aku akan nyaman atau tidak kan belum dicoba? Lalu teknik sipil? Apapula itu teknik sipil? Saudaraan? Banyak dibutuhkan? Semua pertanyaan-pertanyaan itu hanya menjadi bising dalam pikiran dan hatiku. Aku tidak terlalu banyak bicara. Aku melakukan aksi protes dengan diam. Karena aku takut, takut ketika aku mengucapkannya, akan membuat bapakku tersinggung dan marah.
****
"Kamu jadinya ambil jurusan apa, Ta?" tanya teman sekelasku ketika aku menyempatkan diri main ke rumahnya.
"Entahlah."
"Lho, piye sih? Yang mau kuliah kamu. Kok jawabnya 'entahlah'?"
"Lha... bapakku kemarin mendengar jawabanku, aku langsung disuruh ambil jurusan yang masih saudaraan dengan pilihanku."
"Saudaraan? Emang kamu bilang kamu mau jurusan apa?"
"Arsitektur."
"Trus, saudaranya arsitektur apa?"
"Teknik Sipil."
"Oalah! Terus kamu jawabnya apa?"
"Diem."
"Lha! Piye sih? Kamu harusnya bisa dong memperjuangkan pilihanmu!" Mendengar kata 'memperjuangkan' dari mulut temanku membuatku memaku. "Kalau kamu punya pilihan A, kamu harus perjuangkan. Sampaikan alasan-alasan kamu kenapa pilih A. Biar bapakmu ngerti apa yang kamu inginkan," lanjut temanku.
Memperjuangkan. Kosa kata apa itu? Sangat asing dalam diriku. Aku selalu menuruti apa kata bapak. Saat aku kekeuh masuk SD karena teman-temanku TK sudah masuk SD, aku dimasukkan ke SD di mana mamaku kerja. Memasuki usia SMP, lalu disuruh masuk SMP A, ya aku masuk SMP A. Sewaktu SMA pun begitu, ketika disuruh masuk SMA B, ya aku masuk SMA B. Aku tidak pernah punya alasan kuat mengapa aku harus masuk sekolah-sekolah itu. Kecuali pilihan jurusan Arsitektur ini. Karena aku suka dan merasa tertantang menggambar benda yang diproyeksikan. Sesimpel itu. Tetapi aku belum berani memperjuangkannya. Damn!
****
Kendaraan besi roda empat berwarna biru itu berjalan sangat lambat. Ia berjalan di sebelah kiri jalan, bahkan terlalu kiri mungkin. Pengemudinya selalu menengok kanan lalu kiri, jari telunjuknya tidak berhentik bergerak, barangkali akan ada penumpang lagi. Maklum, kami berangkat di jam-jam anak sekolah sudah memasuki kelasnya masing-masing.
Aku membawa map plastik merah bertali pada dua kancing. Map itu berisikan berkas-berkas penting pendaftaran. Pas foto, fotokopi legalisir NEM, dan lain sebagainya. Aku memakai kemeja coklat dengan bawahan hitam, bersepatu hitam yang biasa kupakai saat bersekolah. Sesekali aku menggoyangkan kakiku dan melihat jam tangan hanya sekadar memastikan bahwa tidak terlambat sampai di tempat tujuan.
"Jadi ambil IPA atau IPC?" tanyak bapakku memecah keheningan di antara kami berdua.
"IPC, Pak. Kemarin bayarnya buat formulir yang IPC."
"Jadinya ambil jurusan apa?"
"Arsitektur, Kimia, dan Akutansi."
"Yakin Arsitektur?" Pertanyaan bapak membuatku menghela nafas panjang. "Bukannya bapak nggak setuju. Bapak hanya takut kamu nggak kuat menjalani sesuatu yang seperti terisolasi di studio. Karena kata om kamu, arsitektur itu banyak sekali menghabiskan waktunya di studio. Bapak hanya takut, relasi sosialmu makin terganggu."
"Bapak cukup dukung aku ya! Insya Allah jika memang rezekiku masuk arsitektur, aku bisa melewatinya dengan enjoy walau berat," jawaban diplomatisku untuk pertama kali keluar (mencoba) memperjuangkan pilihanku. Kulihat bapak tak bereaksi apapun, kecuali kembali menoleh ke arah kendaraan besi melaju yang sekarang berkecepatan lebih tinggi karena tempat duduk penumpang telah terisi penuh.
Kampus U telah penuh dengan calon mahasiswa baru dari berbagai kota di sekitar kota M. Terlihat wajah-wajah yang penuh harap bisa lolos SPMB. Banyak di antara mereka didampingi oleh orangtua masing-masing. Banyak pula yang bergerombol dengan kawan mereka mendaftar SPMB tanpa orangtua.
Aku memasuki loket satu, tempat penukaran bukti pembayaran SPMB dengan formulir. Aku menyerahkan selembar kertas bukti pembayaran dari map plastik merah yang kubawa dengan selembar formulir pendaftaran SPMB. Kubawa lembaran itu menuju ke meja besar yang telah disediakan oleh panitia. Aku keluarkan pensil 2B. Aku mulai menulis satu per satu pada setiap baris pertanyaan. Sampai di bagian foto, aku lupa tidak membawa lem. Kepanikan mulai menjalar ke tubuhku. Aku menoleh kanan kiri mencari bapak. Tapi tidak kutemukan. Aku melihat di depanku ada anak yang membawa lem, tapi aku tidak berani memintanya. Panik dan takut bercampur jadi satu. Sampai tiba-tiba di sebelahku ada seorang anak laki-laki memberikan se-cup lem kepadaku. "Makasih," ujarku.
Satu per satu berkas aku keluarkan. Aku urutkan sesuai permintaan yang ada pada formulir. Semua telah sesuai. Aku masukkan dalam satu map dengan formulir. Aku melangkah menuju antrean loket pengecekan berkas yang ada di dalam gedung. Di antrean depan aku melihat anak lelaki yang telah memberikan se-cup lem pada diriku tadi. Cepat sekali dia! Kecemasanku hadir kembali. Tanganku mulai berkeringat dingin. Lama sekali aku berdiri. Lupa tidak membawa air minum. Hawa dingin kota M kalah dengan panasnya hawa penuh sesak manusia di dalam gedung walau gedung tersebut telah ber-AC.
Kartu peserta tes SPMB telah kupegang. Dengan hati-hati aku masukkan ke dalam map plastik merahku. Alhamdulillah! Satu proses telah terlewati. Aku berjalan menuju pintu keluar gedung itu. Saat aku keluar, aku baru teringat kalau pintu masuk dan pintu keluar adalah pintu yang berbeda. Bapak masih ada di area pintu masuk. Aku menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Mencoba mencerna arah mana yang lebih tepat aku pilih. "Hai," anak lelaki yang tadi tiba-tiba datang dari arah kananku, menyapa (lagi).
"Hai," jawabku gugup.
"Mau ke mana?"
"Cari bapak."
"Bapaknya di area loket satu yang tadi?"
"Iya," jawabku sambil nyengir.
"Tau jalan ke sana?"
"Nggak," jawabku polos.
Dia tersenyum. Senyum paling tulus yang pernah kulihat. "Ayo, ikut aku. Aku juga mau ke sana."
Akhirnya, aku mengikuti dia. Berjalan di sampingnya. Tapi entah kenapa dia selalu saja mendahuluiku. Karena telah tiga kali seperti itu, akhirnya aku memilih berjalan di belakangnya. Kami hanya berjalan dalam diam. Tanpa mengobrol. Kami melewati pedestrian di mana kananku adalah jalan berpaving yang banyak dilalui kendaraan, sedangkan sebelah kiriku adalah taman dengan tatanan yang sungguh cantik. Aku melihat sekitar, barangkali bapak telah masuk dalam radar penglihatanku.
Tepat di sebelah pintu masuk menuju loket satu, aku melihat sesosok yang sangat familiar, laki-laki berjaket kulit hitam, bercelana drill hitam, bersepatu-sendal, dan rambut cepak yang mulai memutih, menunggu seseorang sambil sesekali menengok ke arah pintu masuk. Seketika itu, aku langsung berpamitan pada anak laki-laki itu, "Makasih ya. Bapakku udah terlihat." Aku membungkukkan badan ke arahnya dan langsung berlari ke arah bapak, tanpa melihat wajah anak lelaki itu lagi.
"Paaak!!!" aku memanggilnya keras-keras agar ia menoleh, tapi bapak tidak menoleh. Aku semakin mendekat. "DOR!" aku ingin memberikan kejutan dari belakang bapak.
Lelaki itu pun menoleh dan... "Iya, dek?" Yassalam. Aku salah orang. Wajahku mungkin sudah memerah saking malunya. Aku reflek menutupi wajahku, lalu mengucapkan maaf berkali-kali. "Cari bapaknya ya? Barangkali bapak itu yang adek maksud," tunjuk bapak itu menunjuk seorang laki-laki yang sedang duduk dengan tangan bersedekap dan kepala tertunduk. Lelaki itu sedang tidur. Dan dia adalah bapakku.
Bersambung...











