"Dia bilang abang cuman anak yatim yang tak punya ayah."
Seketika itu Angkasa melepaskan genggamannya dari cup ice cream dan mulutnya pun berhenti mengunyah. Alesha menatap mata bulat Angkasa, namun Angkasa hanya memalingkan tatapannya ke arah cup ice cream di hadapannya.
Satu, dua detik berlalu sunyi. Angkasa pun melanjutkan kisahnya, "meskipun ayah tak pernah bersikap manis pada ku, namun dalam hati sanubari terdalam abang tetap sayang ayah, itu sebabnya abang marah saat dikatakan ayah sudah tiada."
Alesha hanya mampu menarik nafas panjang, sambil sesekali mengatur nafasnya agar emosinya dapat terkendali.
"Abang tau mengapa Arya berkata seperti itu?"
"Dia bilang aku bohong! Katanya kalau memang ayah masih ada, kok tidak pernah antar jemput abang ke sekolah dan yang membuat dia semakin yakin, saat hari Ayah bulan kemarin aku tidak hadir dengan ayah, saat semua teman-temanku menghabiskan banyak aktivitas dengan ayahnya, lagi-lagi abang harus ditemani Om Aldi," jelas Angkasa dengan mata yang hampir berkaca-kaca.
Alesha sadar betul bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja, menahan tangis, amarah, bahkan kekecewaan.
Didekapnya badan Angkasa mendekati badan Alesha. Alesha memeluknya dengan erat sambil berbisik, "Abang sedang marah ya? Atau kesal? kecewa? Atau sedih yaaa? Abang mau menangis? Menangis saja sepuasnya supaya bisa melegakan, tenang Bunda ada di sini peluk abang."
Tangis angkasa pecah, ia memeluk bundanya sangat erat.
"Maafin Abang ya Bund, sudah bikin bunda malu. Abang juga ingin seperti yang lain, diantar jemput ayahnya, main air bareng ayah, pokoknya semenyenangkan itu beraktivitas dengan ayah. Tapi aku selalu ingat kata bunda bahwa tidak ada Ayah yang benci anaknya, hanya saja cara ayah yang keras. Iya kan Bund?" tangis Angkasa pecah sampai-sampai membuat nafasnya terpenggal-penggal.
"Bang, maafin bunda dan ayah belum bisa jadi orangtua yang baik, tolong mintakan sama Allah supaya bunda dan ayah bisa jadi yang terbaik buat Abang".
Tatapan mereka saling beradu. Lisannya memang tak mengucap apapun, namun hati keduanya begitu tertaut seolah bisa saling merasakan kesedihannya masing-masing.
Drettt,,,drettt,,,drettt,,,
Suara getar ponsel Alesha membuyarkan suasana yang mengharu biru. Ditengoknya ponsel itu dan terlihat panggilan masuk dari ayah. Alesha pun seketika langsung mengangkatnya.
"Bunda dimana? Hari sudah gelap masih saja sibuk kerja! Anakmu saja lupa kau urus," terdengar nada menghardik dari seberang telepon tanpa salam.
"Angkasa bareng Bunda kok Yah, ini kita juga sudah mau pulang."
"Buruan Ayah sudah lapar nih, belum makan, tidak bersisa bahan makanan apapun. Belikan sate ayam saja ya, " tutup dialog tersebut.
"Baik Yah, Assalamua'alaikum."
Telepon itu pun terputus, belum sempat Alesha memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Tiba-tiba saja Angkasa memeluk Alesha sambil berbisik lirih "Bunda yang sabar ya."
Kali ini benteng pertahanan Alesha runtuh seruntuh-runtuhnya. Emosi yang sedari awal ia jaga agar tidak nampak menangis di depan Angkasa, semuanya sia-sia. Seketika air mata ini mengalir deras menuju muara di ujung sana, saat kata-kata itu terucap.
"Makasih ya Bang, sudah mau sayang Bunda dan Ayah. Oh iya, sepertinya kita harus cepat pulang, Ayah sudah telepon barusan."
Keduanya bergegas pulang, menerjang keheningan dan kegelapan malam, menyusuri jalanan kota ditemani si hijau taxi online kesayangan para pengguna public transport.
"Assalamu'alaikum,,," ucap Alesha dan Angkasa sambil menarik gagang pintu.
Tak ada balasan salam, mereka pun masuk.
"Kalian kemana saja?" tanya Ayah tiba-tiba muncul.
"Tadi Angkasa ada Eskul jadi baru bunda jemput sore, setelah itu kita mampir dulu beli ice cream," jawab Alesha
"Kamu tuh makin kesini makin seenaknya ya, pergi tanpa pamit, mana sate pesanan ku?
Alesha hanya terdiam, saat mulut berbisa suaminya kembali menebar racun. Diam merasa pura-pura baik-baik saja itu membuat Alesha capek.
"Yah,,, setelah selesai makan kita bisa bicara? tanya Alesha penuh kehati-hatian.
"Gak!!!" jawab Ayah singkat padat tanpa basa-basi seperti halnya yang sudah-sudah.
Alesha kembali mengusap dada. Pikirannya kembali berkecamuk, hatinya kesal, bahkan lisannya ingin sekali menggerutu sekali-kali. Komunikasi Alesha dan suami sejak awal menikah memang sudah bermasalah, Andi - Suami Alesha yang keras kepala sulit diajak komunikasi. Setiap kali diajak ngobrol untuk membahas masalah apapun terlebih persoalan rumah tangga selalu responnya menolak. Baginya, dia adalah seorang pemimpin maka cukuplah segala perintah keluar dari mulutnya.
"Sepertinya aku sudah sangat lelah, rumah tangga ini ibarat kapal dan kamu nahkodanya, aku selaku penumpang memang hanya perlu menuruti semua instruksi nahkoda, tapi kita perlu diskusi tujuan kita mau kemana? Bagaimana cara untuk sampai kesana? Harus lewat jalur mana, bukan kah itu harus kompromi? Dan selalu kamu tak pernah mau diajak bicara!" Alesha membatin.
Malam semakin larut, Alesha memutuskan untuk tidur bersama anak sematawayangnya. Dibuka pintu kamar Angkasa, didapati Angkasa masih terjaga dengan crayon ditangannya. Rupa-rupanya ia sedang menggambar.
"Sayang, kamu belum tidur?"
"Eh bunda, belum bund, ini nanggung lagi corat-coret."
"Rahasia, pokoknya siapapun juga belum boleh lihat klo belum selesai."
"Oh jadi main rahasia-rahasiaan sama Bunda, Ok lah kalau begitu. Emh,,,bunda mau izin tidur bareng Abang disini malam ini saja, boleh ya?"
"Yeay…dengan senang hati Bun",
Bak gayung bersambut, Angkasa memberikan ruang pada ibunya. Alih-alih langsung beristirahat, ini malah lanjut pillow talk kalau kata bahasa anak sekarang.
"Bund cita-cita terbesar dalam hidup bunda apa sih?"
"Emh…bunda cuman pengen hidup bahagia lahir dan batin, bisa bertumbuh dan berkembang dengan apa yang sudah Allah titipkan pada Bunda dan salah satu puncak kebahagiaan bunda adalah dititipi oleh Allah, makhluk mungil ini," katanya sambil menunjuk hidung Angkasa.
"Bunda sudah bahagia sekarang?"
Lagi-lagi Alesha mati kutu, diam tanpa kata. Mengapa pertanyaan yang keluar dari anak kesayangannya ini selalu ajaib menurutnya, pertanyaan yang sulit sekali untuk dijawab bukan karena tidak tahu jawabannya.
Alesha hanya menyunggingkan senyuman termanisnya.
"Belum ya Bund?" Angkasa belum puas dengan jawaban bisu bundanya.
Hemmm….. Alesha menghela nafas panjang dan dalam.
"Nak, bahagia itu bukan pemberian tapi harus kita yang buat, dan bahagia itu bukan berarti didapat dari segala sesuatu yang indah dan menyenangkan pandangan manusia. Coba Abang lihat anak-anak kecil pengamen di lampu merah, pasti Abang akan bilang mereka kurang bahagia karena harus panas-panasan, gak bisa main-mainan atau makan-makanan yang enak. Iya kan? Tapi itu keliru, coba Abang sesekali ajak mereka ngobrol. Mereka justru bahagia dengan caranya sendiri."
Angkasa menyimak dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Bundanya itu.
"Jadi kalau Abang tanya apakah Bunda sudah bahagia? Maka Bunda akan jawab "Sudah", sebab Bunda selalu berusaha untuk bahagia atas apa yang Allah tetapkan untuk Bunda, Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Nabi Ayub as pun bisa tetap bahagia meskipun Allah beri dengan kesakitan menahun juga ditinggal istri dan sanak keluarganya. Yuk kita sama-sama belajar untuk selalu bahagia."