Aku Memaafkan
Hai aku yang setiap malam merenungi waktu yang sudah berlalu. Masa-masa saat setiap trauma dan rasa sakit dipatri dalam ingatan kita. Membekas sekian lama, hingga hidup kita terasa sulit untuk bahagia. Setiap langkah kaki yang berat, membawa beban yang tak ringan.
Bahkan untuk mengambil keputusan, kita ditemani ketakutan. Bahkan saat ingin memilih kebahagiaan diri, kita dibayang-bayangi prasangka "kira-kira kesedihan sebesar apa yang akan tiba setelah kebahagiaan ini?" Kita takut terlalu bahagia, karena takut pada kemungkinan luka setelahnya.
Saat ada orang lain yang tulus, kewaspadaan kita justru semakin besar. Di benak kita, setiap orang pasti ada maunya, punya kepentingan dan ingin memnmaafkan hidup kita.
Hai aku yang setiap malam berpikir buruk tentang hidup. Maukah kuajak pulang?
Kita kembali ke setiap masa dimana luka pertama kali tercipta. Kita maafkan satu-per-satu orang yang melakukannya. Kita maafkan diri kita yang dulu terlalu lemah dan naif, terlalu penakut untuk melawan. Itu sudah berlalu belasan tahun lalu, hidup yang saat ini membutuhkan diri kita yang lain.
Kita kembali dan hadapi. Kita maafkan orang tua kita, kita maafkan orang-orang yang kita anggap sebagai musuh, kita maafkan atasan kita dimana kita bekerja, kita maafkan orang-orang dijalan yang membuat kita marah-marah, kita maafkan guru-guru kita, kita maafkan tetangga kita, kita maafkan teman kita, kita maafkan siapapun yang
Lalu kita kembali ke masa ini. Pejamkan mata dalam kekhusukan diri selepas beribadah. Ucapkan lirih dalam hati dan lisan, setiap hari.
"Aku memaafkan...."












