Berapa lama seseorang bisa sembuh dari hati yang patah? sebulan, dua bulan, tiga bulan atau berbulan-bulan? Jawabannya sangat relatif. Lalu apakah benar bahwa waktu akan menjadi penyembuhnya? Aku pun tak tahu. Aku hanya sedang berusaha menjahitnya, menyatukan kembali kepingan yang patah. Meski pada akhirnya aku tahu bahwa sesuatu yang patah, sedemikian apapun disatukan kembali ia tak akan lagi sama. Namun biarkan saja. Aku hanya ingin menyatukan kembali. Tak peduli apakah jaihtanku akan kuat menjalin atau kendor yang membuat jahitannya kembali lepas. Kuharap yang pertama.
Pekan keempat di bulan terakhir pada hari terbaik di setiap pekannya. Kau mengambil waktu yang tepat, setelah ashar menjelang magrib. Ini adalah harinya. Barangkali kau akan sangat tampak gagah dengan koko putih dengan jas hitam legam. Nenekmu pasti akan sangat bahagia karena permintaannya kau penuhi sebelum beliau menghadap Ilahi. Seperti katamu dulu.
Tapi sayangnya seberapappun aku berusaha, bagiku kau sudah bukan prioritasku lagi. Sama saja kan? Bahwa sekarang aku juga bukan prioritasmu lagi. Dan tidak akan pernah menjadi prioritasmu.
“Bu Raya, anda harus berangkat ke Bali menggantikan Bu Salimah yang mendadak vertigonya kambuh. Jika bukan anda siapa yang akan mendampingi siswa jurusan? Saya harap anda bisa memahami kondisi ini.”
Apa? Pergi ke Bali dengan kondisi patah hati? Bagaimana rasanya berlibur dengan perasaan yang tak karuan begini. Jika pun bertukar nasib dengan Bu salimah jug aku tak mau. Vertigo, tidak membayangkan saja aku jadi pusing. Duani berputar-putar tak karuan, mau muntah tak bisa keluar. Ingin menutup mata serapat-rapatnya dan rasanya ingin pingsan saja biar tak terasa. Jadi, apa daya, bahkan aku tak punya alasan. Haruskah ku bilang bahwa aku sedang sakit saja. Pasti bakalan ditanya sakit apa? Mana mungkin aku menjawab bahwa aku sakit hati. Ya sudahlah aku berangkat. Barangkali untuk sementara waktu aku bisa lupa rasa sakitnya. Setidaknya aku tak jadi melihat mereka berdua di hari bahagia bukankah di kali pertama aka tahu bahwa Reza akan menikah sempat terbesit di hati, aku tak akan pernah bertemu selama aku belum menikah. Barangkali memang ini jawabannya.
Kami menempuh hampir sehari semalam. Berangkat pagi sekitar jam tujuh kemudian sampai di pelabuhan ketapang jam tiga dini hari. Selama di perjalanan aku tidur. Memuas-muaskan diri, membalas tidur siang yang tak pernah kesampaian jika aku mengajar. Bangun hanya untuk makan, sholat dan buang hajat. Selebihnya tidur. Sampai teman sampingku terheran-heran.
“Bu Raya ndak capek tidur terus? Mana pules banget.”
Aku hanya tersenyum. Tunggu, aku bisa tersenyum juga setelah kemarin patah sepatah-patahnya. Baiklah aku akan menikmati perjalanan ini. Semoga ketika pulang nanti hatiku akan jauh lebih tenang.
Sampai di pelabuhan ketapang, beberapa anak laut mulai berenang, menyebburkan diri di lautan lepas pukul tiga dini hari. Mereka meneriaki kami yang diatas pelabuhan untuk melempar koin.
“Kak, lempar Kak, lempar”
Aku mengeluarkan dompet kecil kepala koala berwarna biru. Telinga satunya entah lepas kemana. Aku membuka resletingnya mengambil beberapa uang logam pecahan seribu. Melemparnya jauh sambil berteriak. Koin itu terlihat kelip-kelip meluncur ke dasar laut diserbu beberapa anak laut yang berebut mengambilnya. Barangkali patah hatiku tak sepatah mereka. saat anak seumuran mereka masih terlelap di kasur empuk dan selimut hangat pukul tiga dini hari. Sedang mereka menyeburkan diri di lautan lepas tanpa rasa dingin. Barangkali rasa dingin telah menguap dari diri mereka.
“harus dengan teriak ya Bu?” tanya seseorang.
“Iya, kenapa ada masalah?” jawabku sinis sambil melengos.
Orang ini tak di sekolah, tak di tempat lain selalu komentar apa yang kulakukan. Apa tak ada kerjaan lain selain mengomentariku.
Kupikir mengunjungi Tanah Lot dengan deburan ombak yang memecah karang, berdiri menatap lurus sambil merasakan deburannya. Atau menatap senja sambil duduk memeluk lutut di pasir tak beralas apapun di Pantai Pandawa hingga warna jingga tergantikan dengan gelap semesta. Atau melihat sebagian bali dari atas saat berada di Garuda Wisnu Kencana. Menapaki tangga demi tangga diantara bukit batu yang dipotong sedemikian rupa. Hingga nafasku terengah-engah dan rasanya ingin menyerah. Berharap semua itu akan menyembuhkan lukaku. Kenapa justru aku dihajar sepi mati-matian. Menatap banyak orang justru malah terasa hampa. Aku tahu, aku tak perlu kemana-mana untuk menyembuhkan luka. Sejauh apapun aku berusaha melupakan justru dia serta merta hadir di depan mata dalam bayanganku. Aku tak perlu jauh-jauh sampai menyebrang lautan, melewati banyak kota hanya untuk melupakanmu. Tak akan pernah terlupa. Karena aku belum bisa menerima.
Lagi-lagi aku menangis. Meski aku tak mendapatkan apa yang aku harapakan di sana. Namun, aku mendapat pemahaman baru sepulang dari kota itu. Ya, tentang penerimaan. Aku menerima irisan takdir ini dari Penciptaku. Aku menerimanya, menerima keyakinannya untuk berjuang dengan seseorang yang ia pilih. Menerima alasannya, tak bisa menolaknya. Aku percaya bisa jadi menurutku ini teramat sakit, namun bagi Penciptaku inilah tanda kasih sayangNya. Hanya saj aimanku yang sedang rombeng dan pemahamanku tentang hidup teramat dangkal.
Aku tak akan pernah lupa hari bahagianya. Di hari itu aku masih sempatkan berkirim pesan. Menguatkan hati mengetik satu demi satu huruf sampai tersusun kalimat.
“Selamat ya, maafkan aku yang tak bisa datang, ada tugas mendadak ke luar pulau”
Aku tak mengharap dia membalas. Itu hanya kalimat pemberitahuan. Kontak nomorny sudah aku hapus. Meski percuma saja, aku bahkan hafal nomornya di luar kepala. Tak apa. Ini usahaku.
Aku bersiap dengan hati yang baru, seorang kakak tingkat ketika semsa SMA menawariku.
“Kepala sekolah, sedang menempuh S2, orangnya baik, tipe kamu lah, mau ya?”
“Apa dianya mau?” aku tak yakin.
“Ya dicoba dulu Raya, kenalan, kalau klik dapet chemistry baru lanjut, oke?”
Kami bertukar nomor ponsel. Dia sopan. Meski terkesan basa–basi. Harusnya aku berempati tidak semua kaum adam bisa langsung berbicara lancar langsung menyasar pada maksud dan tujuan. Ada yang beberapa harus menempuh basa-bsasi dulu untuk menenangkan dirinya yang bisa jadi gemetaran saat mengetikkan huruf demi huruf.
“Raya ngajar apa? sekarang lagi dimana?”
“Ngajar matematika Pak, ini udah pulang.”
“Keren ya, gak semua bisa mata pelajaran itu.”
“Bapak tu yang keren, mipin sekolah , masih ngajar masih bisa nyambi kuliah juga”
“Aku biasa aja, yakin mau manggil saya bapak? Hanya karena saya kepala sekolah? kita hanya beda satu tingkat kan?”
“Enggak sih, Cuma kurang nyaman saja, panggil saja Mas atau langsung nama saya.”
Kami berkenalan, menyampaikan visi hidup kedepan. Mimpi-mimpi yang ingin kami raih. Dan tapak-tapak kecil untuk mewujudkannya. Kami tak sering bertemu. Hanya sempat sekali di perkenalan awal. Pun itu didampingi. Namun sore itu, masih sama rasanya. Sebuah kabar yang menyesakkan dada, untuk kali kedua.
“Raya, maafkan aku tak bisa melanjutkan proses ini karena Ibu tak restu,”
Aku hanya bisa tertunduk. Menghela nafas pelan-pelan. Membiarkan linangan itu turun. Tak ada yang salah. Aku juga tak akan menikah jika Ibu tak restu. Mau seperti apapun kita memperjuangkan seseorang, restu Ibu adalah pintu gerbang kelapangan jalan ke depan. Aku pun tak akan bertanya pula sebab apa yang membuat Ibunya tak restu. Tak perlu. Satu kata, ini bukan takdirku.
Sebenarnya, pasca Reza menikah beberapa datang. Namun aku dengan bebalnya, belum siap berproses kembali, aku belum bisa membuka diri. Masih ingin menyembukan luka. Beruntung dikaruniai Ibu yang pengertian, tak pernah memaksa putrinya hendak menikah dengan siapa.
“Kehidupan pernikahan kelak kamu yang akan menanggung sebab akibatnya. Ibu tak akan memaksa. Kamu bisa menentukan pilihanmu sendiri. Ibu hanya bisa bantu dengan doa”
Begitu katanya. Menentramkan. Tak pernah sekalipun beliau menyinggungku dengan bertanya seputar pernikahan, tapi aku tahu beliau amat sangat ingin agar aku segera menggenap. Aku pernah dengar lirih doanya di sepertiga malam sambil terisak-isak. Maafkan aku Ibu, andai jodoh bisa dibeli akan kubelikan satu yang terbaik untukmu.
Waktu melesat dengan cepat. Setahun terasa begitu cepat. Kudengar putra pertamamu lahir. Tak terasa aku bisa melalui setahun tanpamu. Meski tak mudah aku terus mencoba. Ada kalanya aku teringat dirimu. Dulu sebelum Reza menikah ketika tetiab aku teringat, seperti firasat bahwa dia sedang sakit. Namun setelah dia menikah jika pun persaan yang semacam itu muncul aku dengan sengaj amembiarkannya. Karena buat apa? Toh sudah ada istrinya yang akan merawatnya. Dia ringkih, ya masuk angin, ya diare, ya jatuh dari motor. Suatu kali dia pernah berkirim pesan.
“Kamu hamil? Sama siapa?” aku tertawa mengejeknya.
“Ngawur, masuk angin Ra!”
“Aduh Ra! Aku diare ini bolak balik ke kamar mandi.”
“Makan apa? Mesti makan di tempat kotor, coba inget-inget habis makan apa? Makany akalau makan liat-liat tempatnya bersih gak,” aku memberondongnya dengan banyak pertanyaan bertubi-tubi sudah selayaknya dokter saja.
“Minum oralit, ada gula ama garam kan, nah itu. Gulanya satu sendok kecil ama garamnya seujung sendok kecil aja, ada air panas kan? Kalau gak ada rebus aja sebentar, balur perut ama telapak kakimu pake minyak kayu putih. Punya gak ?” pesanku tak terjawab. Pasti dia sedang lari terbirit-birit ingin segera ke kamar kecil. Aku tertawa geli mengingatnya.
Seberapapun aku ingin tahu kabarnya aku menahannya kuat-kuat. Sebagaiman kelak aku menginginkan suamiku menjaga diri dari perempuan lain. Maka aku menjaga perasaan istrinya untuk tak berkabar dengannya. Bukan untuk memutus, tapi untuk menjaga.
Sedang aku begini-begini saja. Tak ada perubahan signifikan. Berangkat mengajar. Berdiri sebentar di depan toko textile di samping sekolah. Melihat koleksi kain terbaru yang dipakaikan di manekin. Ternyata kainnya sudah ganti. Beberapa bulan belakang tile abu-abu berhias kelap kelip payet swarovski. Anggun tapi sendu. Namun sekarang sudah diganti dengan manekin yang dipakaikan kain silky berwarna peach pastel, payet swarovskinya tak sebanyak kain tile abu-abu namun manis. Sederhana tapi begitu elegan. Aku berhenti agak lama, warna favoritku. Aku tersenyum. Kapan ya, mengenakan gaun dengan warna itu di hari bahagia.
“Mau bareng nggak naiknya,” suara itu tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
Namanya Yuda. Teman seangkatan jaman SMP yang sekarang jadi rekan ngajar. sering banget mengomentariku. Dari sepatu kets yang kupakai, jilbab yang tak simetris, aku yang kurusan. Rese.
“Jangan berantem mulu, nanti jadi suka lho atau barangkali jodoh.”
“Tuh Ra, dengerin! kalau jodoh gimana?”
Bagiku mau dikecengin seperti apapun kalau emang dia gak ada niat ya tetep aja gak serius. Aku gak perlu perprasangka, berasumsi dan mengira apa-apa. Kalau emang dia baik ya karena dari orok dia baik. Tunggu, dia baik dari mana? Enggak deh. Perhatian? Seingetku enggak, pernah satu kali sih ngasih kursi waktu aku selesei presentasi. Itupun karena disuruh Kepala Sekolah. Tapi yang sering aku lihat dia sering curi-curi pandang. Kalau tertangkap basah, aku pelototin aja. Dasar nyebelin.
Aku hafal nomer itu. Aku ingin menjawab tapi urung, tapi kenapa malam-malam dia berkirim pesan.
Sepuluh menit kemudian, suara pintu diketuk sambil salam terdengar.
Ibu bergegas membukakan, sedang aku menarik selimutku. Pura-pura tidur. Aku paham sekali suara itu, namun untuk saat ini akau masih saj atidak siapp untuk bertemu.
“Mas Reza, ya Allah, sampai pangling. Kenapa malam-malam?”sapa Ibu
“Saya ada acara di kota sebelah, karena lewat sini makanya mampir, Raya udah tidur ya Bu?”
“Belum, sebentar ya Ibu panggilkan, silahkan duduk dulu.”
“Ra,Ibu tahu kamu belum tidur. Tuh kakinya masih gerak-gerak gitu. Sana temui, Ibu panggilkan Bapak sebentar.”
“Aduh Ibu, apa susahnya sih bilang Rayanya udah tidur kecapean tadi ada les sampai malem,” gerutuku sambil mengenakan jilbab.
“Eh, Mas Aldo, Riyan, dari mana?”
“Ehm, aku gak ditanya Ra!”
“Gak keliatan, soalnya pake jaket item, Reza Fahreza.”
“Alhamdulillah, kamu? Eh kalian apa kabar?”
“Baik, lagi hamil dia, doain ya Ra!”
Aku hanya mengangguk. Mereka ngobrol sebentar dengan Bapak dan Ibu kemudian pamit.
“Aku seneng kamu sehat. Jaga diri baik-baik ya, jangan sakit. Kabari aku kalau mau nikah.” uacapnya berat ada beberapa kata tersangkut di tenggorokan yang bahkan aku tak bisa mendengarkan secara jelas.
Aku hanya mengangguk. Kenapa perkataanya terasa berat, aku bahkan membuang muka saat dia berpesan agar menjaga kesehatan. Kau tak perlu khawatir dan memastikan apakah aku baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja bahkan setelah tanpamu. Bukankah kau juga demikian?
Aku menatap punggungnya yang mulai menjauh dari penglihatan dengan pandangan kosong.
“Bapak dan Ibu saya mohon izin meminang putri Bapak dan Ibu untuk sama-sama berjuang dengan saya. Apakah berkenan?”
Bapak Ibu saling berpandangan,
“Keputusan ini kami serahkan sepenuhnya pada Raya,”
Aku mengintip dari balik gorden ruang tengah. Sebuah cincin bermata yang kerlip diterpa lampu ruang tamu. Mirip Swarovski tadi yang aku lihat di kain toko textile. Aku berjalan menuju ruang tamu, duduk di depannya.
Jikapun kau membayar maharmu dengan tunai setelah bertahun-tahun yang lalu kau mencicilnya dengan perhatian, kabar baik, dan lelucon yang membuatku tertawa bahagia. Namun pada akhirnya, aku tak bisa. Kukira kita sama-sama berjuang, namun ternyata aku berjuang sendirian. Sama halnya denganmu ketika kau bilang, aku yakin padanya, tak ada alasan untuk menolaknya. Aku juga sama, aku sangat yakin untuk menolakmu.