Pemoeda jang bernama Abdoel Moeis itoe hanja sedikit Boemipoetra jang dapat sekolah di H.B.S. Oentoeng orangtoeanja bisa bajar sekola boeat si boejoeng. Dapatlah ia pengaroeh Eropah dari sekolahnja. Sedang ia djuga senang bergaoel dengan bangsa Eropah & Indo. Pakeanja dari udjung kepala-kaki tiada bedanja dengan anak Eropah & Indo. Djuga soeka bertjakap2 Belanda. Habis sekolah, si boejoeng dapat kerdja di Bandoeng. Ia tetap bergaja Eropah. Dengan oepahnja jang coekoep, dibelinja pula itoe sepeda bikinan Inggris. Sepatunja djoega, adeohi sedap dipandang. Tida taoenja, kelakoean si boejoeng bikin iri-dengki Pembesar Kaboepatenan Bandoeng. Dalem Boepati & Patih Bandoeng tak soeka lihat ada Bumipoetra bersepatoe. Hanja sepatoe, soedara! Betapa spelenja! Patih marah, tak ada ampoen, kirim djawara boeat kasih peladjaran itoe pemoeda soepaja taoe adat. Pemoeda Abdoel Moeis ditjegat didjalan, disuruhnja lepas itoe alas kaki soepaja berceker ajam. "Tak ada larangan boeat orang pake sepatoe," djawab si pemoeda garang. Jang tjegat lebih2 garang: bawa2 rotan boeat tjambuk si pemoeda tak taoe adat. Dipukullah Abdoel Moeis sampai berdarah. Sepeda jang djadi kebanggaan djuga ikoet diroesak. Abdoel Moeis merangkak ke kantor Polisi. Taoenja, Polisi djoega tak ikoet oeroes. Marko jang ikoet djadi saksi kedjadian itoe geram. Ia toelis beritanja di Medan, soepaja orang banjak taoe kelakoean Patih Bandoeng. Sadoeran dari noekilan roman Djedjak Langkah karja Pramoedya Ananta Toer. Apakah ada kaitannja antara Abdoel Moeis dalam tjerita dengan Abdoel Moeis (1883-1959), sastrawan kita peneolis "Salah Asoehan"? #bookstagram #book #pramoedyaanantatoer #abdoelmoeis







