“Suatu Hari, Aku Masih Mencintaimu.” Balasku pada Adi K (Sebuah Review)
Pada malam-malam, aku sering memungkinkan ketidakmungkinan,
Mungkin aku
hanya bermimpi
Mungkin kau
tidak pernah ada (Hal 17)
Dan, keesokan harinya aku disambut fajar. Namun rasanya aku ingin lagi kembali terlelap, mempertanyakan..
Untuk apa aku
terbangun hanya untuk
merayakan kepedihan
lebih baik aku tertidur lagi
atau mati (Hal 18)
Masih saja, lelapku hari ini diganggu oleh
Sebuah mimpi mengagetkan malam. Sengalnya napas membangunkanku dari tidur yang tak seberapa panjang. Kerongkongan tercekat. Tubuh berbalut keringat. Air mata membangunkanku yang kedua. Tetes-tetesnya mengingat-ingat kembali mimpi yang mungkin sebenarnya tak ada. Suara-suara dalam kamar ini membangunkanku yang ketiga. Ternyata masih sama. Tak kudengar lagi apa-apa. (Hal 27)
Perih meronta, mengulang kembali sebuah memoria
Di dada itu, Sayang.
aku ingin mengulang
kepedihan-kepedihan
yang tak pernah
terbayangkan. (Hal 34)
Dan, aku masih suka menceritakanmu dan mengundang tanya.
Kembang api memanggang malam
air mata jatuh ke bulan
rindu diam-diam pergi
ketakutan mati bunuh diri
kepedihan pulih dari sakitnya
gairah-gairah berpesta pora (Hal 43)
Buku ini membuat saya terus menerus terkagum dengan padanan diksi yang masyaAllah indahnya. Sekali buka lembar baru, ambil sticky notes tempel lagi. Mungkin bisa dibilang keseluruhannya menjadi faforit. Buku yang ditulis Adi K ini benar-benar membuat saya jatuh cinta pada puisinya. Rekomen sekalih!
Temukan cinta, luka dan harapan sebuah asa pada puisi-puisi Adi K








