Pertama, saya mau bilang kalau apa yang sudah Tuhan larang pasti baik untuk hamba-Nya. Kedua, saya juga paham kalau putus itu nggak mudah.
Tulisan ini terinspirasi dari kasus percintaan masa kini terutama para remaja. Saya pernah ada diposisi "yasudah kita jalanin saja dulu," kemudian saat ini saya nggak bisa ada diposisi tersebut, bukan nggak bisa lebih tepatnya tapi nggak mau, karena saya butuh kepastian.
Kita pacaran buat apa? pasti banyak yang jawab untuk saling mengenal satu sama lain dan buat saya itu sah-sah saja tapi ada satu yang kadang dilupakan mereka yang jatuh cinta, 'mau dibawa kemana hubungan ini?'. Mungkin akan ada yang komen "Masih kecil kelles, lo mah mikirin nikah mulu," hahaha, ya nggak apa-apa komen begitu itu hak kamu.
Tapi percaya deh, cepat atau lambat kamu butuh jawaban dari "Mau dibawa kemana hubungan ini?" waktu berjalan maju, kamu sudah bukan anak kecil yang butuh coklat dan rayuan, kamu butuh kepastian akan masa depan.
Kenapa kita harus bertanya 'mau dibawa kemana hubungan ini?' Karena kalau kita nggak nanya kita nggak akan tahu jawabannya, kita nggak akan tahu dia serius apa nggak sama kita. Cinta itu soal perasaan, emang kamu mau perasaanmu dimainin gitu saja? Kalau kamu maunya serius dan ternyata dia masih ingin main-main, kamu maunya dia jadi yang terakhir tapi dia maunya kamu hanya sebatas pemanis kisah cinta.
Teman, jatuh cinta itu hak semua orang tapi jangan sampai kamu terbuai akan cinta itu sendiri sebab cinta bisa jadi hal positif bisa juga jadi hal negatif. Kasarnya gini, cinta boleh bego jangan.
Kemudian kalau dia sudah jawab, "aku serius kok sama kamu." Minta aksinya jangan cuma perkataanya saja. Contohnya saya #kalaubukansayasiapalagi😂.
Ketika seseorang sudah bilang mau serius , saya akan berikan dia daftar kriteria lelaki saya, kemudian saya juga tanya ke dia, "kamu mau perempuan seperti apa?", loh kok saling nuntut si? Bukannya cinta itu nerima apa adanya ya? Saya rasa sah-sah saja menuntut untuk kebaikan apalagi ini soal masa depan, sesuatu yang bukan permainan. Tapi perlu dicatat ya, menuntutnya sewajarnya saja, yang dia bisa lakuin, contohnya saya nuntut lelaki saya untuk shalat 5 waktu, simplenya kalau dia nggak bisa dan nggak mau, 'Tuhannya saja ditinggalin apalagi saya?'
Kemudian, jangan hanya mikirin,' besok libur, kita mau kemana?' tapi sudah saatnya berpikir, 'kamu sudah nabung buat nikah?' nikah itu butuh biaya teman, persoalan biaya tidak bisa dipungkiri menjadi alasan banyak orang belum menikah juga, benar nggak? hayo jawab jujur. Inggat ya, menikah itu bukan hanya mempersatukan kamu dan pasanganmu tapi juga keluargamu, mungkin kamu ingin pernikahan yang sederhana tapi apa keluargamu setuju? Jadi saya rasa menabung untuk pernikahan dari sekarang itu perlu, ya jika nanti keduanya sepakat menyederhakan pernikahan tidak apa-apa, uangnya bisa untuk keperluan yang lain, misalnya beli rumah.
Kemudian jangan lupa tanyakan progresnya serta target. Kenapa harus ditarget? agar lebih semangat dan tidak main-main dalam mempersiapkan masa depan. Agar kamu dan pasangan tidak terbuai oleh asiknya pacaran dan melupakan pernikahan. Sederhanya jangan sampai, pacarannya sama siapa nikahnya sama siapa :).
Untuk yang masih sendiri, nggak usah galau melihat yang lain sudah berpasangan, percayalah bahwa kelak kamu akan bertemu si dia, cepat atau lambat.
Tulisan ini tidak mengajak kamu untuk berpacaran tapi untuk mempersiapkan masa depan, tapi kok judulnya pacaran? Iya, biar menarik :D. Biar anak muda mau baca, coba kalau saya kasih judul, 'mempersiapkan pernikahan', pasti sudah pada malas bacanya. Ini semacam strategi, teman.
Sekali lagi, saya tegaskan bahwa saya tidak mendukung pacaran tapi saya tidak menghakimi juga mereka yang berpacaran.
Saya mendukung anak muda untuk tidak bodoh dengan cinta, untuk tidak asal terima pasangan asal tidak disebut jomblo, untuk berpikir kedepan soal masa depan.
Anak muda yang menyayangi anak muda lainnya