Hari ini aku makan pempek kemudian aku mengenang.
Ketika itu aku belum lulus sekolah dasar. Aku merengek pada kedua orangtuaku untuk diberikan uang jajan lebih, "uang segitu dapat apa?". Sungguh, aku sangat menyesal berkata begitu padahal bisa ikut les ini saja karena gratis. Bapakku seorang penjaga air isi ulang, kalian pasti paham.
Uang itu aku belikan makanan yang dikemudian hari aku tahu namanya 'pempek'. Kamu tahu? Dulu, rasanya aneh sekali, bahkan setelah mengantre, makanan itu aku buang. Ketika itu aku hanya ikut teman-temanku yang jajan pempek, kata mereka enak. Tapi ya, tidak untukku.
Kemudian aku kembali melihat teman-temanku membeli pempek dan lagi-lagi mereka berkata itu enak. Aku kecil memperhatikan teman kecilku lainnya, dia berbeda. Dia membeli pempek tanpa kuahnya, ketika itu ditemani ibunya. Akhirnya aku kembali kepada abang pempek, tanpa kuah, atau entah itu apa namanya.
Dan ya! Aku suka pempek tanpa kuah itu. Dulu kupikir aku akan selamanya begitu, tapi siapa sangka? Aku SMP justru sering kali membeli pempek beserta kuahnya, bahkan pernah keluar asrama tengah malam demi si pempek.
Kini usiaku belum genap dua puluh tahun. Aku masih suka pempek tapi tidak terlalu, ya semua memang ada masanya.
Dari pempek aku belajar bahwa apa yang orang lain suka belum tentu kita suka— belum tentu sependapat. Bahwa kita tidak harus selalu sama, meski sama-sama manusia.
Darinya aku juga belajar berproses menyukai. Bagiku, kembali mendatangi penjual pempek itu proses, coba kalau aku menyerah? Mungkin sampai kapan pun aku tidak akan tahu enaknya si pempek. Maka benar bahwa kita tidak bisa selalu menilai segala sesuatu dengan sekali pertemuan.
Kadang kita terlalu sibuk belajar dengan hal besar padahal ada hal-hal kecil yang sering kali memberi pelajaran berharga— sadar atau tidak.