Aku Ingin Pulang*
Malam itu udara terasa dingin menurut ukuran musim penghujan. Jam sembilan nanti, aku akan berlayar ke Jawa. Di sana aku akan bertemu dengan anak-istri. Melupakan segala, hanya memeluk mereka. Duduk di tengah mereka, sambil merasa terharu melihat anak-anak sudah besar, lebih dewasa dari dua belas tahun lalu.
Akan tetapi, ketika aku mulai tersadar dan membuka mata, ini belum jam sembilan. Masih ada tiga jam lagi sebelum kenyataan pahit ini sirna dan aku akan meninggalkan kawan-kawanku di barak Namlea, Pulau Buru.
Dua belas tahun sudah aku berada di daerah asing yang awalnya hutan gelap tak bertuan. Bersama ratusan orang, yang beberapa kukenal mereka, tapi sebagian besar aku tak tahu siapa-siapa. Aku menangis. Sama halnya ketika kapal yang aku tumpangi menyusuri Selat Madura, aku tak bisa menahan air mata.
Ketika dibawa ke Pulau Buru, anakku masih kecil-kecil. Kini aku sudah punya dua cucu. Tapi lucunya, dalam mimpiku, anak-anakku masih kecil-kecil, seperti saat aku meninggalkan mereka, Barangkali karena aku sudah tidak tahu lagi bagaimana keadaan mereka sekarang. Walaupun demikian, aku berharap anak-istriku masih tetap mencintaiku seperti semula.
Aku akan balik ke Jawa meninggalkan Mbah Mitro—juga ribuan tahanan politik lainnya. Pria buta aksara yang tak tahu umurnya berapa, punya lima orang anak dan tak bisa berbahasa Indonesia. Kami bertemu di Inrehab Unit 1, kami bekerja sebagai penjaga ladang di sana. Dua belas babi hutan pernah kami tangkap dengan perangkap yang kami buat. Pada Natal tahun lalu, kami memakan daging babi yang kami tangkap untuk yang terakhir kali.
Pernah kami berpesta daging ular piton yang ditangkap oleh Mbah Mitro. Kami awalnya kaget melihat Mbah Mitro yang penakut itu melemparkan ular besar tak berkepala ke depan kami. “Ayo, kulitono, kita pesta! hehehe”. Usut punya usut, Mbah Mitro mempertaruhkan nyawanya melawan seekor ular besar yang hampir dua meter panjangnya tersebut hanya karena ayam. Ia mempunyai seekor ayam betina yang sangat disayanginya, karena ayam itu bisa memberi penghasilan baginya. Dengan telur ayamnya, ia bisa membeli rokok atau untuk membeli celana.
Seperti biasa, siang itu Ia sedang membiarkan ayamnya berkeliaran di ladang. Tiba-tiba datang seekor ular menelannya. Mbah Mitro yang penasaran mengambil parang yang tak tajam,sebuah properti ketoprak, dan dikejarnya ular itu.
Dalam pesta itu, penuh sombong Mbah Mitro berkisah bagaimana ia begitu kesal dengan ular yang bisa saja melahapnya juga. “nDase plingak-plinguk, bade nyatek kulo, kulo ajrih, bade mlajeng mawon. Ning bade kelingan ayam kulo, kulo nekad. Batin kulo, kok kebangeten tenan kowe, mangan kewanku sing tak tresnani, Mati bareng tak lakoni, Le. Rasakno iki. Lajeng mak bett, gaman kulo ngenani gulune. Piyambake tenger-tenger sekedap, kulo babat malih. Terus ‘dut’ sampun, hehehe”. (Kepala ular itu menoleh ke kanan-kiri, mau mematukku. Semula aku takut, rasanya mau lari saja. Namun, serentak teringat ayamku, aku nekat. Kupikir, kok keterlaluan kamu, menelan hewan kesayanganku. Aku rela mati bersamamu keparat. Rasakan ini. Dan, bett, parang yang kuayunkan hinggap di lehernya. Ia menggelepar sejenak, terus aku sikat lagi. Akhirnya ia mati, hehehe). Begitu cerita Mbah Mitro mengisahkan pertarungannya dengan ular, pemakan ayam kesayangannya.
Banyak lagi cerita menyenangkan bersama Mbah Mitro. Tapi beberapa hari belakangan ini, setelah ia tahu kabar bahwa ia bukan termasuk dari 1500-an orang yang akan dipulangkan ke Jawa. Dan ia tahu bahwa aku yang akan balik ke Jawa, Ia terus-menerus berkata bahwa ia sangat rindu dengan istri dan kelima anaknya, ia menyuruhku menjenguk keluarganya di Sawangan, Magelang dan memberi surat yang telah ia titipkan padaku. Surat yang kutulis dengan penuh dekte darinya, yang pada inti surat, ia berharap masih diterima oleh istri dan anaknya ketika suatu saat nanti pulang ke Jawa, ke rumahnya.
Pulau Jawa, seakan surga bagi warga unit-unit Inrehab. Jawa dengan segala bayangannya, lebih-lebih dengan kesetiaan keluarga yang menanti kami. Setiap ada sandiwara, tema lakonnya selalu sama dengan kerinduan tersebut.
Di Unit III pernah dipentaskan sandiwara ludruk, lakonnya “Setia Menanti”. Dalam lakon itu diceritakan tentang tugas dan cinta. Bagaimanapun juga cinta sejati tidak seperti cinta palsu. Biar cacat, kekasih sejati pasti dengan sabar menanti idaman hatinya. Kekasih itu berkeyakinan, biar idaman hatinya cacat, tapi hatinya tidak cacat. Pulanglah idaman hati yang cacat itu, dan tetap diterima oleh yang terkasih. Sebelum layar ditutup, berkatalah sang kekasih yang menunggu, “Kaulah idaman hatiku seorang”.
Namu, tak semua lakon akan berakhir menyenangkan. Pernah aku melihat di unit R pernah dipentaskan ludruk berlakon “Djembatan Patah”. Kisahnya tragis, tentang dua sejoli yang tak bisa bertemu kembali, karena salah satunya membuat kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Judul lakon itu terasa kurang apik, maka kawan-kawan menggantinya menjadi “Tiada Maaf Bagimu”.
Sebuah judul yang didasari oleh bayang-bayang kekhawatiran. Jangan-jangan keluarga kami tidak akan menerima kami lagi. Apalagi beberapa kawan mendengar bahwa istri mereka kawin lagi, setelah mereka tinggal pergi. Aku pun sama khawatirnya, semoga aku diterima kembali. Pun juga Mbah Mitro.[]
*) Cerita ini saya sadur dari feature karya Sindhunata yang berjudul “Bila Jam Sembilan Malam Tiba”. Kompas, Jumat, 6 Januari 1978.













