Bilal dan Akung bobok siang 2025/05/18. @ahlulhikmah @imeskaworld

seen from Brazil

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from Australia
seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Czechia
seen from Germany

seen from Türkiye
seen from Japan

seen from Italy
seen from Czechia

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United States

seen from Portugal
Bilal dan Akung bobok siang 2025/05/18. @ahlulhikmah @imeskaworld
Berburu Daun
Ada satu hal, yang sependek ingatanku hampir tidak pernah Akung lewatkan semasa beliau hidup. Hal itu adalah berburu daun!
Ya, daun! Dengan bersenjatakan tongkat kayu yang dibagian ujungnya dipasang paku panjang, Akung memburu dedaun nakal yang berani mengotori halaman rumah stoplas.
Satu, dua, tiga..., dengan tekun, Akung menusuk satu persatu daun-daun yang berserakan di halaman. Jika tumpukan daun di paku sudah penuh sehingga tidak ada lagi ruang di tersisa di batang paku, Akung akan membuangnya ke tempat sampah di bawah pohon jambu air di halaman depan. Lalu, kembali berburu daun lagi.
Aku tidak pernah benar-benar paham alasan dibalik "keistiqomahan" Akung dalam berburu daun tersebut. Hingga dalam kondisi sakit pun, akung tidak mau melewatkannya. Asalkan masih kuat berdiri dan berjalan, bagi Akung, aktivitas berburu daun tak boleh berhenti.
Padahal sakit yang diderita Akung bukan penyakit receh lho. Akung mengidap paru-paru akut sehingga kami harus menyiapkan tabung Oksigen di rumah Stoplas. Bukan tabung Oksigen portable, melainkan tabung Oksigen besar seperti yang dipakai di rumah sakit. Nah, kebayang kan gimana seriusnya sakitnya Akung.
Lagipula, sebenarnya tanpa akung harus berburu daun pun, halaman depan setiap hari juga kami sapu. Meski memang, bersihnya tak tahan lama. Bagaimana tidak, di halaman depan ada tiga pohon jambu air besar yang begitu gemar berganti baju, alias merontokkan daun-daunnya.
Apakah sekedar karena gemar? Apakah karena Akung begitu mencintai kebersihan sehingga tidak tahan melihat daun coklat berserakan? Atau apakah karena
Apapun alasannya, aku berdoa perburuan daun tersebut Allah catat sebagai kebaikan. Dan, semoga setiap helaian daun yang Akung bersihkan selama hidupnya menjelma dedaun pohon besar di halaman rumah Akung di jannah-Nya. Aamiin. Nanti, mudah-mudahan kita bertemu lagi di surga ya, Kung!
Akung.
Akung itu kependekan dari Eyang Kakung, sebutanku untuk kakek dari pihak Bapak. Sebenarnya beliau orang asli Palembang, lahir dan besar di Dusun Kerinjing, sebelum merantau untuk sekolah di Fakultas Kedokteran UGM dan lanjut jadi dokter TNI. Akung berkali-kali pindah tempat, dimulai dari Aceh, pindah ke Palembang, lanjut ke Samarinda, NTB, kembali lagi ke Samarinda, lalu pensiun di umur 56 dan tinggal di Jogja sampai sekarang.
Waktu beberapa tahun lalu akhirnya perdana ke Palembang untuk bertemu saudara-saudara di sana, kami sekeluarga mampir ke rumah keluarga di Dusun Kerinjing, agak jauh dari kota. Areanya masih asri, rumahnya panggung dari kayu. Lalu kami juga ke kompleks TNI di dekat Kuto Besak, lihat rumah dinas yang dulu ditempati waktu Akung ditugaskan disana.
Kali kedua dipanggil ke Samarinda, Akung diminta untuk jadi kepala rumah sakit yang baru dibangun, tanpa ada peralatan apa-apa sama sekali, tanpa anggaran. Untungnya, kata Akung waktu itu tentara masih sangat disegani, jadi beliau kirim surat ke perusahaan-perusahaan, bukan untuk minta uang, tapi untuk meminta peralatan dan kelengkapan rumah sakit. Untungnya, ada teman Akung yang jadi dokter di RS Pertamina di Bontang, yang baru saja ganti mesin dan alat-alat, jadi beliau menawarkan untuk mengambil apa saja yang dibutuhkan dari gudang. Selain itu, dari rumah sakit lainnya yang juga baru mengganti tempat tidur pasien, RS yang dipegang Akung bisa mendapatkan 70 unit tempat tidur pasien. Dan begitulah, rumah sakit itupun akhirnya dibuka.
Setelah pensiun dan tinggal di Jogja, Akung dipanggil lagi untuk jadi kepala rumah sakit di Palembang, tapi Uti (Eyang Putri) nggak mau. Katanya, kalau mau pindah, pindah aja sendiri. Capek sepertinya, sudah hampir 30 tahun pindah-pindah terus. Jadi begitulah, Akung pun sempat praktek di poliklinik dekat rumah, sebelum Uti sakit cukup lama dan meninggal di tahun 2015.
Sekarang Akung sudah tua, sudah 80 tahun. Waktu aku tanya apakah beliau sehat-sehat saja, jawabnya: “Sakit dak, tapi sehat juga dak.”
Iya, segitu dulu cerita tentang Akung, yang kutulis biar aku nggak lupa untuk selalu menyempatkan diri untuk mampir kalau lagi ada di Jogja seperti tadi siang. Semoga Akung sehat selalu.
Family is a gift that lasts forever ♥️ - - - #birthdaylunch #akung #enin #papam #loveyouall ~ (at Bebek Tepi Sawah Living Word Alam Sutra)
Mie Baso Akung
After a long boring meeting suddenly...Lunch time! A friend suggested to go for Mie Baso Akung on jalan lodaya. She sweetly spoke that Akung serves delicious meat balls noodle and extraordinary drinking made of durian. The other friend agreed her. Sounds seducing... Didnt take a long thought, we were on the way to akung a minute later. We ordered our food in panic, everything on menu seem so delicious, but my friend who suggested us here only ordered half portion. I started to think something's happening. But i thought she's a lady, indonesian ladies always eat less than men. That's fair enough. Yamien (noodle with sweet soysauce) and BPTSC bakso, pangsit, tahu, somay, ceker and many more was my lunch this afternoon. Hmm i'm in hunger! In fact, i lose my appetize seeing what i have ordered. I think it was enough for two or three persons actually. Feeling tormented with such a huge portion meal, i started to eat slowly, but never enjoy those meals until i stopped exhausted. The taste was not so special, didnt give me something different, i only loved the ceker i guess. the somay and pangsit made me feeling sick. luckyly i didnt throw up. More thing i had to face was the durian... so sweet, as if my stomach hurt! just listen to our mumbly pumbly speaking on our meals. but still thingkin that the ceker was nice, and the mineral water too! thanks God. If i had to eat there once more, i think i will only order ceker, the only food i enjoy most at akung. Would be better for Akung to reduce portion size, and not to put many things inside the bowl. Yes the taste is not so good, but it's not bad also. all in all, i wont recommend this akung as a favorite place to visit and eat in. thanks to fajri http://fajri.freebsd.or.id where i took a pic of akung.
Itu Tetangga di Meksiko
Yangti (Eyang Putri) bertanya soal keadaan tetangga di rumah.
Yangti: Siapa anak tetanggamu yang suka main sepakbola?
Mega: Hah? Siapa? Bill?
Akung: Pedro?
(Yang bener nama anaknya itu Bill, Rainer dan Delf.)
Mie Baso Akung
Jalan Lodaya no 123 Bandung
Hari Jumat tutup. Jam buka : 10.00-22.000
Range Harga :
Makanan : Rp 10000-30000
Minuman : Rp 3500-12000
hm, maaf buat kualitas foto yang jelek. :)
Kalau ke Bandung, dan nyari mie bakso yang enak. Saya akan jawab Mie Bakso Akung! Mie Bakso Akung ini memang sangat legendaris di kalangan masyarakat Bandung atau luar Bandung. Kuahnya....dahsyat! Dan yang saya pesan siang ini, mie kuah BPC (bakso, pangsit, ceker). Disini juga terkenal dengan es teler dan es duriannya. Es teler+durian juga mantap. Kalau yang porsi makannya kecil. Cukup pesan 1/2 porsi. Karena setengah porsi disini, sama dengan satu porsi mie bakso standar biasanya. Nah, kalau porsinya kuli. Coba satu porsi yang kayak saya, foto diatas. Bakal puas! :)
Mie Bakso 1 Porsi BPC+Es Teh Manis : Rp 25.500.
ULTRA RECOMMENDED*****