Sore itu, ibu-ibu kompleks berkumpul di depan mushola. Mereka tak berdandan berlebihan, tetapi cukup rapi. Tak lama kemudian rombongan bergerak ke rumah Bu Dina.
Seharian ini terdengar suara tangis bayi dari dalam rumah Bu Dina. Kemarin sore ia baru pulang dari rumah sakit setelah melahirkan anak pertamanya. Keluarga Bu Dina belum ada yang datang menemani. Karena ia dan suami adalah perantau jauh, sedang kelahiran bayi lebih cepat dari hari prediksi.
Setelah seorang ibu mengetuk dan mengucapkan salam berkali-kali, keluarlah Bu Dina dari rumah. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Tangis bayi dalam gendongannya juga belum berhenti. Senyum di mukanya ia paksakan keluar.
"Ya Allah, Bu Dina ... sendirian saja sama bayi? Suaminya kerja?" tanya Bu Rastri. Ibu-ibu berpandangan satu sama lain. Tangis Bu Dina pecah kembali saat mengiyakan.
Suami Bu Dina baru saja pindah perusahaan sehingga tidak mendapat cuti melahirkan karena masih harus mengikuti pelatihan. Sang ayah bisa menemani proses kelahiran anaknya yang kebetulan di hari ahad. Namun, ia berangkat kerja hari ini. Praktis Bu Dina harus mengurus bayi merah itu sendiri.
"Dedeknya menangis terus. Lapar, ya?" tanya seorang ibu.
"ASI-nya belum keluar ya, Bu?" tanya ibu yang lain.
"Dedeknya sudah dimandikan? Bisa mandikannya?"
"Sudah pulang hari ini, berarti persalinannya normal, ya? Dapat jahitan nggak, Bu? Masih sakit?"
"Kok bisa, nggak ada yang menemani sama sekali, Bu?"
Pertanyaan-pertanyaan mengalir bagai keran yang terbuka penuh. Bu Dina tampak kebingungan menjawabnya. Mana dulu yang harus ia jawab? Bu Rastri, yang cukup dituakan, melayangkan pandangan peringatan pada para ibu. Semuanya terdiam.
"Bu Dina sudah makan? Ini kami menjenguk Dedek, sama bawa sedikit makanan dan cemilan," ujar Bu Rastri.
"Yuk, masuk dulu, Ibu-ibu. Maafkan kondisi rumah yang apa adanya ini," ajak Bu Dina sembari menyeka air matanya.
"Bu Dina, kami minta izin, ya. Ayo, Ibu-ibu, kita mulai," ajak Bu Rastri setelah semuanya telah masuk dan duduk di ruang tamu.
Dengan luwes, seorang ibu meraih anak dari gendongan Bu Dina yang masih kaku. Ada yang mengambilkan piring dan sendok, lalu langsung menyajikan makanan dan cemilan yang dibawa. Ada yang mulai merapikan ruangan. Ada yang bergegas mengepaki baju-baju bayi untuk dicucikan. Ada yang merebuskan air untuk mandi.
Bu Dina melongo. Ia menurut saja saat diperintahkan untuk makan. Seorang ibu lain bahkan memijat punggungnya ketika ia makan. Selesai makan, Bu Dina diberi kesempatan untuk mandi.
Setelah makan dan mandi, Bu Rastri mengajarkan cara memijat payudara dan memberi ASI. Tak lama kemudian, sang bayi mampu menyusu. Lelehan air mata bahagia menderas di pipi Bu Dina.
Para ibu kompleks mengatur jadwal menemani sang ibu baru hingga orang tua Bu Dina datang--yang rencananya tiga hari lagi.
Ibu baru itu lega. Ia bersyukur mendapatkan tetangga-tetangga yang teramat baik hatinya. Baginya, ini adalah hadiah terindah dari Tuhan.