SORE itu gerimis, kota Solo ketika itu telah di terjang hujan angin selama kurang lebih 2 jam. Sebuah motor matik yang ku tunggangi mengantarkan aku ke salah satu warung makan yang tak jauh dari pusat Kota Solo. Cuaca seperti ini aku rasa cocok untuk menyantap masakan yang berkuah, panas, bumbu yang sedap –Sup Ayam Goreng, serta di temani dengan segelas jeruk panas. Apalagi waktu itu aku habis selesai berenang di salah satu Sport Center. Berolahraga renang selama satu jam setengah membuat cacing di perutku ini meronta-ronta minta jatah makan.
Aku pun langsung memesan makanan favoritku dan dengan selesainya aku memesan, mas-mas pelayan langsung dengan sigap dan tanggap menuju gerobak berisi bahan makanan yang akan diolah menjadi semangkuk sup yang enaknya luar biasa. Tidak beberapa lama pesananku hadir di hadapanku, alhamdulillah. Ternyata warung ini tidak seramai biasanya mungkin karena habis hujan kali ya, biasanya warung ini ramai pengunjung dan kalo memesan harus menunggu, tidak lama sih tetapi tidak seperti saat ini layaknya restoran fast food.
Ada satu hal yang berbeda dikala aku menyantap makanan lezat ini. Kehadiran seorang sahabat ku yang sudah seperti saudara sendiri. Biasanya kami selalu makan disini dikala sehabis renang ataupun sehabis futsal dan dia pula lah yang mengajakku kesini dan mengenalkan kepadaku bahwa sup inilah yang paling enak di seantero Kota Solo. Aku ingat betul dia selalu memesan sup ayam goreng tanpa nasi dan jeruk hangat tanpa gula. Kalian tahu, pelayan warung ini sampai heran dan baru pertama kali dia mendapat pesanan dari seorang pelanggan yang memesan jeruk hangat tanpa gula, seperti biasa sahabat ku menjawab dengan santainya “lagi diet mas”. Bukan hanya itu saja, sahabatku ini dengan brutalnya menghabiskan lauk yang ada di warung ini yaitu Tahu Bakso saking enaknya kata dia. Diet tapi makannya banyak.
Ini pertama kalinya aku makan disini tanpa kehadiran sosok sahabatku tersebut yang sudah kembali ke kota asalnya di Jakarta setelah empat tahun dia merantau ke Kota Solo untuk berjuang dibangku kuliah di UNS demi mendapatkan gelar Sarjana Hukum dan akhirnya dia sudah memperoleh apa yang diinginkannya tersebut.
Disaat kami makan bersama, sering kali setelah selesai makan kami ngobrol santai membicarakan hal random yang absurd, dan diantara banyaknya pembicaraan random tersebut ada satu topik yang memang hingga saat ini aku teringat betul akan pembicaraan kami. Kami membicarakan tentang cerita masa-masa setelah dia pulang ke kota asalnya nanti. Dia bercerita gimana nanti kalo dia udah di Jakarta, udah ga seperti biasanya lagi yang selalu makan sup berdua disini, yang selalu menemani dikala aku pulang kerumah sehabis futsal, renang, ataupun hangout bersama teman-teman lain karena aku harus mengantarkan dia kerumahnya terlebih dahulu yang kebetulan searah.
“kalo seandainya nanti elo kesini, ditempat ini sendiri, pasti elo inget hal-hal yang gue lakuin disini.”
“aku ga tau gimana kalo kamu udah disana sendiri.”
“sedih gue fan, disana pasti gue sendiri, ga ada tempat yang enak kaya di Solo gini, mau kemana-kemana deket, ga macet, mau kumpul tinggal berangkat 15 menit nyampe.”
Teringat pembicaraan itu semua, seakan membuat pikiran ku melayang jauh kembali ke masa lalu dimana di waktu yang sama kami sedang duduk santai menunggu makanan ini masuk ke dalam perut dan dengan cepat pula aku kembali tersadar bahwa ia sudah tidak berada disini lagi. Pembicaraan itu, akhirnya menjadi nyata, disini diwarung sup ayam goreng ini. Seakan kami adalah seorang fortune teller.
Setelah selesai makan, aku menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu café di Solo untuk menikmati teh sebelum aku benar-benar pulang kerumah. Sepertinya enak juga menikmati secangkir teh hangat dulu dikala habis hujan gini. Di café ini kami biasanya nongkrong bareng-bareng entah itu weekend ataupun weekday, kami selalu berjanjian untuk kumpul disini hanya untuk sekedar melepas peluh akan rutinitas perkuliahan. Di tempat ini pulalah kami pulang dengan perasaan senang karena celotehan, candaan bahkan ngebully masing-masing anak yang kumpul disini demi menghibur kami semua dan tidak ada rasa dendam karena memang kami tahu kalo ini hanya bercanda.
Secangkir teh hangat pun aku pesan dan segera tersaji di hadapanku. Perlahan aku seruput teh panas ini, diam-diam aku membayangkan hari-hari dimana aku bersama sahabat-sahabat ku sedang berkumpul disini dan sedang tertawa terbahak-bahak hingga saking senangnya kami sampai tidak menghiraukan pengunjung lain yang sedang ngeteh disini. Ada satu sahabat ku yang kebetulan memang dia seorang perantau juga tetapi kali ini dia berbeda, dia berasal dari Kota Bekasi. Dia sekarang sudah kembali ke kota asalnya setelah dia menyelesaikan kuliah nya di UNS yang pada akhirnya memperoleh gelar Sarjana Hukum.
Akhir-akhir ini kami jarang berkumpul disini lagi seperti dahulu, kayaknya memang sudah waktunya kami mengejar mimpi-mimpi kami untuk sebuah masa depan yang sukses. Apalagi terakhir kali kami berkumpul disini hanya sedikit yang datang dan satu orang sahabatku dari Bekasi tersebut juga tidak datang karena sudah tidak di Solo lagi.
Ahh aku jadi teringat logat Betawi nya yang khas dan suara nya yang lantang seperti seorang laki-laki. Aku teringat dia juga lah yang paling semangat datang jika kami kumpul di tempat ini, entah dia suka dengan teh nya ataupun dengan kami sahabatnya selama empat tahun di bangku kuliah. Pernah suatu hari dimana kami telah janjian di café ini untuk kumpul bareng dan setelah aku tiba di lokasi ternyata dia sudah menunggu kami disana sendirian.
Dia adalah sosok seseorang yang tangguh tetapi mempunyai hati yang sangat lembut. Pernah suatu ketika disaat kami sedang berkumpul untuk membuat video pendek grup traveler kami yang bernama The Natural Traveler, aku sadar bahwa sahabatku yang satu ini membuat aku terkagum akan kabaikan hatinya yang lembut. Aku tidak pernah lupa momen itu. Momen dimana pada saat itu kami mengambil scene tentang testimoni, komentar, dan kesan pesan selama kami ikut trip bersama grup tersebut.
Satu persatu berbicara didepan kamera hingga akhirnya tiba saat nya sahabatku tersebut berbicara didepan kamera. Ia berkomentar dengan mantab dan yakin dan memberi komentar yang positif akan grup ini. Tiba saatnya ia berbicara mengenai kesan dan pesan selama dia ikut trip bersama grup ini dan memberikan pesan kepada kami yang tergabung dalam grup ini.
“sangat berkesan banget, soalnya gue nemuin teman yang bener-bener kuat dan solid banget, bisa diajak have fun bareng.. pesan dari gue.. berhubung gue akan pergi (baca: pulang ke Bekasi) tetep solid jaga kebersamaan…..” meneteskan air mata.
“gue berharap kita bisa jalan-jalan lagi di lain waktu, bersama lagi.. ya pokoknya…” tak kuasa menahan haru.
“gue seneng banget berada di salah satu anggota TNT –The Natural Traveler.”
Semua yang disana terdiam dan menyaksikan dengan perasaan haru dan memang kata-kata tersebut membuat kami tidak rela sahabatku ini pulang ke kampung halamannya. Ia memang mencintai dan menyayangi kami sebagai seorang sahabat dengan ketulusan hatinya.
Jujur aku sekarang kangen dengan kalian berdua disana, dikota masing-masing. Entah apakah teman-temanku yang lain juga merasa hal demikian? Bagaimana keadaan kalian disana? mudah-mudahan selalu diberi kesehatan. Dimana kalian sekarang kalo nongkrong? Apa disana bisa seru-seruan seperti disini? Terus kalo... Ah dunia terlalu singkat untuk terus merindukan kalian.
Kalau ada sumur di ladang, Bolehlah kita menumpang mandi. Kalau ada umurku panjang, Bolehlah kita bertemu lagi.
Aku pun segera menghabiskan teh ku yang telah dingin karena angin malam dan nampak juga pusat perbelanjaan sudah mulai tutup serta lampu-lampu pusat perbelanjaan yang sudah mulai padam. Segera aku meninggal kan tempat ini, tempat yang memberikan waktu sejenak bagiku bahkan bagi kalian teman-temanku yang sedang membaca tulisan ini untuk mengenang masa-masa kita. Di tempat ini aku meninggalkan secangkir Intermezo dan segera pulang ke rumah.
Surakarta, 10 November 2013
Nb: untuk kedua sahabatku tercinta di Jakarta dan di Bekasi.