Setelah melewati berbagai masa-masa sulit selama hamil, beberapa kali sakit serius hingga opname. Drama di tempat kerja soal "diskriminasi ustadz karena aku bukan lulusan LIPIA" masih berlanjut dicari salahnya, karena aku sering izin dengan kondisiku yang benar-benar lemah ini. Hingga terpaksa aku harus LDR dengan si sulung yang tentu merepotkan orang tua. Aku menganggap semua itu biasa.. insyaaAllah itu semua adalah proses dari perjalanan hidupku
Saat itu aku berencana ambil cuti lebih awal, semua pekerjaan kuselesaikan, karena mau lahiran di Surabaya. Qadarullah harus mendadak operasi di Jakarta. Anak lahir prematur dan BBLR, dirawat selama 43 hari di NICU dengan beberapa bawaan penyakit. Tidak pernah lelah aku mengunjunginya setiap hari; mengobrol, meruqyah, mengirim asi dan keperluannya
Aku selalu berusaha bahagia dan percaya pada Allah.. karena seorang anak tentu membutuhkan sosok ibu yang tenang di sisinya—si anak cantik yang kehadirannya aku tunggu. Aku belajar merawatnya disana, belajar dbf dan yang lainnya. Bertemu dengan teman baru yang memiliki perjuangan-perjuangan yang sama
Sungguh.. rasanya saat itu aku masih bisa tegar. "Semoga anakku lekas sehat; semoga ia tumbuh menjadi wanita yang shalihah".
Allah beri jalan yang luar biasa.. perjalanan panjang untuk terus mengingat-Nya di setiap hela napas. Selama ini aku selalu berpikiran positif, insyaaAllah akan ada hikmah; akan ada pelangi setelah badai hujan; ada hadiah yang besar dari Allah setelah ujian dan musibah ini. Sungguh.. tanpa pertolongan Allah, aku tidak sekuat itu
"Nak, beberapa hari sebelum kamu boleh pulang dari rumah sakit, baru saja ummi bilang, kalau perjalanan kita kedepannya mungkin berat. InsyaAllah semua akan mudah atas pertolongan Allah".
Namun, pertahananku benar-benar runtuh, saat Allah lebih sayang dia untuk diambil lebih dulu. Aku terjatuh, dadaku seperti dihantam bom, aku menangis. Apa aku kuat menanggung kesedihan ini?
Aku tidak sanggup menahan tangis di depan teman-temanku. Mereka yang selalu menganggapku santai dan tegar, akhirnya tahu, bahwa kehilangan memang sesakit itu
Ya Allah Ya Rabbi.. bagaimana aku harus melewati fase ini? Bagaimana aku harus mengurai rasa sakit yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya? Ya Allah.. inikah hadiah yang kau berikan setelah masa-masa sulitku?
"Anakku yang cantik, maafkan ummi, harus banyak menangisi kepergianmu. Ternyata ini hadiah dari Allah untuk ummi, abah dan abangmu. Sebuah hadiah tabungan di akhirat nanti, hadiah terindah yang harus melalui rasa sakit seumur hidup; sebuah hadiah terbaik dari-Nya setelah orang tuamu mengalami duka yang begitu dalam".
Mudah bagi Allah menitipkan apa yang bukan milik kita. Mudah juga bagi Allah mengambil apa yang bukan milik kita.
Semoga setiap derai tangis ini mengingatkan kita pada Allah; mengingatkan kepada kita bahwa setiap jiwa yang hidup pasti akan mati; semoga setiap duka yang menjadi perjalanan hidup, Allah semakin tenangkan hati kita; Allah lembutkan hati kita; menghapus setiap khilaf dari kita
اللهم اجعله فرطا واجعله لنا وذخرا وأجرا
Ya Allah.. jadikan ia menjadi pahala yang disegerakan dan jadikan ia menjadi simpanan abadi dan sumber pahala bagi orang tuanya
Aku sering merasa ragu saat harus memilih sesuatu. Hal-hal kecil seperti memilih menu makan siang saja kadang membuatku berpikir terlalu lama. Apalagi ketika dihadapkan pada keputusan besar , rasanya seperti ada kabut di kepala, membuatku bingung menentukan arah.
Dulu aku mengira sifat plin-plan ini hanyalah bagian dari kepribadianku. Tapi setelah kupahami lebih dalam, mungkin ini ada kaitannya dengan masa kecilku. Sebagai anak tengah, aku tumbuh di antara dua arah, ada abah yang sudah lebih dulu berjalan, dan adik yang selalu butuh perhatian. Sering kali aku hanya mengikuti arus. Tidak banyak ruang untuk benar-benar menentukan sendiri apa yang aku mau.
Kini aku belajar mengenali hal itu, bukan untuk menyalahkan masa lalu, tapi untuk memahami diriku lebih baik. Bahwa ternyata aku sedang berlatih, berlatih mengambil keputusan tanpa takut salah, berlatih mendengarkan suara hatiku sendiri.
Aku belajar bahwa setiap pilihan tidak harus sempurna, yang penting adalah berani melangkah. Karena dari setiap keputusan, ada pelajaran yang akan menuntun ke arah yang lebih baik. Dan mungkin, inilah bentuk proses pendewasaan: belajar percaya bahwa Allah akan membimbing langkah, bahkan ketika aku masih belajar mengenali arah
Saat masih tinggal di kosan, rasa rindu kepada keluarga sungguh terasa. Fisik dan pikiran dipenuhi pertanyaan, kapan ya bisa pulang ke rumah?
Kadang rasa membetahkan diri menjadi obat dari segala situasi. Selama 2 bulan, tinggal di kosan sungguh menjadi tantangan. Merasakan bagaimana menjaga diri sendiri, berjuang mengatur waktu dari segala aktivitas yang penuh arti.
Dan tiba saatnya pulang, jiwa terasa senang karena bertemu dengan keluarga adalah hal yang paling ditunggu. Aku bergegas menyiapkan ongkos untuk pulang, semangat sekali karena tak sabar menanti temu dengan orang yang disayang setiap hari.
Waktu itu aku pulang saat sore hari, mungkin tepatnya setelah kuliah selesai. Bus sudah siap menarik penumpang, para asisten sopir bus meneriakan alamat tujuan.
Mereka berteriak sambil menawarkan alamat tujuan, "Garut, garut... Mau ke garut neng? Sumedang, cirebon... Mau ke Sumedang neng?".
Aku mengangguk kala mendengar alamat tujuan Sumedang, lalu aku naik dan mendapat tempat duduk. Kursi paling favorit saat perjalanan pulang adalah dekat kaca. Dengan aku duduk disana, sepanjang perjalanan pulang agar tidak merasa bosan. Sesekali, aku melihat orang di pinggir jalan. Melihat kendaraan yang berlalu lalang. Semuanya cukup indah karena mereka sudah masuk memori kenangan sepanjang aku melakukan perjalanan pulang.
Namun, cuaca terlihat mendung ditambah kemacetan yang membuat waktu semakin lama sampai. Rasanya, semakin bosan dan kadang terasa kantuk. Untungnya, kembali sadar lagi karena jarang sekali aku tidur nyenyak di bus saat perjalanan pulang.
Tetesan hujan menyentuh kaca bus, aku melihatnya sebagai sebuah ketenangan. Air yang jatuh tanpa tersentuh, luruh mengenai permukaan benda seperti nikmat sekali jatuh begitu saja tanpa terpaksa. Dari kejadian tetes air hujan memberi arti bahwa segala masalah yang sudah bahkan sedang terjadi mesti harus dilewati. Tak mementingkan sakitnya akan seperti apa, tetap harus dilewati dan pasti harus mendapatkan solusi.
Tak terasa sudah hampir sore, udara semakin dingin sangatlah terasa. Aku sudah sampai pada lokasi yang sudah dituju. Saat turun, tak lupa aku bilang kepada asisten sopir bus.
Aku bilang, "Makasih ya pak!".
Lalu, asisten sopir bus menjawab, "Sama-sama neng, hati-hati."
Alhamdulillah rasanya lega karena sudah sampai di tempat yang dituju. Selalu timbul lega dan nyaman kala sampai di kampung halaman. Semua penat dan kemacetan kota secara cepat hilang karena melihat pemandangan kampung halaman.
Aku mengetuk pintu dan berkata, "Assalamualaikum..."
Seseorang dibalik pintu menjawab dan membuka pintu, "Waalaikumsalam..."
Aku segera memeluk sosok tua yang selalu mejadi peraduan nyaman bagi raga saat segala sakit mendera. Senang rasanya bertemu dengan sosok yang sudah membesarkanku sejak usia 7 tahun. Rasa peluknya persis seperti ibu yang merindukan anaknya. Ya, nenek aku hanya bilang terima kasih sudah mau merawatku. Aku bangga menjadi cucumu, sehat selalu nek.
Sejauh apapun kamu pergi, tak ada yang lebih nikmat dari rangkulan orang yang membesarkanmu. Pasti selalu dirindu dan menjadi rumah bagi ragamu.
-Bagian penting dari kisah kehidupan (Jurnal Perjalanan Hidup 1)
Di bangunan bercat hijau bertuliskan TKIT Al Hikmah, lalu lalang manusia juga temu yang terasa sangat singkat, namun begitu menyenangkan. Ternyata begini rasanya, berbulan bulan tidak bertemu fisik dengan teman. Berusaha untuk patuh pada protokol kesehatan yang akhirnya ambyar ketika hari H tiba wkwk.
Begitulah kami, mengusahakan berbagai hal untuk hadir, dari rumah serta daerah masing masing. Singgah ke Malang, menyulam pertemuan, saling bertanya kabar, melempar sedikit canda, dan tentunya menemani pengantin.
Merasakan kembali syahdunya, melepas teman di circle terdekat, untuk berjuang lebih banyak lagi dengan pendamping hidup yang baru. Sepanjang acara akad, memakai Bahasa Arab. Sebenarnya ada pertanyaan yang sempat terbersit : “Ngerti nggak ya tamu undangan yg hadir, itu artinya apa?” Hehe.
Sepanjang agenda, bertemu dengan berbagai sosok. Betapa bahagianya bisa kembali mendengarkan cerita, keterbatasan selama pandemi ternyata tak menyurutkan langkah untuk bertumbuh di rumah masing masing. Satu dua bahkan berjam jam, pertemuan ditutup dengan saling do’a : semoga dimudahkan urusannya.
Hikmah dari singkatnya temu yang kami lakukan. Bahwa, sejauh apapun melangkah bila Allah beri kesempatan, maka akan ada saatnya kami kembali bersua. Seperti di isi dengan charger charger semangat, baterai yang melemah perlu di beri daya. Maka, teman teman baik ibarat daya itu sendiri.
Singkatnya pertemuan merefleksikan betapa waktu yang kita punya sangat terbatas. Mengajarkan bahwa setiap momen berharga perlu di syukuri. Karena entah kapan, kita akan bertemu lagi. Iya kalau masih di beri umur, kalau tiba tiba di panggil olehNya?
Maka, menyulam pertemuan bukan hanya meninggalkan tawa, tapi juga meninggalkan nasihat. Nasihat yang menghangatkan hati, membuka pikiran, juga memberi kita waktu untuk sejenak berhenti : “Hei sudah berapa banyak mendo’akan saudaramu, siapapun itu?”
Kapan pun perjalanan membuatmu ragu, berhentilah sejenak.
Dengari bisikan hati. Lagi.
Susun ulang puisi-puisi yang bisa membuatmu kembali berlari.
Jika perjalanan membuatmu ragu, menepilah saja.
Karena tak ada yang salah dengan memulai lagi segalanya.
Sekilas Surabaya: Taman Bungkul x Luar Kebun Binatang
Senin, 19 Agustus 2019 adalah hari terakhir saya menjejak di Surabaya dalam rangka bantu-bantu seorang kawan melangsungkan pernikahannya dengan seorang kawan lainnya asal Surabaya. Saya jelas tidak sendirian, masih ada empat kawan lainnya yang berangkat di rombongan yang sama. Rencana hari terakhir di Surabaya ini salah satunya menuntaskan rasa penasaran ingin berfoto di dekat ikon kota Surabaya...tugu dengan dua hewan besar Hiu Sura & Buaya.
"kita otw dari sekarang, biar nanti jam 10 atau 11 kita udah di penginapan lagi terus langsung ke Stasiun Gubeng," kurang lebih kalimat yang beberapa kali diulang dari malam setelah selesai acara, sampai tadi pagi sebelum berangkat di saat saya masih packing ulang sehabis mandi.
Grabcar sudah dipesan, saya dengan dua orang kawan (karena dua kawan lain di rombongan yang sama sudah pulang dengan pesawat, seorang lagi sudah beragenda di tempat lain). Tujuan pertama.....Taman Bungkul.
"aku waktu itu ke Taman Bungkul, abis itu mampir ke Bunbin (Kebun Binatang Surabaya)...bisa jalan kaki ko", kata seorang kawan.
Kondisi Kota Surabaya jelas tidak seperti Jakarta, lebih mirip Bandung namun dengan kondisi kendaraan yang nampaknya lebih sedikit (?). Butuh waktu yang tidak terlalu lama di hari kerja awal pekan ini agar untuk sampai di Taman Bungkul.
"ini bener kan tamannya?", beberapa kali bertanya untuk memastikan ketika Pak Driver Grab sudah menepi di samping kiri jalan.
Yap, ternyata kami sudah berada tepat di samping Taman Bungkul. Turun dari mobil, kami langsung mengeksplor sekeliling, dan kami bertiga tertarik dengan spot yang sama.....taman berbunga yang menghiasi samping kanan jalan setapak di dalam taman. Karena saya termasuk yang percaya bahwa tidak semua yang indah harus dibawa pulang, seperti bunga-bunga yang sangat menarik di taman yang baru saja kami kunjungi....so, saya hanya memotretnya.
Indah kan? Eheh.
Selesai dari Taman Bungkul, kami beralih ke depan Bunbin & beberapa kali berfoto di sana. Setelahnya, kami langsung memesan Grabcar untuk ke penginapan karena ternyata istri dari kawan kami hendak memberikan sesuatu.
Bila dihitung-hitung......kurang dari satu jam kami mengunjungi dua objek wisata sekaligus, padahal di waktu yang lain (ya tentu saja di kesempatan berbeda) bisa saja kami menghabiskan waktu berjam-jam di suatu lokasi wisata.
Wkwk jadi bikin mikir si, ternyata banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu singkat....yaa memaksimalkan waktu si jatuhnya. Ehmm....itu juga si yang seharusnya bisa kita, khususnya saya lakuin dalam hidup di dunia ini ya :') memaksimalkan waktu singkat, mengisinya dengan hal-hal bermanfaat.
_____
Di dalam Kereta Gaya Baru, perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta. 16.53 WIB, 19 Agustus 2019.
Minggu pagi, saya mengajak Mas F dan Aka untuk jalan-jalan ke pantai mencari keong dan membeli kerang tiram atau ikan laut fresh yang dulu belum sempat terbeli. Biasanya, di pantai tersebut banyak para pencari kerang yang rata-rata adalah masyarakat sekitar. Juga dekat dengan pasar yang membeli hasil tangkapan nelayan. Saya memang suka menyusuri pantai pagi hari, karna udara yang sangat sejuk dan adanya cahaya matahari terbit yang masih belum begitu terasa panas.
Di tengah perjalanan, roda motor kami tiba-tiba kempes. Saya dan Aka turun dan mencari tempat untuk duduk. Mas F menyuruh kami untuk menunggunya disini, sedangkan dia mendorong motor untuk mencari tempat servis roda. Saya dan Aka duduk di depan warung yang masih tutup. Kebetulan, ada tempat duduk yang bisa kami gunakan. Tempatnya menghadap jalan raya. Aka merasa senang, karna dia bisa melihat banyak kendaraan besar yang lewat. Aka memanggil tiap truk dan bis yang lewat. Saya menimpali panggilannya dan bercerita tentang kendaraan tersebut. Cerita mulai dari warnanya, jumlah roda maupun apa yang diangkut.
Tak lama, Aka sudah merasa bosan. Dia mulai tanya dimana Bapaknya. Dia mulai ingat tentang keong. Saya mengalihkannya dengan lebih banyak bercerita. Saya bilang kalau roda motornya rusak, jadi harus di servis dulu. Nanti Bapak akan kesini. Sepertinya Aka paham, dia kembali duduk dan mengamati jalan raya lagi.
Mas F pun datang, tapi karna matahari sudah mulai panas, saya memutuskan untuk kembali ke rumah saja. Saya berubah pikiran. Saya ingin membuat jajan untuk Aka. Mas F menuruti permintaan saya dan mengantarkan saya ke pasar.
Setelah selesai membuat jajan, Mas F pamit untuk pergi. Entah dia mau kemana, katanya dia ingin jalan-jalan. Malam harinya, Mas F pulang dengan membawa ikan laut yang sangat besar. Saya baru 2 kali ini punya ikan sebesar itu. Yang pertama dulu dapat oleh-oleh saat pergi ke Pulau Bawean. Dan yang kedua sekarang dibelikan Mas F. Katanya, karna tadi pagi saya ingin beli ikan laut tapi belum kesampaian. Jadi Mas F membelikannya. Saya jadi terharu, karna saya sendiri sudah lupa kalau tadi pagi saya ingin beli ikan laut yang fresh dari Nelayan. Tapi ternyata Mas F ingat. Terima kasih Mas F. Semoga segala langkahmu berkah, karna segalanya diniatkan ibadah. Membahagiakan isteri termasuk salah satu ibadah kan ya. hehehe
Belum selesai duka Lombok, Palu dan Donggala sudah memanggil kita. Ekspresi pertama saya dan kawan-kawan ketika mendengar berita gempa dan tsunami Palu pertama kali adalah “Allahu Akbar, kasihan sekali negara ini.”
Pasalnya, kami tahu betul bahwa semua anggaran nasional untuk penanggulangan bencana (selama tahun 2018) beserta sumberdaya manusianya hampir seluruhnya terkonsentrasi ke Lombok. Lalu, sedetik setelah gempa terjadi, kantor ribut setengah mati (Oiya, saya kerja di Badan Nasional Penanggulangan Bencana, biasa disebut BNPB). Seperti itulah setiap ada bencana besar terjadi. Notifikasi grup di handphone tidak berhenti sampai tengah malam, sampai keesokan harinya, sampai saat ini.
“Yaya, standby ya, kemungkinan berangkat besok pada kesempatan pertama, penerbangan paling pagi.” adalah kata-kata yang familiar, yang artinya kita harus siap untuk tinggal lama di lokasi bencana.
atau, pernah lebih ekstrim lagi seperti ini.
“Yaya siap rolling ke Lombok, berangkat malam ini.” disampaikan siang hari menuju sore yang artinya nggak ada banyak waktu lagi buat packing, alhasil bawa baju minimal yang kemudian menjadi itu-itu lagi yang dipakai.
Karena tidak diterjunkan ke Palu, saya ingin berbagi cerita dengan kawan-kawan tentang pengalaman saya terjun di tanggap darurat Gempa Lombok. Dengan mendapat gambaran di Lombok, kawan-kawan dapat membayangkan sendiri bagaimana tanggap darurat di Palu akan dilakukan.
Kenapa saya akhirnya ingin cerita? Karena banyak orang yang ternyata cuma bisa nyinyir tanpa tahu bahwa pemerintah sudah bekerja semaksimal mungkin. Sedih sekali.
APA YANG BNPB LAKUKAN?
Banyak yang tidak mengetahui apa itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Kami seringkali disamakan dengan BASARNAS (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan). Memang sih, seragam lapangan kami sama-sama oranye, tapi tugas kami jauh berbeda. BASARNAS bertugas secara teknis mencari dan menyelamatkan korban bencana. Terjun langsung dan menyebar ke lokasi-lokasi dengan kerusakan paling parah adalah tugas BASARNAS selama bencana. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan (dan Dinas Kesehatan setempat) bertugas mengkoordinasikan semua sumberdaya kesehatan dan mendirikan Rumah Sakit Darurat jika Rumah Sakit di lokasi bencana tidak dapat dimanfaatkan. Korban terluka dan meninggal yang ditemukan oleh BASARNAS kemudian diserahkan kepada Kemenkes untuk dilakukan tindakan lebih lanjut.
Dua tugas tadi seringkali disematkan pada BNPB. “Oh, mbak kerja di BNPB bagian kesehatannya?” adalah pertanyaan yang seringkali terlontar ketika naik ojol. Kemudian saya bingung jawabnya wkwk.
Pemahaman ini nggak bisa disalahkan juga sih. Pengetahuan umum masyarakat tentang penanganan bencana memang masih mentok pada dua hal itu, pencarian dan penyelamatan korban serta pengobatan. Tapi, sebenarnya ada hal yang lebih besar yang menaungi semua kegiatan itu, namanya manajemen tanggap darurat bencana. Dan, BNPB adalah yang diamanahkan untuk itu.
Dalam Instruksi Presiden No 5 Tahun 2018, BNPB bertugas mengkoordinatori seluruh Kementerian dan Lembaga untuk mempercepat penanganan darurat dan transisi darurat ke pemulihan di Lombok. Arah gerak Kementerian dan Lembaga Nasional direkam oleh BNPB kemudian dilaporkan kepada Presiden setiap bulan selama masa tanggap darurat (biasa disingkat TD) dan selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi (biasa disingkat RR).
BAGAIMANA MANAJEMEN TD BENCANA DILAKUKAN?
Sebelumnya saya ingin menjelaskan sedikit tentang struktur organisasi penanggulangan bencana yang dilakukan di Indonesia. Komando Tanggap Darurat bencana ada di tangan TNI. Jika status bencana adalah bencana daerah, maka posisi ini biasanya dipegang oleh Komandan Kodam atau Komandan Kodim. Jika status bencana adalah bencana nasional (atau status tetap bencana daerah namun membutuhkan bantuan nasional) maka posisi ini dipegang oleh Panglima TNI atau yang ditunjuk mewakilinya.
BNPB dan kementerian/lembaga lain sebagai pihak sipil memposisikan diri di samping TNI sebagai pendamping, pemberi masukan, perencana dan pendukung finansial. BNPB biasanya mendirikan POSPENAS (Pos Pendamping Nasional) yang bertugas memberikan pendampingan kepada TNI beserta sturktur di bawahnya dalam penanggulangan bencana. Kalau teman-teman pernah nonton Descendant of The Sun, ya gambarannya macam itu lah ya. Kalau di drama itu pihak sipilnya pakai rompi-rompi yang menunjukkan identitas gitu, begitu jugalah kami setiap terjun ke lokasi bencana wkwkwk (merasa mirip :P).
BNPB sendiri terbagi menjadi empat kedeputian dengan tugas yang berbeda serta mempunyai dua pusat, yaitu Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) dan Pusat Data, Informasi dan Humas (Pusdatinmas). Empat kedeputian dan dua pusat itu ketika terjun ke lapangan dinaungi oleh satu pos, yaitu Pos Pendamping Nasional, bersama dengan kementerian dan lembaga lain.
Saya bertugas di kedeputian satu, Kedeputian Pencegahan dan Kesiapsiagaan. Kedeputian ini mempunyai satu pusat baru yang dikembangkan guna mendukung analisis bencana, namanya Pusat Analisis Situasi Siaga Bencana (Pastigana). Tugas Pastigana dalam tanggap darurat adalah memberikan analisis cepat terkait bencana yang terjadi. Kami biasa bekerjasama dengan BMKG, PVMBG, Badan Geologi, BIG, PU, KLHK dan kementerian/lembaga lain untuk menghasilkan analisis yang akurat. Makanya, kami tuh broooo banget wkwkwk.
Salah satu analisis cepat yang dihasilkan adalah analisis perkiraan jumlah penduduk terdampak. Analisis ini bermanfaat sebagai bahan pengambilan keputusan pimpinan dalam menerjunkan pasukan atau bantuan. Tentu banyak analisis lain yang dilakukan yang kepentingannya untuk pengambilan keputusan yang lain.
Ketika terjadi bencana besar, jangan ditanya lagi kapan kami pulang. Gempa Lombok yang lalu, teman-teman kami yang mendapat shift malam harus menginap di kantor hingga jam 2 pagi, pulang ke kos untuk bersih-bersih kemudian harus sampai ke kantor lagi jam 7 pagi. Kebetulan, gempa lombok lalu terjadi saat weekend (dan kebanyakan bencana besar terjadi saat weekend. Ini sih misteri yang sampai saat ini belum kejawab juga). Tim yang sedang libur dengan sangat terpaksa harus dipanggil untuk merapat ke kantor, ikut lembur dan menginap. Jika BNPB saja seperti ini, BMKG (yang dari kemarin dinyinyiri terus karena sistem EWS tsunaminya itu) lebih-lebih lagi. Di BMKG, sistem shift adalah makanan sehari-hari. Jangan tanya hari libur, mereka nggak kenal hehe.
Selama di lapangan, Pastigana bertugas menganalisis data yang terus bergerak selama proses tanggap darurat. Contoh riilnya selama di Lombok kemarin kami menganalisis sebaran bantuan dana stimulan rumah rusak berat: wilayah mana yang sudah mendapat bantuan, wilayah mana yang belum, apakah sebarannya sudah merata, apakah terjadi terjadi dobel bantuan dan hal lainnya. Analisis dilakukan hingga skala desa, daftar nama diberikan kepada pihak nasional untuk kemudian diterbitkan buku tabungan guna penyaluran dana bantuan. Analisis-analisis tersebut disampaikan dalam tabulasi dan peta-peta. Kenapa harus dalam peta? Jawabannya agar sebarannya terlihat secara spasial dan mudah dimengerti. Nah, makanya ayo kuliah di Fakultas Geografi UGM #lohh
Sampai di sini, cukup dimengerti ya bahwa penanggulangan bencana tidak hanya hal teknis terkait penyelamatan korban. Ada pihak-pihak yang fungsinya penting namun tidak nampak oleh masyarakat, kayak PVMBG contohnya. Tugas PVMBG (biasanya bekerjasama dengan BMKG) dalam penanganan bencana sama sekali tidak menyentuh ranah teknis. Mereka terjun ke lapangan untuk menganalisis kejadian dan menyampaikannya kepada Presiden guna pengambilan keputusan. Misalnya, analisis risiko bencana kedepan berdasarkan letak sesar dan kekuatannya yang berguna bagi keputusan pemindahan lokasi perumahan. Kementerian PUPR yang menyiapkan desain rumah tahan gempa untuk persiapan masa rekkonstruksi dan rehabilitasi. Pada dasarnya, semua kementerian dan lembaga bahkan lembaga usaha di negara ini bergerak untuk mengatasi bencana sesuai dengan UU No 24 Tahun 2007.
21 HARI DI LOMBOK
Sejak mendapat arahan untuk rolling dengan kawan yang di Lombok, sudah firasat bakal lama di sana. Dan ternyata iya. Dua puluh satu hari itu lama bagi saya, tapi tentu ada yang lebih lama, 2 bulan.
Selama di Lombok, kami berkantor di Pos Pendamping Nasional di bekas Bandara Selaparang (bandara lama sebelum ada Lombok Praya International Airport) bersama TNI dan kementerian/lembaga lain. Kondisi Bandara Selaparang saat kami gunakan lumayan baik, cuma atap-atapnya aja yang jebol wkwk. Seringkali atapnya bergetar ketika ada angin kencang. Hal itu bikin insecure karena bisa saja tiba-tiba lepas seng dan jatuh ke bawah.
Oiya, mendengar pesawat hercules atau helikopter TNI hilir mudik dari Halim Perdanakusumah ke Selaparang adalah hal biasa. Melihat Asisten Operasi TNI marah-marah ke pasukannya juga adalah hal biasa. Lari-lari dikejar deadline laporan ketika Presiden mengabarkan datang juga adalah hal biasa. Jalan jauh dulu demi ke toilet juga hal yang biasa. Dilarang masuk apel oleh Paspampres karena telat akibat salah jalan juga biasa. Di Bandara Selaparang, air wudhunya bercampur besi, dan itu juga biasa wkwkwk.
Oiya, kalau orang-orang ke Gili Trawangan demi liburan, kami demi rapat dengan Pak Luhut. Wkwkwk. Kalau ini sih luar biasa. Demi rapat doang doong harus ke Gili hhhmm. Perjalanan pulang dua jam naik kapal itu bikin salah satu teman masuk angin. “Aku rasanya almost die.” katanya, yang bukanya dikasihani tapi malah diketawain.
Setiap turun dalam tanggap darurat bencana, kami selalu ditekankan untuk menjaga diri sendiri. Maka dari itu, kalau ditanya tidur di mana, kami selalu tidur di penginapan, bukan di tenda pengungsian bersama masyarakat. Kami selalu diberi pesan seperti ini “Jaga diri sendiri, jangan lupa istirahat. Kalau kalian kena musibah atau sakit, siapa yang akan mengurus Indonesia?” wkwkwk asik banget kalimatnya. Namun, hal itu bukan berarti kami tidak ikut merasakan kesedihan. Jika ada kesalahan kebijakan sehingga menyebabkan masyarakat menderita, BNPB adalah pihak pertama yang merasa bersalah.
Jadi, inti dari tulisan panjang ini apa ya?
Intinya adalah kritik kepada pemerintah itu boleh, tapi sampaikanlah dengan bijak. Kita tidak tahu orang-orang dalam pemerintahan ini sudah bekerja sekeras apa untuk membantu orang lain. Meskipun tidak bisa dipungkiri juga bahwa dalam setiap lembaga ada saja oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal itu tentu bukan menjadi harapan kita bersama.
Oiya, kalian tahu Pak Sutopo Purwo Nugroho? Kalau belum, coba buka akun twitter beliau di @Sutopo_PN. Beliau adalah Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB juga salah satu alumni Geografi UGM yang kece banget luar biasa masyaa Allah! #lahpromosi. Beliau adalah penyintas kanker paru-paru stadium 4B yang setiap bencana terjadi selalu standby memberikan informasi. Meskipun metastase penyakitnya sudah sampai pada tulang belakang, beliau tidak meninggalkan tanggung jawabnya. Sabtu kemarin di saat orang-orang libur bekerja, beliau menggelar konferensi pers di lobby kantor seharian penuh. Tapi, walau sudah seperti itu, masih ada saja yang nyinyir bahwa info bencana telat disebarluaskan. Kayak pengen bilang “Mas, infonya telat bukan karena kita nggak kerja, tapi karena jaringan di sana rusak berat, komunikasi kami terputus sehingga update tersendat.” ke depan mukaknya.
Kita sungguh tidak pernah tahu seberapa besar orang lain sudah berbuat. Setidaknya, dengan menyampaikan kritik dengan baik, kita membantu keadaan selama tanggap darurat bencana tetap tenang, tidak memprovokasi masyarakat untuk tidak percaya kepada pemerintah dan tidak mempersulit keadaan. Sia-sia jika kritik disampaikan dengan nyiyir karena dengan demikian kalian sebenarnya tidak sedang membantu apapun.
Cukup sekian.
Salam Tangguh! Salam Kemanusiaan!
Perlu dikasih dokumentasi biar nggak hoax wkwk
Foto terakhir adalah upaya kami mengusir penat dengan bercanda wkwkwk