Aroma yang Pernah Dijanjikan
Ada wangi yang tak pudar meski tahun silih berganti, aroma yang tak dijual di toko mana pun, melekat di dada seperti janji yang belum ditepati, menetap diam di sela-sela napas yang terus menua.
Mungkin hari ini aku bisa saja meminang perempuan, atau menyalakan mesin kopiku sendiri, atau bahkan berjalan jauh menjemput mimpi yang dulu kupeta di kepala. Namun langkah itu kutahan, demi janji di masa lalu.
Sebab ada anak kecil di dalam diri yang tak mau diam, mengetuk, menagih sesuatu yang tertunda lama, yang dulu hanya bisa ia pandang dari kaca etalase, dan kini kembali memanggil lewat aroma kenangan.
Setiap kali aku berdiri di depan rak mainan action figure, mencium aroma plastiknya yang khas, terbayang sepotong episode di masa lalu, di mana suara itu berkata, “nanti ya.. kita beli kalau sudah ada uangnya.”
Kini aroma itu serupa parfum lama, masih mengingatkan pada seseorang, pada sore hari sehabis mandi di depan televisi, dan pada rasa ingin memiliki yang tak pernah benar-benar hilang.
Ah, takdir memang demikian jalannya. Yang tak terbeli di masa kecil kini kutebus perlahan, bukan demi nostalgia yang sentimentil, melainkan menepati janji pada bocah yang dulu percaya.
Kini bocah kecil itu tersenyum di dadaku, melihat diriku yang akhirnya mampu berdiri. Ternyata yang kubeli bukanlah mainan masa lalu, melainkan aroma syukur di antara debu, kerja, dan napas yang jujur.















