Hai Tuan.
Aku mau pamit dulu. Aku akan belajar melepaskanmu dari segala ego yang memburu. Belajar memindai adiksiku yang terlalu. Belajar mengendalikan segala rasa yang sepertinya semu.
Kini saatnya aku rayakan delapan tahun hadirmu. Terima kasih atas warna-warni yang telah kau lukiskan dalam nyataku, menetap di pikiranku, merebut paksa hati yang luluh.
Tuan, tolong jaga diri baik-baik ya. Semoga semesta bersedia menjadi saksi kisah kita. Jika aku sudah selesai dengan diriku sendiri, aku yakin Tuhan akan memberikan takdir terbaik untukmu, untukku dan untuk kita.
Aku ingin menjadikan Tuhan laksana satu dan hanya satu muara cintaku. Harapku, begitupun kamu.
Dari: Puanmu yang sedang menjerit lewat aksara
Untuk: Seseorang yang kupanggil dengan Tuan
Sebuah kediaman
21.24 WIB







