Aku pikir luka dalam hati akan sembuh begitu saja dituntun oleh waktu. Sudah hari keberapa ini? Sudah cukup lama kukira, sudah terasa banyak perubahan yang terjadi pada masing-masing diri. Saat aku menuliskan ini, aku tersadarkan bahwa hatiku belum sepenuhnya sembuh seperti yang aku duga. Entahlah, bagian mana yang membuatku masih di sini menggenggam luka yang seharusnya aku lepas sejak lama.
Sesekali momen-momen yang aku benci bermunculan dalam kepala, seperti sedang mengingatkan kembali itu semua, yang lucunya ketika aku mengingatnya ternyata masih ada perasaan nyeri dalam hati sambil merutuki kesalahan diri.
Kemudian aku tersadar bahwa tak semestinya aku terus menetap di sini. Di tempat yang pernah aku tetapkan sebagai zona nyaman. Saat itu, aku berpikir tidak masalah jika aku sering kemari karena aku suka, aku tak ingin meninggalkannya. Tapi, sekarang aku berubah pikiran. Aku ingin beranjak, berpindah, bahkan meniadakan tempat ini. Tak ada lagi keantusiasan, tak ada lagi harapan, tak ada lagi hal yang bisa dijadikan alasan. Semuanya pelan-pelan sudah terkubur oleh kenyataan.
Mungkin kemarin-kemarin aku lupa bahwa manusia ialah makhluk fluktuatif yang akan selalu bertemu perubahan. Hal yang kukira bisa bertahan lama, nyatanya tak ada yang benar-benar bertahan selain pelajaran dan kenangan.
Aku hanya ingin melanjutkan kehidupan ini dengan perasaan yang lebih arif layaknya manusia lain yang sekarang lakukan. Aku hanya ingin tak lagi terbayang-bayang hal yang masih menimbulkan kesakitan. Aku hanya ingin kembali pada keharusan-keharusan seperti sebelumnya. Lalu, aku tersadarkan jika hal pertama yang harus aku lakukan ialah mengikhlaskan semuanya.
Aku sudah dapat menerima kenyataan ini, tapi sepertinya mengikhlaskan masih perkara yang terlewatkan.
Lantas, dimana aku harus membeli rasa ikhlas itu?
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah kutau jawabannya. Tak ada yang menyediakan keikhlasan selain meluaskan lagi kelapangan hati dan mendewasakan pemahaman diri.
Pada akhirnya aku memilih untuk mengikhlaskan dan memaafkan semuanya, supaya perlahan aku mampu kembali memaknai serta melanjutkan kehidupan tanpa ada luka yang tersisa.
Dan kini tempat itu sudah bukan lagi yang akan aku jadikan tempat kembali. Aku rapikan dan kunci rapat-rapat pintunya sebelum beranjak pergi.
Aku mau pamit dulu. Aku akan belajar melepaskanmu dari segala ego yang memburu. Belajar memindai adiksiku yang terlalu. Belajar mengendalikan segala rasa yang sepertinya semu.
Kini saatnya aku rayakan delapan tahun hadirmu. Terima kasih atas warna-warni yang telah kau lukiskan dalam nyataku, menetap di pikiranku, merebut paksa hati yang luluh.
Tuan, tolong jaga diri baik-baik ya. Semoga semesta bersedia menjadi saksi kisah kita. Jika aku sudah selesai dengan diriku sendiri, aku yakin Tuhan akan memberikan takdir terbaik untukmu, untukku dan untuk kita.
Aku ingin menjadikan Tuhan laksana satu dan hanya satu muara cintaku. Harapku, begitupun kamu.
sudah-sudah mari sehatkan hati dan pikiran. sampai kapan kamu akan menunggu sesuatu yang bahkan tidak ingin menjemputmu. bukan kah kamu sudah sangat menyadarinya. sudah jelas-jelas tidak ada tanda rasa mu terbalas, lantas untuk apa tetap "mencintai dalam diam". cukup, jangan terlalu naif dan berpikir "nanti lama-lama dia juga akan mengerti, pasti dia akan menyadari rasa ini". sayangnya dia sudah memberi sinyal agar kamu mundur. sudah-sudah jangan biarkan hati mu memaklumi angan-angan semu itu sendiri. ingat, cinta akan bersatu jika diperjuangakan oleh kedua belah pihak. jika hanya satu pihak itu namanya kamu hanya menyiapkan diri untuk terus terluka. sudah yaa, tolong hargai diri mu sendiri. jaga izzah dan iffah mu. ingatkan bahwa janji Allah itu pasti, begitu juga dengan jodoh mu. "Tinggalkan cinta mu kepada makhluk-Nya yang belum halal, in syaa Allah nanti akan diberi ganti yang terbaik dari sisi-Nya."
Beberapa minggu lalu, saya menemukan foto ini di literarybase, base yang penghuninya adalah para bookish. Foto ini otomatis membuat saya teringat kembali pada sebuah insiden yang beberapa bulan lalu benar-benar membuat saya diliputi berbagai emosi negatif.
Waktu itu, saya juga bertanya-tanya, apa sebenarnya makna dari forgiven but not forgotten? Is it grudge in disguise? Karena sejujurnya, saya memiliki banyak hal yang bisa dikategorikan sebagai forgiven but not forgotten. And I wonder, does that mean I don’t fully forgive them who wronged me? Or I failed to control my own thoughts and emotions?
Kay, so let’s go back to the time I feel wronged and disappointed. Beberapa bulan lalu, saya mengalami kesulitan mengontrol emosi saya. Berawal dari kesalahpahaman yang terjadi antara saya dan orang terdekat, hal ini ternyata berkelanjutan sampai beberapa bulan berikutnya.
Awalnya, saya mengatakan saya baik-baik saja. This person even asked me whether I'm angry or not, and I said "Why should I be angry? You didn't do something wrong."
Later on, I knew what I did is wrong. Saya denial dengan emosi-emosi yang mampir di dalam diri saya. I felt wronged, used, betrayed, and being lied to. I was angry. I was disappointed. Saya lebih mendengarkan sisi diri saya yang mengatakan, "Hal kayak gini nggak seharusnya bikin kamu marah. Toh kalau dilihat dari perspektif lain, yang dia lakukan juga nggak salah," dan tidak menghiraukan suara saya yang lain yang berteriak, "You have the right to feel what you feel. Your emotions are valid, sekalipun itu adalah emosi negatif." That's why, eventho we talked about it I didn't feel good. There's this heavy feeling in my chest that need to get off.
Hal ini murni keluputan saya sendiri. I didn't treat myself well back then. I suppressed my emotions thinking it was the right thing to do. Dan rasanya amat sangat mengganggu. Mood saya mudah berubah, lethargic, bahkan focus span saya juga menurun. Akhirnya, saya pun kembali merefleksi keputusan yang telah saya ambil.
Sudah benar kah?
Sudah baik kah?
Dalam jangka waktu selama melakukan refleksi itu, saya berpikir dan berkontemplasi terkait banyak hal. Berdialog dengan diri sendiri agar saya kembali mengenali dan tidak sampai kehilangannya. Mengingat hal-hal yang pernah saya baca di beberapa buku self-healing, terutama tentang dikotomi kendali dan penerimaan emosi. Menulis rantai pikiran saya agar tidak terlalu kusut dan membusuk di kepala. Sampai akhirnya, saya pun mengambil keputusan untuk mengutarakan apa yang sebenarnya saya rasakan kepada orang ini; dengan runtut, tenang, dan sebisa mungkin tidak menyalahkan karena saya meletakkan fokus ujaran saya pada apa yang saya rasakan.
Apakah saya lega? Iya, sangat.
Apakah saya memaafkan? Tentu.
Apakah saya akan melupakan hal itu? Sepertinya tidak. Setidaknya sampai di detik saya menulis ini, saya tidak lupa. Ditambah saya punya tendensi mengingat hal-hal yang bahkan tergolong trivial, yang mana hal ini sempat membuat saya ingin menjadi seseorang yang pelupa.
Tapi entah di masa mendatang. Mungkin ingatan ini akan mengabur karena saya dipenuhi oleh ingatan-ingatan yang menyenangkan. Mungkin juga ingatan ini akan selamanya meninggalkan jejak, seperti lembaran-lembaran buku yang terkena air. Kering, tapi tetap berbekas.
Beberapa bulan saya berhasil hidup berdampingan dengan baik bersama bekas itu. Meskipun setiap saya membaca, mendengar, atau bahkan ngobrol tentang memaafkan atau kebohongan, otak saya otomatis memutar ingatan tentang hal itu bak film layar lebar. And I was okay. Yang berkelebat di pikiran saya hanya, "Oh, saya pernah mengalami ini. Tapi ya yasudah."
Sampai pada titik di mana obrolan saya dengan salah satu teman memantik kembali emosi negatif yang datang bersama ingatan itu. I cried back then, and my friend patted me in the back while saying, "It must be hard, right? 's okay. Someday you'll get better." Even I, was surprised about my reaction that day. It felt like I can't hold my tears at bay. Right then and there, I realised I have a wound that I didn't heal yet. And it was a deep cut.
Hal ini membuat kami lagi-lagi mengomunikasikan insiden itu. Sejujurnya, saya juga merasa sangat bersalah karena membuat orang ini merasa bersalah. Karena saya tidak mengontrol emosi saya, akhirnya orang ini juga secara tidak langsung saya paksa untuk mengilas balik lagi. Orang ini pun lagi-lagi meminta maaf kepada saya di saat tidak ada hal lagi yang peru dimaafkan. Saya pun berulang kali mengatakan bahwa ini adalah urusan saya sendiri: ketidakmampuan saya mengontrol dengan baik emosi-emosi saya.
And I was glad this person didn’t invalidate my emotions. Dia bilang, “Tapi kan emang kita nggak bisa setiap saat ngontrol emosi kita dengan baik. Ada kalanya kita bisa nerima itu, ada saatnya juga kita nggak bisa.” Yes, it’s completely true. We can’t be mentally stable all the time. Saya pun menyadari kalau kondisi psikis dan mental saya yang saat itu sedang lelah memiliki andil besar dengan reaksi saya yang mengejutkan itu.
Momen itulah yang akhirnya membuat saya mulai bertanya-tanya lagi. Apakah saya masih menyimpan kemarahan? Apakah saya sudah benar-benar memaafkan? Jawabannya tetap sama. Mau saya bertanya sejuta kali pun, jawabannya adalah sudah.
Then, why did I react like that eventho I already gave my forgiveness? Apakah saya harus benar-benar menghapus ingatan saya tentang hal itu? Bagaimana caranya? Saya tidak bisa menemukan jawaban yang tepat dan membuat saya tercerahkan.
Until lately, I read a book that gives me the answer.
What causes us such distress is not the memory itself but the emotions that surround it, like regret, disappointment, anger, and frustration. This might seem subtle, but it is important to distinguish the memory from its emotion.
...
The memory itself is not the problem, it’s still there: it’s the emotions connected to the memory that are the problem. And so there’s no need to suppress the memory or try to get rid of it, which is nearly impossible anyway.
And I was like, “Oh, iya juga ya? Ingatan dan emosi itu kan dua hal yang berbeda. Toh buktinya saya juga memiliki banyak hal tidak menyenangkan yang saya ingat, tetapi tidak ada emosi negatif yang bertamu saat mengingatnya.”
Proses kontemplasi sampai akhirnya saya benar-benar bisa memilah dan meletakkan ingatan dan emosi ke dalam loker otak yang berbeda membutuhkan waktu yang tidak singkat. Berbulan-bulan saya mencoba berdamai dengan hal ini. Mencoba mencerabut kekuasaan yang dipegang oleh insiden itu agar mereka tidak semena-mena mengendalikan emosi saya. Karena sayalah empunya si otak dan yang memiliki kendali penuh atasnya.
So, what do I feel right now?
Do I succeed?
Do I already make a peace with it?
I can proudly say, “I do. I did it.”
Saya menyadari bahwa ingatan itu masih mendiami pikiran saya, masih belum terhapuskan. Tetapi, sampai detik ini, meskipun beberapa waktu lalu saya ingat kembali dengan hal itu dalam keadaan burnout, saya tidak diguyur oleh emosi negatif. It doesn’t have any effect on me anymore. Mungkin, ini adalah buah dari penerimaan saya terhadap emosi-emosi tersebut sampai saya bisa mencapai garis finish bernama damai.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, ingatan itu bak lembaran buku yang basah terkena air. Tapi, bagaimanapun kondisi buku itu, bukankah saya tetap menyimpannya dan bahkan mencintainya? Bekas basah di kertas itu akan tetap di sana, tapi dia juga berperan sebagai pengingat bahwa di hari-hari mendatang saya harus berhati-hati dalam merawat buku-buku saya.
Last but not least, lemme say these affirmations to my own self,
“Thank you for finding the peace we need. Your courage brings us to freedom. You’re clean, now. You win. We win.”
Mungkin nanti kita akan dipertemukan lagi, sebagai dua orang yang sama-sama dewasa untuk memahami bahwa mencintai adalah sebuah aktivitas jangka panjang yang harus secara konsisten dilakukan manusia.
Mungkin juga nanti kita akan mengerti kenapa dulu kita tidak bisa saling memiliki meskipun begitu dalam mencintai.
Ada beberapa hal memang, yang tidak bisa dipaksa sebagaimana pun meski kita sudah kuat berusaha. Satu di antaranya mungkin hubungan kita.
Semoga nanti kita dipertemukan lagi, entah untuk kembali atau sekedar menepi; kita sudah sama-sama memahami.
Semoga nanti kalau kita kembali dipertemukan, ada keikhlasan yg kita rasakan; untuk apa-apa yg dulu pernah kita jalankan.
Semoga kita akan baik-baik saja. Sebagai kita yang utuh, atau aku-kamu yang asing.