Mindenkinek akit érint
holavonat.hu :D

seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from China
Mindenkinek akit érint
holavonat.hu :D
Hakikat Pengorbanan: Abu yang Tak Menagih Sang Api
Suatu siang, di depan kampus, seorang pria paruh baya menghentikan motornya tepat di hadapanku. Bensinnya hampir habis. Ia perlu uang untuk pulang ke Subang, lalu aku memberinya sejumlah uang yang ia butuhkan. Saat uang itu berpindah tangan, aku menyelipkan harapan kecil, suatu hari kalau aku susah, semoga ada yang memudahkanku juga.
Kupikir itu contoh sederhana bahwa manusia itu pandai menyembunyikan transaksinya sendiri. Ganjil, yah? Bahkan kebaikan manusia hampir tidak pernah benar-benar tuntas "membakar" dirinya sendiri. Seperti api pemberian yang dinyalakan, sambil diam-diam menyisakan sepotong kayu yang tak ikut terbakar.
Carl Jung menyebutnya klaim egoistik yaitu tuntutan bawah sadar bahwa si pemberi berhak menerima sesuatu sebagai imbalan. Ia mengkritik hal ini dengan pernyataan mendasar.
"Hence there is, explicitly or implicitly, a personal claim bound up with every gift. There is always an unspoken 'give that thou mayest receive.'"
Secara psikologis, selalu ada pamrih dalam setiap pemberian. Bentuknya bisa eksplisit (aku kasih kamu A, aku ingin dapat B) atau implisit, atau bahkan tidak disadari. Pamrih implisit sendiri bisa berupa kebutuhan akan pengakuan, rasa superioritas moral, harapan terciptanya utang budi, atau bahkan menyogok takdir/Tuhan. Bagiku, transaksi terselubung macam ini sebenarnya lebih ke simulacrum alias hanya tiruan palsu dari pengorbanan/ketulusan.
"Aku ingin dilihat sebagai orang baik." "Aku lebih mulia dari dia karena aku yang memberi." "Sekarang dia berhutang padaku, dan suatu saat akan kugunakan." "Tuhan, aku sudah berbuat baik, lindungilah aku dari musibah."
Kalau begitu, apa itu pengorbanan sejati?
Carl Jung melanjutkan kalimatnya dengan radikal.
"It only becomes a sacrifice if I give up the implied intention of receiving something in return. If it is to be a true sacrifice, the gift must be given as if it were being destroyed."
Suatu pemberian menjadi pengorbanan hanya jika kita melepaskan niat tersirat untuk menerima imbalan. Pemberian itu harus diberi seolah-olah itu sedang dimusnahkan (dihancurkan) sehingga tidak ada lagi jejak kepemilikan ego atasnya. Tidak ada harapan apapun, bahkan pengakuan, pahala, atau rasa aman psikologis sekalipun.
Nah definisi tadi sangat powerful begitu dikaitkan dengan Ibrahim sebab kisah Ibrahim adalah dramatisasi paling ekstrem dari definisi Jung, yakni dengan memposisikan Ismail sebagai the gift yang diberikan kepada Allah untuk dihancurkan dengan tangan Ibrahim sendiri. Mind blowing 🤯
Jung melanjutkan:
When, therefore, I give away something that is "mine," what I am giving is essentially a symbol, a thing of many meanings; but, owing to my unconsciousness of its symbolic character, it adheres to my ego, because it is part of my personality.
"Mine" di situ mewakili apa pun yang secara psikologis kita anggap sebagai bagian dari diri kita. Ibrahim mungkin menyerahkan seorang manusia biasa kepada Allah secara permukaan. Namun Ismail bagi Ibrahim, adalah simbol yang mewakili hal-hal yang lebih dalam.
Lalu Ismail itu adalah simbol dari apa saja?
Ismail adalah simbol legacy, satu-satunya mata rantai (saat itu) yang akan meneruskan misi Ibrahim setelah ia tiada. Memberikan Ismail (as if it were being destroyed) sama dengan meruntuhkan cita-cita terbesar dalam hidup Ibrahim. Seluruh bangunan hidup Ibrahim terancam berakhir begitu saja.
Kita bisa bayangkan, dalam diri Ismail terkumpul jawaban doa dan validasi bahwa pengabdian Ibrahim selama ini tidak sia-sia. Siapapun pasti berpikir bahwa dialah bukti dari janji Allah mengenai kelahiran bangsa-bangsa. Sehingga perintah penyembelihan itu sama saja seperti Allah menarik kembali janji yang sudah Ibrahim pegang erat-erat.
Jung juga menyebut adanya kepribadian potensial yang belum terwujud atau "what he will become". Jadi dalam hal ini, Ismail adalah proyeksi dari diri Ibrahim yang belum selesai, yang akan meneruskan dan menyempurnakan apa yang tidak bisa diselesaikannya. Artinya menyembelih Ismail (secara psikologis) adalah menyembelih kemungkinan diri Ibrahim yang lebih besar itu.
To sum up this part, that's why pengorbanan ini terasa berat sebab Allah meminta seluruh makna hidup yang menempel pada Ismail, yang selama ini menopang eksistensi dan identitas Ibrahim.
Lalu apa ya kira-kira "klaim egoistik" Ibrahim?
Pamrih pada dasarnya adalah kompensasi psikologis yang kita tuntut agar pengorbanan terasa sepadan. Logikanya, "aku kehilangan sesuatu yang berharga, maka aku harus menerima sesuatu yang setara atau lebih besar nilainya, supaya timbangannya seimbang."
Ibrahim di konteks ini, bertumpu pada fakta bahwa dirinya secara psikologis "memiliki" Ismail. Lalu dari rasa kepemilikan itu lahirlah klaim, "karena Ismail adalah milikku, jika kehilangannya, maka aku berhak blablabla, (yang sepadan)"
Mekanismenya semakin rumit karena datangnya tidak hanya dari satu sumber. Bagaimanapun juga, kita punya banyak identitas yang bersemayam di dalam diri kita kan? Implikasinya adalah berarti setiap peran punya "hak tagih"-nya sendiri.
Sebagai ayah, Ibrahim kehilangan anak dan pewaris darah, dan sebagai gantinya ia bisa menuntut status "keluarga pilihan" yang namanya diingat sepanjang masa. Sebagai nabi, ia kehilangan mata rantai janji Allah, dan sebagai gantinya ia bisa menuntut agar janji itu terbukti (jika tidak melalui Ismail). Jika janji-Nya batal, maka Ibrahim merasa telah ditipu oleh-Nya.
Sebagai rasul, ia kehilangan pewaris misi, dan sebagai gantinya ia bisa menuntut jaminan bahwa risalah tauhid tidak akan padam bersamanya. Pamrih macam ini cukup berbahaya sebab bersembunyi di balik kepedulian pada misi Ilahi. Seolah-olah Allah bodoh dan butuh dikoreksi dan diberi saran. Seolah-olah Ibrahim lebih tahu bagaimana cara menjaga risalah daripada Yang Mewahyukan risalah itu sendiri.
Sebagai hamba Ibrahim sudah menumpuk ketaatan. Untuk hal ini, bentuk tagihannya mungkin sangat halus, semacam merasa telah berinvestasi terlalu banyak untuk diperlakukan begini begitu. Atau bisa jadi harapan, bahwa untuk ujian yang satu ini, ia boleh tidak ikut. Bahwa prestasinya bisa menjadi alasan bagi Allah untuk menguji orang lain saja. Bahwa cintanya yang dulu bisa menebus cintanya yang sekarang.
"Aku sudah menyerahkan masa mudaku untuk menghancurkan berhala. Aku sudah menyerahkan rasa amanku saat berjalan ke api Namrud. Aku sudah meninggalkan kampung halamanku. Aku sudah meninggalkan keluarga yang kucintai di lembah Bakkah. Masa iya Engkau memintaku menyembelih anakku sendiri? Apakah ujian seberat ini benar-benar harus aku jalani? Tidakkah ada jalan lain? Haruskah aku? Bukankah riwayat ketaatanku bisa menjadi alasan untuk meringankan takarannya?"
Ibrahim mungkin frustrasi saat semuanya tidak masuk akal. Sebetulnya sangat valid dan manusiawi kok, jika Ibrahim merasa berhak mendapatkan penjelasan. Ia bisa saja menuntut supaya Allah bertindak dengan cara paling masuk akal dan sejalan dengan nalar dan hatinya, atau supaya perintah-Nya tidak melukai hati yang diciptakan-Nya sendiri. But at the end, Ibrahim hanya mendengarkan semuanya, menyadarinya, lalu memilih untuk tidak menagih.
Lagipula, Ibrahim sebenarnya tidak menemukan satupun hal yang membuat pengorbanan itu sepadan. Semua klaimnya (sebagai ayah, rasul, nabi, hamba, manusia) tidak ada yang terbayar (setidaknya saat itu).
Dia tidak menerima jaminan tertulis tentang bagaimana risalah akan berlanjut tanpa Ismail. Janji Allah tetap misterius. Ibrahim tidak diberi tahu mekanisme bagaimana janji itu akan digenapi setelah Ismail "dimusnahkan". Tabungan ketaatannya tidak membuatnya mendapatkan keringanan. Perintah tetap harus dijalankan tanpa tawar-menawar. Dan perintah itu tetap tidak masuk akal. Tidak ada penjelasan rasional yang diberikan. Pengorbanan ini murni kerugian dari segi manapun.
Abu yang Tak Menagih Sang Api
Analogi pembakaran sangat pas menggambarkan pengorbanan sejati ini, terutama mengenai ketidakterbalikannya (irreversibility). Api sejatinya adalah proses (bukan benda) yang memberi panas dan cahaya dengan melenyapkan dirinya sendiri. Dan abu adalah residu yang tidak memiliki siapa pun untuk ditagih, karena api sudah "selesai" di dalam tindakannya sendiri.
Tidak ada reaksi balik. Abu tidak bisa kembali menjadi kayu, dan abu tidak bisa "memanggil" api kembali. Entropi sudah meningkat, proses sudah final. Ibrahim telah membakar semua klaim egoistiknya. Ia berdiri sebagai abu yang tersisa. Bahkan setelah semuanya, abu tidak pernah berkata pada sang api, "kau berutang padaku."
Lihatlah apa yang terjadi dengan kesetiaan seperti itu. Ia terbawa angin, menyelinap ke celah-celah waktu, dan menjadi buah bibir orang-orang saleh. Inilah potret pengorbanan yang tidak disia-siakan oleh Sang Maha Menghargai.
— Giza, gokil enak banget ngebedah cerita ini dengan seluruh framework dan teorinya Carl Jung
Scythian images of the snake legged goddess
While I’ve written about the Scythian anguipede goddess, I haven’t made a post focusing on strictly ancient Scythian representations of this theme. Therefore, this post is on all the images of the tendril goddess I’ve researched so far, found in ancient Scythian territories.
Scythian goddess, 340-300 BC. Bronze pommel. Found: Alexandropol burial mound (Lugovaya Mogila) Right bank of the Lower Dnieper, near Nikopol, Yekaterinoslav province, Russia.
Figure on left: MF Sumtsov Kharkiv Historical Museum. Figure on right: St Petersburg Hermitage Museum.
Possible Scythian vegetation goddess. Pendants from the Kul-Oba burial mound, Crimea, 4th century BCE.
Object said to be St Petersburg museum, but I can’t find it on their website. Image from this book: Williams, Dyfri, et al. Greek Gold: Jewelry of the Classical World. Abrams, 1994. Fig 85.
Drawing of the gold diadem from the Kul'-Oba burial mound, Kerch, Crimea. Info and image from Ustinov 2005.
Scythain ancestral goddess, 4th century BCE. Facing for a Horse's Frontlet. Found in Tsymbalka Barrow, Dnieper Area, Zaporozhye Region, formerly the Taurida Province Russia (now Ukraine). The Hermitage Museum in St. Petersburg.
Serpent legged goddess plaque, from the burial mound in Kul-Oba, near Kerch, Crimea, Ukraine. First half of the 4th century BCE. The Hermitage Museum in St. Petersburg.
Scythian goddess, silver plate from Kuban region, Maykop, Mariinskaya village. 2nd half of the 4th - beginning of the 3rd century BCE. Full view of plate here. State Historical Museum, Moscow.
Scythian goddess, silver or gold dish from the Chertomlyk burial mound, Dnipropetrovsk Oblast, Ukraine. Info from Laws 1961. Image from this website. Full post here.
Tendril limbed goddess, earrings from the Butory tumulus. Found in the Grigoriopol district in 1972.
“Sometimes the standard type of the tendril-limbed goddess evolved into a new pattern, of a still less human monster, for instance on earrings from the Butory tumulus" Info from Ustinov 2005. Photo from this news article (in Russian.)
Master / Mistress of Animals with tendril or snake legs. Cornice fragment from Chersonesus, Crimea. No precise date, listed as “Ancient Greek.” Info from Petrov and Makarevich 1963; photo from website dedicated to Kostsyushko’s Chersonesus reports. Full post here.
Scythian goddess, plaque. “On a plaque found during excavations of a burial mound near the village of Elizavetinskaya (second half of the 5th century – 4th century BC; (Fig. 1, 2) a woman without arms is depicted with a calathus on her head and two pairs of snake legs curved in a ring." Info and image from Petrov and Makarevich 1963.
Scythian goddess, gold plaque, found in the village of Labinskaya. Info and image from Petrov and Makarevich 1963.
Ivory pendant from the Bol'shaya Bliznitsa tumulus. Info and image from Petrov and Makarevich 1963, and Ustinov 2005.
Winged goddess on a plaque from Chersonesos, Crimean peninsula. Photo from Artamonov 1961.
Image a of snake-legged creatures on the sides of Bosporan sarcophagi; plaque from a burial mound in Kul-Oba, Kerch, Crimea. Photo from Artamonov 1961.
Scythian anguiped goddess, terracotta plate. with an image of a female deity. Made in Crimea, Chersonesos Taurica necropolis. 1st century CE. State Historical Museum, Moscow. Full post here.
Winged, two tailed goddess, sarcophagus decoration, 1st-2nd CE. Northern Black Sea region, Panticapaeum site. Found in Kerch, Crimea. State Hermitage Museum, St Petersburg.
Snake legged goddess, plaster cast, 1st-2nd CE. Northern Black Sea Region, Nymphaeum necropolis. Found in Kerch, Crimea. State Hermitage Museum, St Petersburg. Compare this image with a similar figure in a Berlin museum.
Acroterion with a double-sided image of the goddess. 1st century BCE / 1st-2nd century CE. Limestone. Pantikapaion necropolis, the north side of Mount Mithridates, Kerch. Exhibit: Treasures of Crimea. The Return. Treasury of the National Museum of the History of Ukraine.
This list is by no means exhaustive. I apologise for the images I couldn’t find actual photographs of. While I can read menus in Ukrainian, I really struggle with Russian, and most of the sources for these are in Russian. Also, I only have so much patience to track things down.
I’ll definitely be returning to this subject again.
Sources
Ustinova, Yulia. "Snake-Limbed and Tendril-Limbed Goddesses in the Art and Mythology of the Mediterranean and Black Sea." Scythians and Greeks: Cultural Interaction in Scythia, Athens and the Early Roman Empire (Sixth Century B.C. - Fist Century A.D.). Exeter: University of Exeter Press, 2005.
V. P. Petrov and M. L. Makarevich, 'Skifskaya Geneologycheskaya Legenda,' Sovjetskaya Arkheologia. (1963), 20-31. G. Pinza (Ed.), Materiali per la etnologia … (Скифская Генеалогическая Легенда,' Советская Археология)
Article available here, in Russian: https://arheologija.ru/petrov-makarevich-skifskaya-genealogicheskaya-legenda
Image also seen here: Ancient Iranian image of the Chronotope as represented by a secondary source: https://journals.indexcopernicus.com/api/file/viewByFileId/2158389
Zinchenko S.A. No.18 (2023)Zinchenko S.A. Tops with the image of a female deity from the Alexandropol burial mound: on the possibility of identification / personification of the character
Софья Зинченко uploaded a paper Навершия с изображением женского божества из Александропольского кургана: о возможности идентификации / персонификации персонажа by Софья Зинченко 2023
Link to her article online: http://www.historystudies.msu.ru/ojs2/index.php/ISIS/article/view/334/764
M.I. Artamonov Anthropomorphic deities in the religion of the Scythians. // ASGE. [Issue] 2. Scythian-Sarmatian time. L.: Publishing house of the State Hermitage. 1961. P. 57-87.
Laws, Guitty Azatpay. "A Herodotean Echo in Pompeian Art?" American Journal of Archaeology 65, 1 (1961): 31-35.
Oceanic Feeling (O.F.) outtake
VINCENT PRICE -
TOMB OF LIGEIA (1964) dir. Roger Corman
it’s her. the goddess of victory, nicky