ZAHIR BIN HARAM; Murah di Mata Manusia, Mahal di Mata Allah [Tulisan 2]
Zahir bin Haram adalah orang yang hidup di zaman Rasulullah saw. Zahir adalah orang pedalaman pada saat itu. Pada umumnya orang pedalaman adalah orang “fuqoro al masakin” (faqir miskin). Zahir adalah seorang pedagang di pasar Madinah. Zahir mempunyai kebiasaan sebelum ia masuk ke dalam pasar dan berjualan, ia mampir dahulu ke rumah Rosulullah saw yang kebetulan dekat dengan pasar Madinah. Sebelum ia berdagang, ia melihat manusia yang paling dicintainya. Kekasih Allah, Rosulullah Solallahu Alaihi Wassalam. Maa Syaa Allah
Walaupun tergolong orang faqir miskin, namun setiap datang ke rumah Rosul, Zahir selalu membawakan hadiah untuk Rosul. Dan Nabi Muhammad saw adalah orang yang ketika diberi hadiah oleh orang lain pasti selalu membalas memberi hadiah. Jika Rosul tidak punya apa-apa yang Beliau punyai untuk diberikan, maka ia akan membalasnya dengan mengangkat tangan, yap, berdoa untuk orang yang telah memberinya hadiah.
Suatu hari Zahir mampir ke rumah Rosul sebelum berdagang di pasar Madinah, namun Rosul sedang tidak berada di rumah. Akhirnya Zahir melanjutkan ke pasar tanpa melihat wajah Rosul terlebih dahulu. Setelah Rosul pulang, Beliau diberitahu oleh istrinya, bahwa tadi ada tamu (Zahir) ke rumah mencari Rosul. Rosul pun bergegas ke Pasar Madinah untuk mencari Zahir. Maa Syaa Allah….
Sesampainya di pasar, Rosul pun dengan mudah dapat menemukan Zahir. Hal ini karena fisik orang pedalaman yang berbeda dengan orang kebanyakan, yaitu hitam dan semacamnya. Setelah melihat keberadaan zahir, Rosul pun memeluk Zahir dari belakang. Rosul memeluk sambil berteriak-teriak kepada orang yang ada di pasar. “Wahai… siapa yang mau membeli budak ini???”. Orang-orang di pasar yang melihat kejadian tersebut pun tertawa melihatnya. Zahir pun bingung siapa orang yang memeluknya dan berteriak menawarkan dirinya sebagai budak.
Zahir pun menengok ke belakang dan mendapati wajah Rosul, Maa Syaa Allah….
Zahir pun berkata kepada Rosul, “Ya Rosul, jikalaupun saya ini dijual sebagai budak, saya ini sudah tidak ada harganya rosul, saya ini dekil, kotor, orang pedalaman, saya tidak ada nilainya sama sekali Ya Rosul kekasih Allah, saya ini murah Ya Rosul…”. Mendengar perkataan Zahir, Rosul pun menjawab, “Engkau boleh murah di mata manusia, tapi engkau mahal di mata Allah dan mataku”.(ariyani)
Sumber : Kajian oleh Syarifah Niina , Banyumanik, 17/01/2019
Ditulis : Sabtu, 19/01/2019