#sobatambyar #arswendo #djaduk #glennfredly #didikempot Sorga gayeng Selamat menikmati hidup abadi di surga (at Yogyakarta) https://www.instagram.com/p/B_znf2cADmd/?igshid=1moh4g4s1e66v
seen from Türkiye
seen from Ireland
seen from Yemen
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Australia
seen from Malaysia

seen from Ireland
seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China

seen from Türkiye
seen from Russia
seen from Canada
seen from United States
seen from Ukraine
seen from Russia

seen from United States
#sobatambyar #arswendo #djaduk #glennfredly #didikempot Sorga gayeng Selamat menikmati hidup abadi di surga (at Yogyakarta) https://www.instagram.com/p/B_znf2cADmd/?igshid=1moh4g4s1e66v
Tak Mau Arswendo Atmowiloto Dilupakan, Kerabat Gelar Tribute | #RecehkanTwitter #BebaskanLuthfi>>> Click Link ini !!!
Tak Mau Arswendo Atmowiloto Dilupakan, Kerabat Gelar Tribute | #RecehkanTwitter #BebaskanLuthfi>>> Click Link ini !!!
[ad_1]
Jakarta, CNN Indonesia — Sahabat serta rekan kerja mendiang Arswendo Atmowiloto akan menggelar acara peringatan bertajuk ‘Tribute to Arswendo Atmowiloto: Harta Paling Berharga’ pada Sabtu (30/11).
Jodhi Yudono, salah satu rekan kerja Arswendo, mengatakan Tribute to Arswendo Atmowiloto: Harta Paling Berharga merupakan upaya mereka untuk membuat Arswendo tetap lekat pada…
View On WordPress
Canting : Sebuah Revolusi Mental
Oleh: Enda Sinta Apriliana
Mendengar sebuah kata ‘canting’, apa yang pertama kali terbesit di benak Anda? Kalau saya, batik dan Jawa adalah dua kata yang pertama kali terbesit di benak. Arswendo Atmowiloto mengemas novel Canting dengan sangat cantik yang membuat saya terheran-heran bagaimana bisa seseorang berpikir demikian. Novel Canting adalah sebuah novel yang menceritakan tentang seorang gadis yang hidup di era yang modern, dianggap aneh oleh keluarganya sendiri karena dipandang tidak seutuhnya Jawa. Novel roman-keluarga yang menggambarkan seluruh cerita dengan detil—bahkan, Arswendo menuliskan setiap kata dalam percakapan dengan detil seperti percakapan tengkar maupun candaan—ini tidak hanya mengambil satu sudut pandang, namun juga seolah berusaha untuk bersikap netral. Arswendo juga mengemas bahasa dan diksi yang sangat baik, mudah dimengerti untuk semua kalangan, tidak hanya orang Jawa. Meskipun demikian, masih ada beberapa bagian dalam novel—bahasa, diksi, dan penjelasan detil dalam novel—yang belum dikemas dengan baik. Sehingga, ketika dibaca seolah cerita menjadi begitu rumit dan kompleks.
Canting adalah salah satu novel mengenai sebuah keluarga priyayi Jawa yang sangat menaati adat dan budaya Jawa. Sehingga, ketika Ni—tokoh utama dalam novel—melakukan, bertindak, dan berucap hal-hal di luar konteks “budaya Jawa”, ia dipandang aneh dan tidak sopan. Ni yang merupakan lulusan jurusan Farmasi dan merupakan generasi yang lebih modern dibandingkan kakak-kakak dan orangtuanya, tidak dapat begitu memahami apa yang dipahami oleh keluarganya yang lain. Begitupula sebaliknya, keluarga tidak mampu memahami apa yang dipahami oleh Ni. Tabrakan perspektif dan pemikiran ini akhirnya menimbulkan konflik dalam cerita. Konflik yang diambil oleh Arswendo pun bukan sekadar sebuah konflik keluarga yang memiliki miskomunikasi melainkan sebuah konflik tentang jati diri dan jalur tengah dari ketidaksamaan dalam memahami satu sama lain.
Arswendo Atmowiloto menghadirkan unsur tradisional dan modernitas dalam satu cerita ini dan berusaha membuat penulis memahami bagaimana konsep tradisional dan modernitas saling berseberangan satu sama lain, namun tetap ada jalur tengahnya. Novel ini benar-benar berusaha menempatkan diri dalam dua perspektif tanpa menghakimi. Bahkan, dalam detil percakapan dalam novel, Arswendo tetap menghadirkan unsur netral. Ia sadar, bahwa kedua unsur besar ini tidak akan bisa disatukan, bukan hanya karena perbedaan, tetapi bagi Arswendo akan lebih indah jika keduanya memang benar-benar berbeda dan selalu bertemu pada satu titik konflik tertentu. Dalam novel ini, Ni, berusaha untuk memahami bagaimana tradisionalitas hadir dalam keluarga dan pemikiran keluarganya dan ia pun berusaha untuk ikut masuk ke dalamnya. Namun, modernitas tidak dapat keluar dari perspektifnya, sehingga ia pun berusaha memperbaiki unsur tradisional yang seharusnya memang diperbaiki.
Novel ini adalah sesuatu yang baik jika dijadikan salah satu rujukan untuk memahami logika dan pemikiran Jawa tradisional di era yang modern ini. Unsur tradisional dan modern tidak dapat disatukan, namun dapat ditemukan titik tengahnya. Arswendo mengemas cerita yang sederhana namun memiliki makna dalam ini dengan baik. Ia berusaha menghadirkan dua perspektif dari unsur tradisional dan modern tanpa menyinggung pihak manapun. Pada makna tersirat, novel ini mengajak pembaca untuk mulai memahami revolusi mental yang terjadi pada manusia di era modern.
Abah tidak suka anak cengeng. Anak cengeng tidak akan pandai. Dan anak yang tidak pandai itu bodoh. Di dunia ini sudah tidak ada tempat untuk anak bodoh.
Arswendo Atmowiloto, dalam Keluarga Cemara
Akhirnya memasuki buku ke 5... buku terakhir... di buku ke 4 bnyak hal hal yang tidak di duga... di buku ke 4 mulai ketahuan siapa mada.. #book #marathon #baca #senopatipamungkas #sejarah #recomended #arswendo #bukubagus
Akhirnya memasuki buku ke 4.. buku ke-3 banyak menceritakan tentang kisah asmara upasara wulung dan gayatri... cerita yang bagus... keren dan banyak hal yang mengejutkan. #senopatipamungkas #bukubagus #keren #sejarah #arswendo
Akhirnya memasuki buku ke 3.. secara keseluruhan makin banyak konflik.. intrik... dan disinilah kisah percintaan terjadi... #senopatipamungkas #arswendo #buku #recomended #baca
Akhirnya memasuki buku kedua.. alur cerita bagus... detil.. pengarang mampu membuat emosi pembaca ikut merasakan jalan cerita. #recomended #book #senopatipamungkas #arswendo #baca