Kabupaten Bogor tanggal 29 Desember 2021 untuk pertama kalinya aku menjalani sidang pertama. Deg deg kan? Tentu. Takut? Tentu. Bahkan tiga hari sebelum itu aku sudah menjadi orang yang sangat sensitif. Aku merasa takut ketemu pak hakim dan timnya, aku takut dapat bentakan, aku…….. aku ingin fokus persiapkan mental dan bahan untuk persidangan. I will face the situation in court alone, because I am without a lawyer. Namun, lagi-lagi aku harus bersabar, bahwa aku sebagai manusia biasa hanya bisa menerima apa yang menjadi takdir ku. Yeah, usaha peternakan domba yang aku bangun memiliki tantangan yang perlu aku hadapi dan selesaikan. Dikondisi ku yang sangat sensitif, aku masih harus keluar kesana kemari betemu kolega. Do I accept this condition? Harus. I have no other choice.
Disaat seperti itu, aku ingin ada seseorang disamping ku yang bisa aku curahkan semua rasa khawatir, takut, lelah, anything. And I have a father. Ayah yang telah lama menghilang, loct contact, but disaat seperti ini ia hadir untuk bantu aku segalanya, he said I have him now. I’m very happy. And I hope, aku bisa ungkapkan semua perasaan dan pikiran ku ke ia. Namun, hal tak terduga terjadi. Dikondisi yang tidak tepat, ia yang menemani aku sambil kerja di peternakan ku mengajukan kasbon untuk kedua kalinya di rentang baru satu bulan bekerja. Aku tidak mempermasalahkan itu. Yang aku kecewakan, disaat bergumul perasaan negatif dan pikiran ku tidak karuan, ia tau semua kondisi keuangan aku dan perusahaan. Aku selama setelah Hari Raya Qurban 2021 hidupnya ditanggung (pinjaman lunak) oleh rekan-rekan aku, pikiran ku tambah tidak karuan saat itu. What do u think ayah? you want me to find a loan for you? Oh no. namun, ia bilang, ia minta sebagai seorang karyawan. Oke, aku coba mengerti but aku nggak ingin pikiranku nambah persoalan ini. And in my farm I have a team. Aku berikan untuk co-founder ku menyelesaikannya dengan kondisi keuangan perusahaan yang ngepas sebenarnya.
Hari persidangan pun tiba, alhamdulillah dengan berbagai tantangan dan kegiatan yang harus aku lalui sebelumnya, aku bisa menyiapkan berbagai bahan dengan berbagai kemungkinan pertanyaan hakim nanti. Over all, berjalan lancar meskipun diawal aku dapat bentakan karena kurang paham alur yang harus aku lakukan dan ayah ku tidak diperkenankan masuk. Yeah, I’m alone in the courtroom. Di hari persidangan itu, gugatan aku ditolak dan aku harus buat gugatan ulang. Oke, aku berusaha menerima dan move on ke kegiatan ku yang lain, ke tantangan ku yang lain. Bukan hari yang buruk juga saat itu.













