Runaway (Sebuah curhatan)
Ya, melarikan diri dari banyak hal. Hal ini menjadi tindakan impulsif ketika lingkungan menuntut kita untuk multitasking dengan keadaan yang tidak sepenuhnya mampu.
Dan ini adalah sebuah kesalahan. Kesalahan atas ketidakbersyukuran (saya) bahwa Allah telah mengkaruniakan nikmat untuk belajar banyak hal, bahwa tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama atas segala sesuatu.
Tulisan ini menetas karena Allah yang senantiasa berbaik hati kepada saya dengan menghadirkan pengingat, bentuk ‘tamparan’ yang penuh dengan kasih sayangNya.
Sebelumnya, ada seseorang yang berkisah dengan saya yang akhirnya membuka mata saya tentang “seberapa saya merugi karena ‘berlari’?”
Saya tersadarkan, bahwa diluar sana–bahkan dlingkaran saya sendiri, banyak sekali orang yang mungkin ketika saya masing sibuk menimbang akan melakukan apa, mereka-mereka telah berada pada langkah pertamanya, menyusun sebuah motivation letter untuk apply Erasmus-nya, menghafal ayat-ayat dan firmanNya, menyelesaikan tugas kampusnya, menulis artikel untuk website resminya, membaca buku sejarah atau bahkan sedang tertawa karena menonton video TED tentang procastination yang sarat akan penyadaran hidup.
Saya menulis berbagai kemungkinan itu karena memang itulah yang saya temui dilingkaran hidup saya.
Dan saya baru tersadar karena saya disini masih sibuk bersembunyi dari apapun dan siapapun, sibuk menimang langkah paling baik apakah yang akan saya pijak, atau mimpi spektakular apakah yang hendak saya lukiskan dilangit masa depan saya.
Lagi-lagi, saya baru tersadar bahwa semua yang saya lakukan masih sebatas akan, belum ada pelaksanaaan kata-kata.
Mungkin ini langkah awal saya untuk menghentikan pelarian saya. Bahwa saya lupa, jikalau ingin menempuh perjalanan panjang, saya butuh bekal.
Bahwa dalam berlari dari kenyataan, ternyata sangat melelahkan.
Satu hal yang seharusnya mengekal dalam benak, tetapi mungkin mengabur tersebab banyaknya keluhan saya adalah:
وَلَا نُكَلِّفُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kemampuannya, dan pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (QS.al-Mukminun:62)