"Aku Baca Blogmu, India.”
Aku yakin semua hal di dunia ini adalah hasil dari sebab dan akibat. Seperti asap hitam yang muncul dibalik sebuah kebakaran. Jerawat yang tumbuh karena tamu bulanan atau kebanyakan makan kacang. Bahkan kejadian yang menyeramkan seperti di PHK. Mungkin itu berarti, kamu bisa punya waktu lebih yang bisa kamu gunakan untuk konsentrasi kepada diri sendiri. Mau itu jalan-jalan keluar negeri, atau menulis proposal bisnis baru tanpa sembunyi-sembunyi lagi dari atasan. Karena apa? Karena, kalian nggak ada atasan lagi!
Sementara itu, aku mengamati bayanganku yang terpantul di layar gelap laptop. Aku elus-elus kulit pipiku yang terasa kasar. Lain kali aku harus mengurangi minum kopi hitam, perbanyak minum air putih. Layar kemudian hidup benderang, bunyi khas MacBook yang baru dinyalakan menampar lamunanku.
Oke, India saatnya kita kembali bekerja.
Hari ini aku merasakan sesuatu yang berbeda. Seakan-akan seisi kantor ini sedang membaca suasana hatiku yang uring-uringan. Aku memutar badanku setengah sambil masih duduk di kursi, beberapa kolega memang berjalan di belakang badanku. Beberapa sedang membaca lembaran editorial, beberapa lagi terdengar berbicara dengan narasumber lewat ponsel. Nampak seperti tidak ada apa-apa. Namun, apa mereka akan menguntitku saat aku kembali menatap laptop?
Uh, aku tahu. Ini cuma moodku yang berantakan. Nggak seharusnya aku merasa khawatir. Karena nggak ada yang bisa membaca pikiranku, ya bukan?
“Hei, Princess. Ini advertorial punya Butterfly, Truckies and Deli Button. Kayaknya banyak grammar error, aku nggak sepenuhnya percaya dengan anak baru itu.” tumpukan kertas setebal lima sentimeter digeprak ke atas mejaku.
Aku mengadah mendapati sesosok pria tegap di dalam kaus The Strokes-nya yang nampak menjerit di bagian dada dan bahunya yang bidang, namun jatuh longgar di bagian pinggang dan perutnya yang rata.
“Kamu memang nggak percaya dengan siapa-siapa. Anyway, it is called grammatical error not grammar error.”
Senyum mengembang di wajah Orion, atau yang biasa aku sapa dengan Iyon, yang keras. Melembutkan rahangnya yang kuat dan terselubungi oleh janggut yang belum ia cukur dari bulan kemarin. “Itu kenapa kamu jadi Head of Editorial Content, bukan aku.”
Aku melirik tajam kerarahnya sambil meraih kacamata berbingkai hitam tebal yang tergeletak di meja.
“Kamu tahu India, aku suka melihat kamu pasang kacamata seperti itu. Bikin aku gemes.” Jari-jari Orion yang gempal itu meraih pinggangku, namun dengan cekatan aku mengelak.
“Mungkin di kehidupan lain, Iyon.” kataku. “Saat kamu sudah dikebiri dan tobat sepenuhnya.”
Iyon mengerucutkan bibirnya yang tebal di bagian bawah namun tipis di bagian atas. Ia mengepal tangannya ke arah dada. “Ouch! India!”
Ya, aku nggak akan pernah bisa meliat Iyon dengan pemikiran seperti itu. Meskipun karena ia burpees 50 kali sehari sampai dadanya jendol dan perutnya kotak-kotak begitu, Iyon tetaplah Iyon. Temanku bermain barbie dan rumah-rumahan. Kadang pula kita gantian. Saat dia jadi Tommy si Ranger Hijau, aku adalah Rita Repulsa yang jatuh tersungkur di tanah begitu ia menancapkan pedang naga putihnya ke perutku.
Sungguh kabar yang amat menggembirakan bagi cewek-cewek saat mengetahui Iyon, alias Rio, alias (sebutkan nama karakter yang ia gunakan saat rolepay) bukanlah seorang homoseksual. Kabar itu mungkin disaambut dengan linangan air mata, kemudian disusul dengan syahwat dari letupan esterogen dan oksitoksin yang berlebih.
Setelah terpisah sekian lamanya, akhirnya kami bertemu di sebuah markas warta berita online dengan nama yang lumayan canggung: Peanuts. Peanuts. Ya, kacang. Kacang Tanah. Aku langsung bertanya dengan Iyon sendiri yang merupakan anak dari investor Peanuts Indonesia, kenapa situs warta online ini harus dinamakan sedemiakan rupa oleh Ibunya.
“Oh, karena BuzzFeed, Cracked, Coconuts... apa nama-nama tersebut kedengaran masuk di akal? Nggak. Apa nama-nama tersebut terdengar formal. Nggak. Tapi, nama-nama tersebut mudah dekat dengan pasar?”
Iyon membentangkan lengannya yang kekar. Menyudahi presentasinya.
“Oh, ya? Lebih bagus membaca berita krisis energi dari mana. The Wall Street Journal atau Peanuts?” tangkisku.
Iyon mengernyitkan mata cokelat mudanya. “Please, siapa sih yang mau baca berita tentang krisis energi? Dunia ini sudah sekarat. Jangan bikin sedih diri sendiri.”
Saat itu Iyon berlalu dari kubikku sambil mengantungi beberapa butir M&Ms di tangannya. Kemudian ia menunjuk ke arahku. “The Huffington Post.”
“Aku baca banyak berita tentang isu lingkungan disana. Bukannya di Wall Street dong, gimana sih kamu, katanya jurnalis.” sindirnya.
Aku menggelengkan kepala. Aku sendiri tidak mau dipanggil jurnalis. Karena aku merasa seperti bukan jurnalis. Aku tidak pernah punya pengalaman menyusun sebuah berita. Terakhir kali, aku menyusun berita adalah dalam Ujian Nasional Bahasa Indonesia 8 tahun lalu. Sekarang, aku hanya menyunting. Sebelumnya juga, aku bukan seorang reporter. Aku mengawali kaririku sebagai copywriter di agensi periklanan. Didera dari pagi hingga pagi lagi untuk kampanye iklan kecantikan dan makanan cepat saji yang punya anggaran milyaran sebulannya. Namun, hanya dibayar sepeser dari itu semua.
Beruntungnya Iyon dan aku berteman di Facebook dan ia membaca status-statusku tentang hal-hal yang tidak boleh aku tulis di copy sebuah iklan. Ya, seperti pertanyaan mengenai rasisme, agama, supremasi kulit putih hingga bencana alam.
Iyon, yang merupakan Chief of Public Relation dari Peanuts, akhirnya menarikku ke perkumpulan jurnalis muda di bawah 30 tahun sebagai Head of Editorial Content, yang berarti aku langsung melapor kepada Editor in Chief, Ibu Marissa.
Well, bukan siapa-siapa, ia dulunya adalah kepala redaksi dan wajah dari VoA Indonesia. Aku masih ingat rekamannya saat ia menyampaikan berita sebagai news anchor. Oh, dan ia sekarang tengah menyelesaikan thesis doktoralnya untuk Cambridge University. Oh, perguruan tinggi biasa, kok. Ibu Marissa adalah perempuan di usia 50 yang biasa saja. Begitu aku ingat-ingat di kepalaku saat aku memasuki ruangan kerjanya, sambil meremas-remas tanganku yang disekujuri keringat dingin.
Bekerja dengan sahabatmu sendiri menyenangkan. Meskipun berbeda departmen dan deskripsi tugas, Iyon selalu mengajakku untuk rapat bersama tim kreatif pemasaran. Karena ia tahu latar belakangku, dan karena ia tahu aku rindu menuangkan ide-ide gila. Dan, ia juga sanggup menambahkan beberapa digit di gajiku.
Ternyata, bekerja di Peanuts tidak seburuk yang aku bayangkan. Aku bahkan bisa belajar banyak dari reporter muda yang lulus dari perguruan tinggi terkemuka dari dalam maupun luar negeri. Dan mereka semua punya selera musik yang bagus.
“Kamu mau kemana?” cergah Iyon saat aku beranjak dari kursi.
Aku mengangkat cangkir yang dengan wajah Nicolas Cage tercetak diatasnya. “Kamu mau kopi, juga?”
“Kamu banyak advertorial begitu.”
“Ya, aku cek sebentar lagi.”
“Klien mau lihat sebelum jam makan siang.”
“Ya ampun. Relax, Yon. Aku nggak kemana-mana. Emang ini jam berapa sih?” aku menyeru dari pantry yang jaraknya tidak jauh dari kubik.
“Oh,” gumamku, sambil melihat jam dinding yang berada di dapur. Entah aku tergerak untuk meraih satu cangkir tambahan dan memenuhinya dengan kopi hitam dan susu untuk Iyon. Rasanya seperti berhutang.
“Kamu kenapa, India?” tanya Iyon sekembalinya aku ke kubik. ia menerima kopi ramuanku, namun tidak langsung meminumnya.
“Aku bisa minta waktu lebih sama klien. Tapi, ada apa?”
Aku menyeruput kopiku hingga setengah gelas dan mengeratkan kacamata bacaku. “Nggak usah, yon, tiga artikel. Bisa selesai cepat kok.”
Dengan pena merah ditangan, aku menyusuri kalimat-kalimat yang dicetak di kertas putih tersebut. Aku masih merasakan kehadiran Iyon dari tubuh 185 sentimeternya yang menggerhanai kubikku.
Aku tidak bisa bekerja karena kurang pencahayaan, apalagi saat ia berkata. “Aku baca blogmu, India.”
Aku menoleh ke arah Iyon sejenak, konsentrasiku buyar.
“Oke, maaf. Kembali kerja dulu. Kita ngobrol jam makan siang ini, ya.” tutup Iyon sambil berlalu.
Dan aku hanya bisa memandanginya bahunya yang bidang membelakangiku, begitu juga dengan bantalan bokongnya yang kejal di dalam jins itu. Aku cepat-cepat memalingkan wajah. Sebelum, semuanya terasa aneh.