a boy in mind
Ponselnya sedang dipinjam ketika semua itu terjadi.
Gadis itu ketinggalan satu kelas karena bangun kesiangan, dan Lee Seungyeon merupakan korban. Salah siapa catatan kamu lengkap, Seungyeon-ah, katanya dengan riang dan tanpa bersalah mengambil binder kecil itu dari tangan si teman, karena itu aku pinjam! Pada akhirnya, gadis Lee tersebut hanya bisa menarik napas dalam kemudian berkata bahwa sebagai balasan, Minkyung harus meminjamkannya ponsel. Untuk mengecek grup seoltalk angkatan, katanya, dan Cheon Minkyung membolehkannya begitu saja. Lagipula, ponsel Seungyeon rusak, thus, tidak bisa mengecek sendiri―itu bukan berita baru. Sudah berlangsung sekitar tiga hari yang lalu.
Yang baru adalah bunyi ding notifikasi dari seoultalk yang tiba-tiba masuk. Jangan tanya kenapa dia bisa tahu. Nadanya kan beda dari pesan singkat atau bentuk SNS yang lain.
“Bacain dong,” adalah apa yang dia katakan tanpa merasa perlu menoleh dari catatan Lee Seungyeon, tangannya masih sibuk menulis sembari membolak-balik halaman demi menyelaraskan catatannya. Paling-paling cuma Minhyuk-oppa, kan, itu sih hal yang biasa walau waktunya sama sekali tidak bisa diprediksi. Semua notifikasi grup juga dia matikan. Paling mentok juga teman seangkatan atau senior yang tanya-tanya mengenai progress organisasi kampus, jadi tidak ada yang benar-benar spesial. Tapi yang mengagetkan dari itu semua adalah Lee Seungyeon yang kemudian berkata dengan nada datar, “Aku habis bikin gorengan, kamu mau tidak, haha….” Kening si gadis Lee berkerut, tapi Minkyung tidak tahu hal ini, mengingat dia masih fokus pada catatannya sendiri, “Minkyung-ah, notunclesam siapa?”
Mendengar id yang disebutkan Seungyeon, Minkyung secara otomatis menoleh, kemudian menggapai-gapai. Gadis Lee yang tahu bahwa ponsel yang berada di tangannya sedang dalam ancaman berpindah tangan, menggeliat menghindar sementara tangannya mengetuk-ngetuk sesuatu di layar ponsel. Minkyung masih berusaha merebut, namun begitu, “OMO! OMO! FOTONYA! KENAL DARI MANA KAMU.”
“KEMBALIIN, SEUNGYEON-AH.”
“PUNYA TEMAN SEGANTENG INI KOK GAK BILANG-BILANG.”
Sontak, pipinya merona, namun dia masih berusaha menggapai Seungyeon yang sekarang menggeser kursinya jadi jauh sekali, dan masih menyerocos, “DIA SIAPAMU MINKYUNG YA AMPUN KALIAN SEMPAT NONTON KONSER BERDUA.” Tidak salah lagi, gadis Lee itu membaca history chatnya dengan Baehwan. Pipinya makin panas. Malu, tahu... Seungyeon dengan tidak tahu malunya bicara keras-keras sampai orang-orang yang lewat di kelas mereka yang kosong sampai melongok. Kalau hal ini masuk ke grup angkatan, bisa gawat riwayat―padahal mereka bukan siapa-siapa. Ya kan? Mereka cuma teman. Di-cie-cie-kan oleh orang-orang adalah hal yang paling tidak enak, apalagi kalau kau belum masuk dalam tahap apa-apa. “Yah, Lee Seungyeon, kembalikan. Kalau tidak…”
“Kamu kosong tidak sore ini?”
“Hah.” Ini bukan reaksi yang dia harapkan dari Seungyeon, tepat ketika dia mau mengancam melakukan sesuatu. “Kosong. Kenapa?”
“Bagus. Kamu ada kencan dengan si notunclesam ini,” jari Seungyeon sudah mengetik tanpa bisa dicegah, dan sedetik kemudian ponselnya dikembalikan dengan keadaan terkunci. “Jangan pernah berpikir untuk kabur! Sudah waktunya kamu berhenti merajuk padaku kalau lagi sendirian dan pergi kencan. Sekarang ceritakan secara singkat!”
“…” Bengong.
“YAH, CERITA!”
“YAH, LEE SEUNGYEON!” Sebal, diteriaki seperti ini, tetapi ketika Lee Seungyeon sudah melotot seperti sekarang, susah untuk kabur tanpa penjelasan. “Cuma… teman. Anak SNU. Ketemu pertama kali di konser. Kedua kali di Hongdae. Terus tukar kontak. Anaknya baik…”
“Kamu suka?”
“Suka…” jawabnya tanpa sadar, namun sayangnya dia terlambat sedetik. Seungyeon sudah tersenyum dengan mata berbinar-binar, sementara gadis itu mencangklong tasnya ke bahu untuk kemudian bangkit. “Kalau begitu, cek setalkmu, kemudian dandan yang cantik, ne? Catatanku kembalikan besok saja. Adios!”
Maka Minkyung mengedip, kemudian meraih ponselnya di atas meja, membuka setalk. Dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Seungyeon, namun ketika dia melihat apa yang diketikkan Seungyeon di sana, dia tidak tahan untuk tidak berteriak, “YAH, LEE SEUNGYEON, BAHASAKU TIDAK SEKAKU INI!” sementara yang bersangkutan sudah tidak terlihat batang hidungnya dan pergi keluar kelas dengan langkah cepat.
Tapi ketika dia keluar dari bangunan kampus dengan terburu-buru, benaknya sendiri tidak bisa untuk berhenti memikirkan apa yang akan terjadi nanti sore. Dan kata-kata Seungyeon… dandan yang cantik….
Huft. Ya jelaslah dia akan dandan yang cantik! Kalau kumal kan malu!











