Smallville vs Blue Beetle movie Who wore it best? #bluebeetle #smallville #dccomics #wbentertainment #wbstudios https://www.instagram.com/p/Cd_4N3rMtSA/?igshid=NGJjMDIxMWI=
seen from Vietnam

seen from Malaysia
seen from India
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Algeria

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Russia

seen from Malaysia
seen from Russia
seen from Vietnam

seen from Malaysia

seen from Russia

seen from Slovakia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
Smallville vs Blue Beetle movie Who wore it best? #bluebeetle #smallville #dccomics #wbentertainment #wbstudios https://www.instagram.com/p/Cd_4N3rMtSA/?igshid=NGJjMDIxMWI=
What everyone thinks of this #movie #world #warmbodies #wbentertainment #bluray #dvd #dvdplayer #xbox #xboxone https://www.instagram.com/p/Bxc406IFn1S/?igshid=xl0b4nqh6t0b
What everyone thinks of this #movie #world #thecabininthewoods #wbentertainment #bluray #dvd #dvdplayer #xbox #xboxone #horrormovies #horror https://www.instagram.com/p/BxcntxXFbar/?igshid=1oo0w4rv9cpas
What everyone thinks of this #movie #world #suckerpunch #wbentertainment #bluray #dvd #dvdplayer #xbox #xboxone #funny https://www.instagram.com/p/Bxcbr4kFFUK/?igshid=19gghv7yfyyr5
Didn't given to Warner Bros any allowance to make a loosely adaptaded satire about every single of my failed hits in a nutshell.... especially since I would probably stay deep on my chair for such a fine, sensual, sophisticatedly sweet-toothed lady in there. 😏👑 I BARGAIN FOR MY RIGHTFUL OWNERSHIP, W!!! #storyofmylife #menwomenanddogs #wbentertainment https://www.instagram.com/p/BwJJzD0gJkc/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=guc0tnn5xqcm
I don't know if is it true, but I can't ignore that's possible. Unfortunately to the movie and entertainment industries fire or hire someone is only businesses. while for us, fans around the world, that means a lot more. But, they and we can't forget that we sustain these industries! We deserve respect. Do you agree with me? #Repost @dcglobee ・・・ There’s a rumor going around right now that Zack was actually fired before his departure. This man lost his daughter and Warner bros just cut his film apart and brought in whedon to reshoot a huge amount. 💔 goes to show you how harsh this business really is... #henrycavill #zacksnyder #wbpictures #wbentertainment #wb #manofsteel #manofsteel2 #superman #justiceleague #suicidesquad
#nightwing #dickgrayson #dc #dccomics #comics #comicbook #cizgiroman #bluenightwing #wb #wbentertainment #dcuniverse
the way forward
you should never pass up the chance to break your heart.
.
.
.
“So! Kabar yang kudengar, pada awalnya kamu lebih tertarik menjadi aktris? Bagaimana ceritanya kau bisa menjadi seorang idol?”
“Ah, itu… ya, dulu aku memang tertarik menjadi seorang aktris,” tawa. “Bahkan saat SMA sekolahku jurusan akting! Namun―kurasa aku sudah mengatakan ini, sering sekali―dulu KNOX Joonho adalah tetanggaku dan kami cukup dekat… dan dia yang mempengaruhiku untuk masuk ke dunia entertainment sebagai idol, dan bukannya aktris. Selain akting, aku juga suka menari.. dan dekat dengan Joonho membuat aku menyukai lagu-lagu hip-hop dengan rapp yang kental. Joonho setengah menyuruhku untuk ikut audisi, dan ternyata aku diterima.”
“Wah! Namun, setelah itu, Show Me The Money… bagaimana ceritanya sehingga kamu memutuskan ikut?”
“Orang-orang mengatakan bahwa SMTM aku lakukan semata-mata demi membangun nama, namun…” jeda sejenak. “Bertahun-tahun berada di studio, melihat orang-orang menulis lagu, dan sebagainya juga membuatku tertarik. Kata orang, kau bukan rapper jika kau tidak membuat lagumu sendiri, dan sesungguhnya… aku mengikutinya untuk mengukur seberapa jauh kemampuanku, serta mengetahui kelebihan dan kekuranganku tanpa adanya bias. Kalau popularitas menyertai, itu nilai plus. Hip-hop… aku berpikir, bahwa hip-hop adalah sebuah sarana untuk meluapkan ekspresi, dan itu cocok untukku.”
“Dan, akting? Kau tidak pernah melupakannya, selama ini?”
“Itu, dan… ah, bagaimana menjelaskannya, ya? Setelah aku debut dengan Versailles―yang mana, tentu saja, sebuah hal yang menyenangkan―aku sadar bahwa aku tidak boleh berpikir mengenai diriku sendiri. Aku juga harus berpikir mengenai grupku, bagaimana caranya kami memperoleh popularitas, tampil di depan umum, membesarkan fanbase… jelas bahwa kami harus bekerja dengan lebih giat untuk mencapai itu semua, dengan kesempatan yang kami dapat. Pun, ada satu orang yang mengatakan ini padaku: selagi kamu masih muda, ketika kesempatannya datang, maka jangan sia-siakan.” Tertawa, ia melanjutkan. “Fans mengatakan bahwa Versailles Hwa adalah seorang maknae yang memiliki banyak charm. Aku, tentu saja, ingin menunjukkan hal tersebut pada publik. Walaupun aku masih banyak kekurangan, namun aku akan terus berusaha lebih baik lagi.”
.
.
.
01.
Ibunya suka sekali mengatakan bahwa kehidupan seperti sebuah jalan raya.
Kau melaju, mulai dari satu titik, kemudian pilihan membuatmu berbelok, entah ke kanan, ke kiri, atau ke tenggara. Untuk tujuan yang sama, orang-orang bisa melewati jalan yang sepenuhnya berbeda. Macet yang tercipta membuatmu pergi mencari jalan pintas, sementara jalan yang ditutup membuat dirimu memutar. Jika kau mengalah, kau juga bisa kembali ke titik awal―dengan waktu yang terbuang yang membuatmu menyesal.
Minhwa tidak tahu apakah hal itu benar. Tapi,
“Hwa-ya.”
Itu, suara Kim Sungyeol, manager road Versailles.
“Hei, bangun,” tubuhnya diguncang-guncang. Kepalanya terbentur jendela mobil karena hal tersebut, dan benturan itulah yang membuat Minhwa membuka mata dan menatap managernya itu dengan tatapan tidak suka. Kim Sungyeol, baru sebulan menjadi manager, dan belum berpengalaman―Minhwa harus mengingat-ingat hal tersebut supaya tidak kelepasan meluapkan amarah. Tidurnya hanya dua jam kemarin malam dan skedulnya hari ini padat dengan pengambilan gambar sebuah acara mukbang keliling kota Incheon… yang berarti tanpa istirahat dan banyak sekali berjalan. Ketika semua sudah selesai, tentu saja Minhwa menginginkan istirahatnya tidak diganggu dengan sebegini kasar… “kita sudah sampai.”
Pemandangan di luar membuatnya merengek. “Oppa… katamu tidak ada latihan hari ini! Kau sudah berjanji!” Alih-alih pemandangan basement dorm yang menyapa indera penglihatannya, justru bangunan kantor WB Entertainment yang tersaji di hadapan, dengan tambahan langit yang kini telah menghilang dan kelip lampu yang membuatnya terang… seperti magis… dan tak tersentuh. Keningnya berkerut, dalam, sementara ia menggelung rambutnya ke atas.
“Bukan untuk latihan, Hwa-ya… aku dapat pesan dari Youngmi-nim, katanya kau harus menghadap ke kantor. Lihat,” lelaki paruh baya itu menunjukkan ponselnya, dan Minhwa membaca kata tiap kata. ‘Sungyeol-ssi, setelah aktivitas Hwa selesai, tolong antar dia kembali ke kantor, ya? Ada yang mau kami bicarakan’ tertulis jelas-jelas di layar. “Aku hanya bisa mengantar sampai sini―aku masih harus menjemput Jieun, katanya sebentar lagi acaranya selesai―jadi kau masuk sendiri, eoh? Barang-barangmu di belakang biarkan saja. Nanti aku masukkan ke dorm.”
“Hm.”
Gadis Bang tersebut menepuk-nepuk wajahnya, berusaha menghapus segala jejak tidur yang menghampiri (…ini belum terlalu malam―masih jam tujuh―dan masih ada beberapa fans yang menggerombol seperti kawanan semut. Ini musim panas, padahal. Bertahan di malam yang gerah jelas bukanlah suatu hal yang nyaman, terlebih berdiri terlalu lama tanpa nyamannya suhu pendingin ruangan. Walaupun dia lelah dan sangat merindukan aktivitas yang dinamakan manusia sebagai tidur, namun sebagai publik figur, ia harus bersikap baik terhadap fans. Mempertahankan visual adalah salah satunya.
Ia baru saja akan memakan masker hitam ketika managernya memanggil untuk kesekian kali. Minhwa membalasnya dengan sebuah gumaman singkat.
“Manager Yoo akan menyambut di depan pintu dan mengantarmu pulang. Jangan khawatir.”
“U-ri ma-na-jer-nim…” ia menoleh. Suara radio yang awalnya mengalun pelan kini direduksi hingga nol persen, dan ketukan jari Kim Sungyeol menjadi suara yang mengisi seisi mobil, selain suara kresakan yang ditimbulkan dari Minhwa yang bersiap, dan percakapan mereka. Suara rendah mesin mobil dan suara yang dihasilkan dari hembusan angin air conditioner adalah apa yang menyertai ketukan jari yang (baru Minhwa sadari ini sekarang) telah berlangsung cukup lama. Ada yang baru dari Kim Sungyeol―ketika pada okasi biasanya lelaki itu akan mengusir dirinya dan member lain untuk bertindak cepat, yang dia lakukan justru menahan. Dan raut itu…
“Aku tidak khawatir.”
“Tapi aku iya, Hwa-ya.” Tuk. Tuk. Tuk. “Perasaanku tidak enak… hati-hati, ya?”
“…tentu saja. Oppa juga, hati-hati.”
.
02.
Tujuannya di dunia entertainment ini adalah menyeruakan suaranya. Mengatakan pada ayah kandungnya bahwa, halo, aku adalah anak dari perempuan yang dulu kau anggap tak berguna. Yang kau rendah-rendahkan hingga lebih rendah dari tanah, kau siksa hidupnya hingga menderita, Minhwa tidak akan berhenti sampai ia bisa mengatakan hal tersebut pada dunia, mengungkap sebejat apa seorang Bang Jonghyun dalam bentuk penyamaran sebuah lagu. Tentu, ia menyukai apa yang harus ia lakukan pada akhirnya, dan menikmati perjalanannya, namun….
“Memiliki seorang sponsor?”
Seumur hidupnya memperhatikan, tujuh tahun ia berlatih, dan empat tahun debut bersama Versailles… dan kini ia berkecimpung di dunia bisnis yang kotor.
“Sajangnim, apa maksudnya ini? Hal seperti ini tidak ada di kontrak…”
Lee Hyunwoo, yang duduk nyaman di posisinya di belakang meja, menghela napas, untuk kemudian menjelaskan. Bahwa agensi memberikan pengeluaran besar-besaran hanya untuk Versailles, dan hal tersebut harus dilakukan terus menerus agar mereka bia berdiri dengan kaki sendiri… namun agensi tak memiliki pendapatan yang cukup untuk itu. Bahwa demi menarik hati publik, mereka harus berada di televisi lebih banyak, namun apa yang bisa dilakukan tanpa undangan dari produser-produser? Yang mereka inginkan, yang Versailles butuhkan, adalah sebuah kejadian yang dapat membuat nama meledak dan berbagai kontrak dapat ditandatangani demi datangnya uang. Bahwa dengan sponsor, hal tersebut dapat terjadi―dengan mudah, dengan instan, dengan cepat… juga, “ini bukan tawaran, Bang Minhwa.”
Ia tahu apa artinya hal tersebut. Ini perintah. Bang Minhwa harus menuruti, mau tidak mau.
“Kenapa…” kenapa harus aku? Jika ini menyangkut Versailles, kenapa harus dirinya―namun kemudian gadis kita terpikirkan akan membernya yang lain. Ahrin-eonni dan Hyesu-eonni, yang memiliki hubungan khusus di kehidupannya masing-masing, serta Jieun yang melakukan hal yang sama… tahu bahwa hanya ia yang bisa. Bagaimana bisa Minhwa bersikap egois kepada ketiga sosok kakak perempuan yang secara literal berbagi hidup bersamanya selama empat tahun? Dia memang egois, namun ia tidak seegois itu untuk melihat mereka terluka… sayangnya. Sayangnya, ia masih punya hati.
“Begini, Minhwa. Apa yang kau inginkan akan dilakukan. Akting? Supporting role di drama adalah awal yang bagus.”
Minhwa hanya menunduk.
“Atau solo debut? Segera setelah fanbase pribadimu merangkak naik. Kurasa tidak butuh waktu lama.”
Minhwa tahu dia tidak bisa menolak. Kepalanya diangkat, memegang pandangan Lee Hyunwoo, tanpa berkedip.
“Perlindungan apa yang bisa saya dapatkan jika terjadi sesuatu?”
(Dia tidak tahu bahwa senyum Lee Hyunwoo bisa semenakutkan itu baginya.)
.
03.
Seumur hidup ia mengenal kata bekerja, adalah frasa membanting tulang-lah yang terperangkap dalam memori. Empat tahun dia benar-benar mulai bekerja, yang dia pikirkan adalah panggung dengan sistem suara fantastis dan lampu-lampu gemerlap yang menyorot setiap geraknya, dengan orang-orang yang menyanyikan lagunya sembari menyerukan nama… dan fanchant. Atau, kamera yang merekam setiap kegiatannya, detik demi detik, sampai salah satu staff menandakan bahwa apa yang mereka lakukan sudah cukup pada saat itu. Atau, pemotretan, di mana ia harus menyiapkan seribu pose seperti apa yang diinginkan oleh fotografer, dan berurusan dengan sepatu yang kekecilan dua nomor.
Tapi,
dia tidak pernah tahu bahwa ‘pergi ke hotel’ bisa menjadi sebuah deskripsi atas bekerja. (Walaupun memang, sesungguhnya ia tahu, namun tidak pernah peduli, dan sama sekali tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi padanya.)
Sponsornya bernama Kim Moonsoo, salah seorang petinggi di dalam kementerian… Minhwa merasa hal tersebut tidak penting sehingga tidak merasa perlu untuk mengingatnya. Umurnya nyaris tiga kali umurnya sendiri, pernah menikah namun bercerai (untunglah, pikirnya―dia tidak ingin disebut sebagai perusak rumah tangga orang). Memiliki satu orang anak, laki-laki, seusianya dan telah memiliki hidupnya sendiri―mahasiswa yang tinggal di sebuah rumah terpisah dari orangtuanya. Kim Moonsoo adalah orang yang baik.
Orang yang baik, kata publik. Ia bukan politikus, sehingga namanya terhitung bersih dari konflik.
…bukan orang yang baik, adalah yang terlintas di pikiran Minhwa saat laki-laki itu menciumnya secara paksa sementara kedua tangannya diikat dengan sehelai saputangan. Sama sekali bukan orang yang baik, ketika lelaki itu mendorongnya hingga kakinya berbenturan dengan ranjang. Orang yang mengerikan, ketika laki-laki yang dapat menjadi ayahnya tersebut melucuti pakaiannya satu persatu, membiarkannya tergeletak di lantai seperti sebuah kain lap yang kotor.
Minhwa ingin menangis, tetapi ia tidak bisa. Ia mengingatkan dirinya sendiri―ia yang menampukan hal ini pada diri sendiri. Ia datang dengan langkah yang diayunkannya sendiri. Ia yang memencet bel pintu kamar. Ia yang menyapa Kim Moonsoo dengan sebuah senyuman. Sayang, ia harus. Ia harus melakukan hal ini… karena jika tidak, apa yang tidak akan dia dapatkan?
Tapi, di setiap tarikan napas, gadis kita terbayang orang-orang yang akan memandangnya dengan risih jika mereka tahu.
Di setiap tetesan keringat, ia tahu bahwa orang-orang terdekatnya akan kecewa. Tidak hanya membernya―tapi juga Joonho, atau Ilhoon, dan yang lainnya.
Di setiap lenguhan, ia terbayang akan ayah tirinya yang akan berteriak marah dan ibunya yang akan menangis.
Namun, di atas itu semua. Di setiap setiap detik yang dia lewati, ia dapat mendengar suara sang ayah yang tertawa lebar, mengatakan bahwa kamu sampah, nak, kamu sungguh anak tak berguna.
.
04.
Dia baik-baik saja. Kim Moonsoo menggunakan pengaman, dan pil-pil yang diberikan oleh pihak agensi via manajer membantu mencegah jikalau hal tersebut ternyata tidak efektif. Ia tidak berisi. Kegiatannya berlalu seperti biasa, walaupun seluruh manajer tutup mulut mengenai kejadian di malam tersebut (dan yang lain, yang akan terjadi di masa depan), sementara Hyesu-eonni bertanya-tanya mengenai ke mana ia pergi sampai tidak pulang. Minhwa hanya menjawab, oh, itu aktivitas pribadi, namun empat tahun menjadi leader Versailles jelas membuatnya tahu bahwa si maknae sedang berbohong.
Minhwa tetap tutup mulut, toh, sebagaimanapun Hyesu-eonni mencoba mengorek informasi. Tidak ada yang boleh tahu. Itu kontraknya.
Bang Minhwa baik-baik saja. Lingkaran hitam yang membuatnya seperti panda dapat dialihkan sebagai, ah, aku kurang tidur semalam karena jadwal yang padat, alih-alih menyengajakan diri untuk terjaga seperti fakta yang terjadi di lapangan. Baik, menyengajakan tentu saja bukanlah sebuah hal yang tepat―mengingat kenyataannya ia tak dapat tertidur sampai jarum pendek jam menunjuk ke arah enam. Enam pagi, dan secara otomatis tubuhnya akan bangun pada pukul tujuh pagi demi bersiap-siap menjalani hari.
Yang membangunkannya bukanlah sebuah alarm, atau tubuh yang diguncangkan oleh orang lain, namun mimpi buruk. Di sana ia terus berlari, sambil berteriak, sementara sebuah makhluk berwarna hitam mengejarnya sembari tertawa-tawa dan oh, Minhwa, kamu wanita jalang murahan.
.
05.
Ia terbangun dengan teriakan. Ketika ia membuka mata, ia bisa melihat ketiga kakak perempuannya dengan wajah bingung serta manajer yang melihatnya dengan tatapan kasihan. Mereka semua berkerumun di kaki tempat tidur.
Dia tidak butuh tatapan mereka. Tidak butuh, sama sekali.
(Mimpi buruknya memburuk, tapi cukup ia yang tahu.)
.
06.
Yang ia senangi dari semua ini, adalah, jadwal yang memadat. Tidak hanya dirinya, namun juga jadwal Versailles. Ia suka bekerja, suka sekali. Walaupun coordi-eonni memarahinya karena kurang tidur (“Lihat lingkaran hitammu, mengerikan! Juga seluruh jerawat-jerawat ini, Minhwa-ya… lihat baik-baik. Kau harus tidur lebih lama, eoh! Bagaimana aku bisa mendandanimu dengan baik jika kau sendiri tidak merawat penampilanmu!”), bekerja membuatnya lupa sejenak dari apa yang dia pikirkan di dalam kepala. Terjun ke dalam rutinitas menari dan menyanyi itu menyenangkan. Berhadapan dengan mereka yang menyeru namanya juga menyenangkan―karena ini yang ingin ia lakukan.
Hidup di dunia entertainment berarti menghibur orang banyak. Ia menyukainya.
Jika Minhwa yang dulu diberitahu bahwa ia akan senang berhadapan dengan berbagai jenis fans―mulai dari yang malu-malu, sampai yang menangis, sampai yang gembira setengah mati sehingga meloncat-loncat―Minhwa yang lampau pasti akan mengernyit dan mengatakan bahwa kau gila. Tapi, ia menyukainya, sekarang. Fans adalah orang yang membuatnya terus tumbuh dan berkembang. Senyum itu akan terus terlihat, sampai ia turun dari panggung, membersihkan riasan, naik ke mobil yang akan mengantar mereka ke dorm.
Dan hilang saat ia melihat sebuah bingkisan berwarna emas, bertanda, untuk Bang Minhwa, dengan isi barang-barang yang harganya akan membuatmu terkesiap karena banyaknya digit yang tertera pada kolom harga di internet. Mulai dari parfum, tas, perhiasan, hingga pakaian. Semua dari Kim Moonsoo.
Hadiah darinya selalu memiliki pembungkus berwarna emas.
.
07.
Mimpi buruknya menghampirinya terlalu sering. Hampir setiap hari ia diguncangkan oleh salah seorang member, atau manajer, menyadarkannya kembali ke realita. (Minhwa harap mereka tidak melakukannya, karena memiliki rahasia sebesar ini membuatnya sulit bernapas, sulit menikmati hidup, dia berharap ia tidak pernah bangun.)
Tak hanya Hyesu-eonni yang bertanya-tanya, namun seluruh membernya. “Minhwa, apa yang terjadi?” menjadi pertanyaan yang sering didengar, dan setiap mereka bertanya, Minhwa akan menjawabnya dengan tidak apa-apa. Ia tahu bahwa di antara Hyesu, Jieun, dan Ahrin yang memberi tatapan penuh kode antara satu sama lain, menanyakan perilakunya, namun Minhwa selalu berpura-pura bahwa ia tidak menyadari.
Menghindari Joonho, juga merupakan langkah yang ia lakukan. Bertumpuk-tumpuk make-up lama kelamaan tidak akan mampu untuk menutupi penampilannya yang berantakan, dan pemuda itu selalu bisa membaca dirinya. Pun, kemungkinan pemuda itu sudah tahu bagaimana gerak-geriknya yang mencurigakan, mulai dari bisik-bisik membernya sendiri yang menular ke member KNOX (Versailles dan KNOX, walaupun tidak semua, bisa dibilang, cukup dekat).
Hal yang sama, berlaku pada komunitas gereja. Entah sudah berapa minggu ia tidak menjejakkan kaki di sana. Minhwa sendiri merasa bahwa ia tidak pantas untuk berdoa, kau tahu. Terlalu kotor. Apa yang dikerjakannya, kurang lebih, adalah tindakan prostitusi walaupun kelas atas. Apa yang dia dapatkan dari semua ini bernilai lebih dari angka nol yang berjumlah sembilan, jika kau menghitung apa yang ia raih dan pemasukan yang didapat dari agensi. Dan mengasingkan diri dari gereja, membuatnya mengasingkan diri pula dari Bae Ilhoon. Tidak apa-apa, bukan masalah.
Sementara keluarganya? Ia tidak pulang. Mungkin sudah nyaris tiga bulan sejak kepergiannya dari rumah kecil yang hangat itu. Tidak apa-apa. Mereka tidak perlu khawatir.
Ponselnya sering sekali berada dalam keadaan mati, demi mengurangi pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Alasannya mudah, dia sibuk. Manajer yang akan memberitahu apa saja yang perlu dia lakukan, apa saja aktivitasnya selama sehari. Tidak ada yang perlu dihubungi juga, berlainan dengan member-membernya yang lain―ini yang membuat ia yang dipilih, dan bukan mereka, sedari awal.
Mereka tidak perlu tahu. Cukup dia yang menanggung semuanya. Sendirian.
.
08.
Kim Moonsoo is a decent man.
Ketika mereka tidak berurusan dengan kamar tidur.
Seperti sekarang, ketika mereka bertemu kembali di sebuah lounge mahal di ruangan paling privat. Laki-laki paruh baya itu selalu bertanya mengenai harinya, apakah ia memiliki kendala, bagaimana jadwalnya. Bagaimana Versailles. Apakah gaji yang diterimanya mulai merangkak naik. Semua ditanyakan dengan maksud baik, karena, mengutip Kim Moonsoo: “Aku akan membantu sebisa mungkin, Minhwa-ya. Jangan pernah kuatir.”
Minhwa tersenyum, namun kepalanya sudah terlanjur terpatri: Kim Moonsoo adalah laki-laki yang mengerikan.
.
09.
Minhwa mengingatkan dirinya sendiri dengan sebuah petikan yang dahulu, diucapkan oleh orang-orang bijak.
Jika kamu memberikan lebih,
maka kamu akan mendapatkan lebih.
(Bisa dibilang, dia memberikan satu hal terbesar selain kehidupannya. Prinsip.)
.
10.
“Minhwa, apa kamu baik-baik saja?”
“Kenapa, oh, tentu saja!”
.
.
.
“Apa yang kamu ingin lakukan selanjutnya, Hwa-ssi?”
“Aku… ingin melakukan banyak hal. Aku ingin Versailles menjadi nomor satu di chart musik Korea. Setelah menang sekali, dua kali, keinginan itu pasti akan terus ada. Walaupun jalan untuk menempuhnya jelas membuat kami kecapekan dan kehilangan waktu tidur, namun dukungan dari fans selalu membuat kami senang dan berenergi. Kami tidak ingin mengecewakan fans kami, tentu saja! Lalu, aku juga ingin menekuni akting, jika dapat kesempatan, dan publik menyukai aktingku. Drama akan menyenangkan, atau layar lebar… semua peran, semua media, tidak masalah yang mana. Lalu… aku juga ingin solo, jika ada kesempatan. Aku ingin melakukan sesuatu yang ‘benar-benar aku’ dan berbeda dari image Versailles selama ini.” Tertawa. “Aku memang orang yang egois…”
“Pertanyaan terakhir: komentarmu tentang drama ‘Moonlight Walk’ yang akan tayang minggu depan?”
“Ne! Setelah waktu produksi yang cukup lama… aku akan hadir di layar kaca kalian sebagai ‘Woo Yoonri’! Semoga kalian dapat menikmati ‘Moonlight Walk’ dengan baik, dan terus mendukung dan menyayangi kami sampai akhir waktu. Semoga aku tidak mengecewakan kalian dengan aktingku. Moonlight Walk, jjang! Versailles, jjang!”