Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam dan akibat yang baik bagi orang-orang beriman dan tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang zalim. saya bersaksi bahwa tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah dan tidak ada sekutu baginya, Dialah yang Maha Raja, Zat yang benar dan yang menjelaskan. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya penutup para nabi dan pemimpin…
#MonthlyProject - Ketika Semua Sudah Berlalu Bagian 1
“Kenapa melupakan bisa sesulit itu?” Aku bertanya mereka ketika rumah akhirnya sudah sepi. Para pelayat, sudah pulang sejak satu jam yang lalu, Hanya tinggal kami berlima yang sekarang duduk di ruang tamu, dan beberapa saudara yang beristirahat di ruang tengah sambil menonton acara Tv.
Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab. Kami sama-sama lelah dengan kejadian yang datang bertubi-tubi, bagaikan ditabrak gerbong-gerbong kereta laju cepat. Kematian kedua orang tua yang menurut kami sangat tiba-tiba cukup menguras tenaga dan tentu saja membuat kami kesulitan menapak pada realita. Ironisnya, ini merupakan pertemuan kami yang paling lengkap setelah sekian lama tidak bertemu.
“Kita harus istirahat. Sudah 2 hari ini, kurang tidur. Kasihan badan kalian, lusa sudah harus beraktivitas seperti biasa” Putra -Kakak tertua diantara kami- memecah keheningan sambil berdiri dan memberi perintah. Dia tidak berani menatap mataku yang kini sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya. Sampai pada akhirnya mata kami bertemu, dia mengucapkan kalimat tanpa tenaga “Kita bahas besok, aku lelah”. Kami menuruti kata-katanya, dan berpencar pergi ke tempaT kami bisa beristirahat dengan tenang di rumah ini.
Aku memutuskan untuk beristirahat di kamar belakang yang dulu menjadi tempatku dan Putri-Kakak perempuan satu-satunya- tidur bersama ketika SMP dan dia SMA. Bedanya, kamar itu sekarang sangat berdebu. Bahkan ada banyak sarang laba-laba di setiap sudut ruangan. Terpaksa aku mengurungkan niat untuk langsung beristirahat, alih-alih mengambil sampu dan pengki untuk membersihkan debu-debu yang menempel. Setidaknya sampai kamar itu layak ditinggali kembali.
Ketika aku baru sampai seperempat jalan membersihkan debu-debu membandel di sudut-sudut kamar, Iqbal-Kakak laki-laki kedua- masuk sambil membawa 2 kaleng minuman bersoda. Satu kaleng yang dipegangnya sengaja dilempar ke arahku yang cukup sigap untuk menangkapnya. Aku tersenyum sinis sambil memperhatikannya yang sedang berjalan menuju salah satu tempat tidur dan duduk sambil meminum soda miliknya.
“Ini kalo dibuka disini, kegiatan bersih-bersih yang sejak tadi aku lakukan jadi sia-sia” aku menyimpan botol itu di meja belajar dekat tempat tidur yang Iqbal duduki sekarang. Dia hanya tertawa, sekali lagi meminum sodanya. Aku pun melanjutkan apa yang sedang kulakukan tadi, membersihkan debu membandel di sudut-sudut kamar. Sambil memunggungi Iqbal yang hanya memperhatikanku bekerja, kedua tanganku cekatan membersihkan sudut-sudut kamar.
“Ada banyak masalah yang tidak bisa diceritakan, Nan. Bahkan ketika kita pikir solusinya sudah ada di depan mata, tidak pernah ada yang mudah ketika membicarakan tentang trauma dan masa lalu. Sekarang mungkin kita bisa dengan lantang meminta penjelasan dan bersikap biasa saja setelah mendengar kenyataan yang pahit itu. Tapi apa kamu yakin akibat dari setelahnya yang mungkin terasa setelah itu?”. Tanganku berhenti setelah Iqbal selesai mengucapkan kalimat panjang itu. Ia lalu melanjutkan dengan kata-kata yang lebih menyakitkan.
“Kamu bertanya kenapa melupakan sesulit itu, kan? Karena kenyataan menyakitkan itu tinggal di dalam memori kita. Sebagai alat pertahanan diri. Kalau nanti suatu saat kita mengalami hal yang menyakitkan seperti itu lagi, diri kita sudah lebih siap menghadapinya. Menyebalkan memang, tapi itu yang membuat kita bisa bertahan sampai saat ini kan?”
“Bukan hanya kamu yang sakit. Masing-masing dari kita sama-sama membawa trauma dan luka yang terlalu sulit untuk diungkapkan satu sama lain. Selain karena memang sejak dulu kita selalu diajarkan bahwa mengumbar rasa sakit dan masalah adalah sesuatu yang tabu, akhirnya kita semua hanya bisa membicarakannya sendiri-sendiri. Mencari pelarian yang tidak bisa kita temukan di dalam keluarga kita sendiri. Sampai akhirnya itu membuat kita jadi tidak saling mengenal satu sama lain.”
“Tapi apa perlu berbohong selama itu? Aku bahkan tidak bisa marah-marah, tidak bisa menangis, tidak bisa meluapkan apapun. Mereka sudah pergi duluan, meninggalkan kita semua. Membiarkan kita jadi orang bodoh..” Tenggorokanku tercekat di kalimat terakhir. Aku sudah tidak sanggup melanjutkan apa yang ingin aku utarakan. Semakin banyak yang ingin keluar, bukan semakin lega tapi malah lebih banyak duri menancap yang membuatnya semakin terasa sakit.
“Nan....” Iqbal berusaha meraih pundakku untuk menenangkanku yang kini terisak pelan.
“Putra benar, kita sama-sama lelah. Tolong keluar, aku mau istirahat. Benar-benar istirahat” Kataku tanpa menoleh ke arah Iqbal sedikit pun. Suara pintu ditutup terdengar menandakan aku sekarang sendirian di kamar itu. Meski sudah sendiri, tapi aku tidak pernah bisa menangis meraung-raung. Aku masih saja duduk menghadap tembok sambil menangis pelan.
Malam itu, aku tertidur di lantai sambil memeluk kedua lututku dan pipi yang basah oleh air mata.
Jakarta, 8 Februari 2020
sn
Menyelsaikan tulisan ini sambil mendengarkan lagu Davichi - Love Is.... The feeling just so raw...
Oleh : Dr. Ir. Anton Apriyantono
Instansi : Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Bakrie
Sampai saat ini masih banyak yang menanyakan masalah status kehalalan alkohol dan bingung dalam menetapkannya. Hal ini dapat terjadi akibat adanya suatu kekeliruan dalam mendefinisikan secara tepat apa yang dimaksud alkohol dan dalam mengambil suatu analogi antara fakta dengan hukum.
Banyak informasi yang beredar baik di buku maupun internet bahwa alkohol itu statusnya haram. Masalahnya, apa yang dimaksud dengan alkohol disini. Dalam bahasa Inggris kata “alcohol” memiliki dua arti, arti yang pertama adalah minuman beralkohol atau minuman keras, sering disingkat dengan “alcohol” saja. Arti yang kedua “alcohol” adalah etanol, nama suatu bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai pelarut organik. Dari segi ilmu kimia, alkohol artinya adalah golongan senyawa kimia yang memiliki gugus fungsional hidroksi (OH), dengan demikian ada banyak sekali senyawa kimia yang termasuk kedalam golongan alkohol dan etanol adalah salah satunya. Etanol sendiri adalah senyawa kimia yang memiliki rumus molekul C2H5OH.
Sekarang, jika dikatakan alkohol itu haram maka yang dimaksud alkohol disini apa atau yang mana dari beberapa arti alkohol yang dijelaskan diatas? Banyak yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan alkohol dalam hal ini adalah etanol, hal ini didasarkan atas fakta bahwa alkohol bersifat memabukkan dan kandungan minuman keras yang terbesar adalah etanol (selain air). Benarkah demikian? Mari kita kaji!
Yang pertama-tama harus diketahui adalah bahwa toksisitas (sifat racun) suatu senyawa kimia utamanya tergantung kepada jumlahnya. Sifat ini bervariasi antara satu bahan kimia dengan bahan kimia yang lain, ada yang dalam jumlah kecil saja dapat menyebabkan keracunan bahkan kematian, ada yang baru menimbulkan efek racun pada jumlah yang terkonsumsi yang relatif tinggi. Etanol memang bersifat narkosis (memabukkan), akan tetapi tentu saja tergantung pada berapa banyak yang dikonsumsi, jika hanya dikonsumsi sedikit saja, misal hanya 0.01 ml maka kemungkinan besar tidak menimbulkan efek apa-apa. Di sisi lain, banyak komponen-komponen yang ada didalam minuman keras sebetulnya memiliki sifat memabukkan bahkan lebih toksik (beracun) dibandingkan dengan etanol. Sebagai contoh, metanol, propanol, isobutilalkohol dan asetaldehida terdapat didalam red wine dan senyawa-senyawa kimia tersebut bersifat memabukkan. Oleh karena itu, sifat memabukkannya suatu minuman keras bukan semata-mata disebabkan oleh etanol saja, akan tetapi merupakan pengaruh dari semua senyawa kimia yang ada didalam suatu minuman keras. Sehingga, tidak tepat jika yang diharamkan itu etanol, karena jika etanol haram mengapa senyawa senyawa kimia yang lain yang juga bersifat memabukkan seperti sudah disebutkan diatas tidak diharamkan? Logikanya, jika etanol haram maka semua senyawa kimia yang bersifat memabukkan juga haram.
Jika kita perhatikan ayat-ayat Al Qur’an dan hadis-hadis yang berkenaan dengan khamr maka sebetulnya yang dimaksudkan dengan khamr adalah segala sesuatu yang memabukkan, dalam banyak contoh adalah minuman yang memabukkan. Alkohol, pada zaman Rasulullah bahkan belum dikenal. Jika kita perhatikan lebih lanjut hukum halal haram ini berlaku bagi sesuatu yang dikonsumsi, sesuatu yang diminum atau dimakan atau dimasukkan kedalam tubuh, sedangkan terhadap sesuatu yang tidak dikonsumsi maka tidak dikenai hukum. Sekarang mari kita lihat senyawa senyawa kimia secara keseluruhan, apakah layak dikenai hukum halal haram, padahal kebanyakan dari senyawa senyawa kimia ini tidak dikonsumsi. Ambil contoh yang sering dikenai hukum haram selama ini yaitu etanol. Pada kenyataannya etanol sebagai senyawa murni (etanol absolut) tidak pernah ada yang meminumnya karena dapat mengakibatkan kematian, demikian halnya dengan senyawa senyawa kimia lain. Sehingga, seharusnya senyawa senyawa kimia murni ini tidak dikenai hukum halal haram karena bukan sesuatu yang dikonsumsi.
Apabila etanol dianggap sama dengan khamr dan haram hukumnya maka dampaknya akan luas sekali dan akan menjadi kontradiksi dengan hukum kehalalan bahan pangan lain. Telah diketahui bahwa banyak bahan pangan mengandung etanol, baik terdapat secara alami (sudah ada didalam bahan pangan sejak dipanen dari pohon) seperti buah-buahan, atau terbentuk selama pengolahan seperti kecap, cuka dan roti. Akan tetapi, buah-buahan jelas halalnya. Kecap dan roti tidak menyebabkan mabuk. Cuka sepanjang tidak dibuat dari khamr maka hukumnya halal. Bukankah menjadi bertentangan jika etanol hukumnya haram? Mengapa walaupun etanol terdapat didalam buah-buahan, akan tetapi buah-buahan tersebut halal? Dengan demikian maka yang keliru adalah penetapan hukum terhadap etanol itulah kelihatannya. Roti dan cuka halal, dalam hadis dijelaskan bahwa Rasulullah saw juga makan roti dan cuka, padahal cuka dan roti mengandung etanol. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa penetapan haram terhadap etanol itu keliru. Jika sesuatu sudah ditetapkan sebagai khamr maka banyak atau sedikit tetap haram, jadi alasan bahwa buah-buahan hanya mengandung sedikit etanol sehingga halal menjadi tidak tepat jika status etanolnya haram. Alasan bahwa etanol yang ada di buah-buahan alami sehingga halal itu juga tidak tepat jika etanol dipersamakan dengan hukum khamr karena kehalalan bukan didasarkan pada alami atau bukan, jika bahan tersebut adalah sesuatu yang dikonsumsi dan bersifat memabukkan maka statusnya haram apakah bahan tersebut alami atau buatan sama saja hukumnya.
Jika etanol haram maka etanol tidak boleh digunakan sama sekali karena begitulah hukum yang berlaku yang berkenaan dengan khamr dimana khamr tidak boleh dimanfaatkan sama sekali, tidak boleh juga dijual kepada Yahudi sekalipun, khamr harus dibuang. Sebagai contoh, etanol tidak boleh digunakan sebagai bahan untuk desinfektasi alat-alat kedokteran, tidak boleh digunakan dalam parfum, tidak boleh digunakan sebagai bahan untuk sanitasi alat-alat pengolahan pangan, sebagai pelarut, bahkan harus enyah dari laboratorium laboratorium.
Apabila etanol diharamkan maka hal ini bukan hanya bertentangan dengan hal-hal yang sudah disebutkan diatas, juga bertentangan juga dengan penjelasan Rasulullah saw tentang jus buah-buahan dan pemeramannya seperti tercantum dalam hadis-hadis berikut ini (hadis-hadis ini tercantum dalam kitab Fiqih Sunnah tulisan Sayid Sabiq):
1. Minumlah itu (jus) selagi ia belum keras. Sahabat-sahabat bertanya: Berapa lama ia menjadi keras? Ia menjadi keras dalam tiga hari, jawab Nabi. (Hadis Ahmad diriwayatkan dari Abdullah bin Umar).
2. Bahwa Ibnu Abbas pernah membuat jus untuk Nabi saw. Nabi meminumnya pada hari itu, besok dan lusanya hingga sore hari ketiga. Setelah itu Nabi menyuruh khadam menumpahkan dan memusnahkannya. (Hadis Muslim berasal dari Abdullah bin Abas).
Karena buah-buahan secara alami mengandung etanol maka jus buah-buahan pun mengandung etanol. Jika jus ini diperam atau dibiarkan pada suhu kamar dan pada kondisi terbuka maka kadar etanolnya akan meningkat karena akan mengalami fermentasi alkohol spontan yaitu dengan tumbuhnya khamir (yeast) pada jus yang akan mengubah gula menjadi etanol dan senyawa-senyawa lain. Akan tetapi, kadar alkohol jus sampai pada pemeraman hari kedua belum sampai pada taraf yang dapat memabukkan, baru setelah diperam selama 3 hari jus tersebut telah bersifat memabukkan atau tidak layak diminum karena telah mengalami kerusakan. Hadis ini menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa etanol haram keliru karena pada kasus pemeraman jus etanol kadarnya bahkan meningkat sampai batas tertentu, akan tetapi Rasulullah mengatakan jus yang disimpan sampai 2 hari masih boleh diminum, setelah diperam 3 hari barulah ia telah berubah menjadi khamr dan tidak boleh diminum lagi. Hadis ini juga menunjukkan bahwa peubahan sifat jus menjadi memabukkan itu ada waktunya, jika hal ini dikaitkan dengan kandungan etanol dalam jus maka berarti ada batas tertentu dimana kadar etanol dalam jus diperbolehkan dan ada batas dimana diatas batas itu jus sudah tidak diperbolehkan diminum lagi.
Majelis Ulama Indonesia telah lama mengkaji masalah alkohol (etanol) ini. Pada tahun 1993 MUI mengadakan muzakarah Nasional tentang alkohol dalam minuman dengan mempertemukan para ulama dan ilmuwan untuk membahas status kehalalan alkohol. Pada saat itu telah disepakati bahwa yang diharamkan adalah minuman beralkohol atau minuman keras, bukan alkohol (etanol)nya itu sendiri. Akan tetapi, apabila sesuatu sudah masuk kedalam kategori minuman beralkohol (ada definisinya) maka berapapun kadar alkoholnya (etanolnya) tetap saja haram. Setelah muzakarah, ternyata diantara para ulama dan ilmuwan masih terdapat perbedaan pendapat, apakah hanya minuman beralkohol yang haram atau alkohol (etanol) juga haram. Oleh karena itu, MUI terus melakukan kajian sehingga pada bulan Agustus 2001, komisi fatwa MUI mampu memutuskan bahwa minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol (etanol) minimal satu persen. Dengan adanya hasil ijtihad ini maka semakin kuatlah pendapat bahwa yang diharamkan itu bukan karena keberadaan etanol (alkohol) dalam bahan pangan semata, akan tetapi lebih kepada berapa kadarnya. Adanya batas 1% ini akan sangat memudahkan dalam penetapan status kehalalan minuman. Minuman yang mengandung alkohol (etanol) sebanyak 1% atau lebih maka masuk kedalam minuman keras dan masuk kedalam golongan khamr. Akan tetapi, minuman yang mengandung alkohol (etanol) dibawah 1% tidak otomatis halal karena untuk menetapkannya harus dilihat bahan-bahan yang digunakan dan cara pembuatannya. Sebagai contoh, minuman Shandy mengandung etanol kurang dari 1%, akan tetapi minuman ini terbuat dari bir dimana bir masuk kedalam kategori minuman keras sehingga masuk kedalam golongan khamr. Dengan demikian, minuman Shandy yang dibuat dari bir jelas haram karena terbuat dari khamr yang diencerkan, sesuai dengan kaidah “jika banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram”.
Alhamdulillah pada akhirnya MUI pada tahun 2009 telah mengeluarkan fatwa mengenai fatwa tentang hukum alkohol melalui fatwa MUI No. 11 tahun 2009, yang keputusannya disalinkan dibawah ini.
Ketentuan Umum :
Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan :
1. Khamr adalah setiap minuman yang memabukkan, baik dari anggur atau lainnya, baik dimasak ataupun tidak.
2. Alkohol adalah istilah yang umum untuk senyawa organic apapun yang memiliki gugus fungsional yang disebut gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon. Rumus umum senyawa alcohol tersebut adalah R-OH atau Ar-OH dimana R adalah gugus alkil dan Ar adalah aril.
3. Minuman beralkohol adalah: a). minuman yang mengandung etanol dan senyawa lain diantaranya methanol, asetaldehida, dan etil asetat yang dibuat secara fermentasi dengan rekayasa dari berbagai jenis bahan baku nabati yang mengandung karbohidrat; atau b) minuman yang mengandung etanol dan/methanol yang ditambahkan secara sengaja.
Ketentuan Hukum:
1. Meminum minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum hukumnya haram.
2. Khamr sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum adalah najis.
3. Alkohol sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum yang berasal dari khamr adalah najis. Sedangkan alcohol yang tidak berasal dari khamr adalah tidak najis.
4. Minuman beralkohol adalah najis jika alcohol/etanolnya berasal dari khamr, dan minuman beralkohol adalah tidak najis jika alcohol/etanolnya berasal dari bukan khamr.
5. Penggunaan alcohol/etanol hasil industry khamr untuk produk makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan, hukumnya haram.
6. Penggunaan alcohol/etanol hasil industry non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi (dari petrokimia) ataupun hasil industry fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika dan obat-obatan, hukumnya: mubah apabila secara medis tidak membahayakan.
7. Penggunaan alcohol/etanol hasil industry non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi (dari petrokimia) ataupun hasil industry fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika dan obat-obatan, hukumnya : haram apabila secara medis membahayakan.
Sumber : Postingan kawan di grup WhatsApp & sedikit rangkuman halal haram di ITB-Salman, Kamis, 17 Desember 2015.
Semoga bermanfaat dan ada hikmahnya terutama mengenai status kehalalan alkohol pada berbagai produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika, dan sebagainya serta lebih selektif dan waspada dalam menentukan hukum kehalalan atau keharamannya khususnya dalam hal memilih dan mengonsumsinya. :)
Pasti kalian anak-anak era 90an familiar dengan lagu ini. Siapa sih yang nggak tau lagu Chibi Maruko-chan? Norak ih kalau enggak tau.
Tapi di sini saya nggak ingin membahas tentang Maruko, tentang ibunya yang salah potong poni Maruko, atau tentang kakeknya Maruko yang sudah uzur. Entah kenapa akhir-akhir ini lagu ini terngiang-ngiang di kepala saya.
Bagi saya, lirik lagu ini punya arti yang nggak dangkal (walau ada yang bilang saya rada dangkal dan dengkul, tapi ya sudahlah). Coba, “seorang anak yang menemukan harta karun di dalam sana… alangkah senang dan hati gembira.”
Siapa juga yang nggak seneng nemu harta karun? Waktu kecil salah satu impian saya adalah menjadi pelaut (tentu saja karena efek samping kebanyakan nyanyi lagu nenek moyangku seorang pelaut), atau setidaknya menjadi penjelajah. Rasanya pasti mendebarkan bisa bertualang ke berbagai tempat, mendapatkan harta karun, dan bisa membeli es krim sebanyak-banyaknya. Harta karun, kala itu, menjadi hal sakral yang sangat ingin saya temukan dan saya manfaatkan (kalau ketemu).
Menginjak usia sekolah, bagi saya harta karun tidak menarik lagi, menjadi penjelajah yang bertualang ke berbagai belahan dunia tak membangkitkan minat lagi. Mengapa? Karena orang-orang di sekitar saya mulai memengaruhi iman dan pikiran saya dengan cita-cita “menjadi dokter”. Tentu saja, hidup sebagai orang kampung membuat saya silau akan manusia berjas putih ini (begitu juga dengan keluarga saya). Jadilah sejak saat itu saya didoktrin untuk “kalau besar jadi dokter”.
Rasanya puas sekali tiap ditanya guru di sekolah, “apa cita-citamu?”, jawab saya dengan lantang nan bangga, “jadi dokter, pak guruuuu!”
Saya lupa akan harta karun.
Saat saya di bangku SMP, cita-cita menjadi dokter sedikit terlupakan. Saat itu saya kepingin jadi wartawan.
Keren aja gitu bawa-bawa notes kemana-mana, mewawancarai orang, menulis berita, bisa masuk tv atau nama saya tercantum di koran. Tapi ada orang yang bilang, kalau mau jadi wartawan, nggak usah sekolah tinggi-tinggi. Jahat betul orang itu, dalam sekejap menghancurkan impian saya yang saat itu ingin sekolah tinggi dan jadi wartawan. (Padahal banyak wartawan handal yang punya pendidikan tinggi, sayang sekali saya telat menyadari hal ini).
Cita-cita saya bergeser… ingin jadi artis.
Oke lah, jadi artis terlalu berlebihan, apalagi dengan badan kerempeng dan muka pas-pasan kayak saya, paling paling saya jadi pengisi acara Lenong Bocah (jadi tokoh yang disia-sia dan duduk di pojokan). Walau kalaupun saya jadi artis nggak akan bisa setenar dan secantik Desi Ratnasari, tetep saja saya ingin jadi artis. Saya sesungguhnya ingin jadi seniman, seniman teater kalau bisa, soalnya di SMP itu pertama kalinya saya menemukan bakat saya di dunia panggung. Saya menikmatinya. Sangat.
Saya menyimpan cita-cita ini sampai saya SMA, saat saya rajin-rajinnya ikut kegiatan teater.
Naik ke kelas tiga SMA, cita-cita untuk jadi seniman rasanya tak lagi menarik. Ya gimana mau menarik, saya dikelilingi orang-orang yang punya mimpi setinggi langit—sementara bagi kebanyakan orang mimpi saya cuma setinggi langit-langit kamar. Maka jiwa saya yang labil dan mudah goyah ini pun terbawa arus… ikut-ikutan mencoba peruntungan untuk masuk FK.
Alhamdulillah, saya nggak keterima FK.
Ini anugerah yang saya syukuri sampai sekarang—bahwa saya tidak menjadi dokter. Bagi saya dokter itu profesi yang luar biasa, yang menuntut ketekunan, kerja keras, dan keikhlasan (maksudnya keikhlasan begadang buat belajar), dan tentu saja dokter itu profesi yang mulia. Sayangnya, saya menilai diri saya ini tidak cocok jadi dokter—bukannya nyembuhin pasien bisa-bisa saya becandain mereka.
Saya pun masuk di jurusan biologi di sebuah institut di kota Bandung. Masuk dan kuliah di SITH, walaupun bukan cita-cita saya yang utama, menurut saya adalah hal terbaik yang bisa saya dapatkan (melihat kemampuan saya yang rata-rata dan cuman so so ini). Di sini saya mendapatkan banyak pelajaran dan sahabat—orang-orang yang saya yakini sangat berpengaruh dalam kehidupan saya.
Empat tahun di itb rasanya saya belajar tentang kehidupan lebih banyak daripada selama delapan belas tahun sebelumnya.
Lulus kuliah, nganggur setengah tahun—goler-goler di kasur, tiap hari nonton koreaan, kemudian dapet kerja.
Yang biasanya setengah hari saya habiskan untuk tidur (seperempatnya untuk goler-goler sambil baca fanfics dan streaming korea, dan seperempatnya untuk makan, urusan kamar mandi, serta ngupil) kini harus berubah. Setengah hari untuk bekerja (sumpah jam kerja saya dari jam 8 pagi, kadang bisa sampai jam 8 malem), seperempatnya untuk tidur, dan seperempatnya untuk ngerjain report atau kalau beruntung, streaming koreaan.
Saya yang biasanya nggak peduli urusan dandan, kalau kuliah pake sandal dan kaosan, sekarang harus dandan cantik, pake baju cantik, pake sepatu cantik berhak minimal 5 cm (untuk menunjang tubuh saya yang pendek ini), dan memakai contact-lens. Iyah, pake contact lens, soalnya penglihatan saya burem kalau enggak pakai kacamata, sementara kalau pake kacamata, rasanya kok saya makin jelek ya. Maka saya relakan setiap pagi dan sore saya nyolok-nyolok mata buat masang dan ngelepas contact lens.
Suatu hari saya bertanya pada diri sendiri, “jadi saya ini lagi ngapain sih?”
Saya nggak paham saya ini lagi ngapain.
Apa pekerjaan ini adalah impian saya?
Kenapa saya malah jadi juragan nenen (istilahnya Hani, seorang teman saya yang luar biasa kreatif, terima kasih Han!), padahal dulu saya ingin jadi petualang?
Sejak kapan harta karun yang ingin saya temukan berubah menjadi pundi-pundi rupiah?
Sejak kapan impian tidur nyenyak-makan enak-hidup senang, bergeser jadi kerja pagi-pulang malam-dikejar deadline-dandan cantik?
Kehidupan saya berjalan tak selambat yang saya bayangkan.
Saya bukannya tidak bersyukur, bukan, saya bersyukur sekali malah, banyak orang seusia saya yang tidak seberuntung saya (walau banyak juga yang lebih beruntung dari saya sih), tapi kadang saya mempertanyakan hal ini:
Apakah hal yang saya lakukan adalah hal yang benar-benar ingin saya lakukan?
Friska Navisa Ratri. Enam bulan lagi berusia 24 tahun. Hilang arah.
Rasanya kayak ngapung di lautan luas yang nggak kelihatan daratan, kayak sedang naik perahu tapi nggak tau harus mendayung ke arah mana.
Kalau ditanya apa hal yang paling saya inginkan, saya belum bisa menjawabnya. Sumpah, saya sendiri nggak tahu lagi apa hal utama yang ingin saya lakukan—terkait karir. Saya bingung, pada fase ini, ketika ditanya apa pekerjaan yang ingin saya lakukan di kehidupan ini.
Jujur saya merasa sangat iri pada teman-teman saya yang mulai menemukan apa keinginan mereka. Ada yang mau S2, ada yang start up bisnis, ada yang berusaha masuk perusahaan idaman mereka, setidaknya mereka punya tujuan yang jelas. Mereka punya passion, mereka menyadari apa passion mereka dan berusaha memperjuangkannya.
Lah saya, karena belum nemu apa passion saya, sementara ini kayaknya tujuan semu saya adalah menumpuk harta.
Iya, tujuan yang lumayan absurd.
Tapi mau bagaimana lagi, di saat saya nggak tau apa hal pasti yang ingin saya lakukan, jawaban ‘menumpuk harta dan menggunakannya untuk kebahagiaan semu’ adalah jawaban terpintar yang bisa saya pikirkan.
Sayangnya, hidup ini terlalu berharga untuk hanya sekadar diisi tujuan semu semata. Apaan coba, menumpuk harta? Apakah dengan menumpuk harta saya bisa membeli kebahagiaan saya yang sesungguhnya? Apakah dengan menumpuk harta saya bisa membuat diri saya bergairah, hidup dengan energi meluap-luap, dan selalu penuh semangat menyongsong hari esok?
Saya belum tahu jawabannya.
Saya belum tahu karena saya belum menemukan passion saya. Kalau sudah saya temukan, mungkin saya bisa mencoba untuk hidup berdampingan dengan passion saya, berusaha menjalaninya, dan merasa benar-benar ‘hidup’.
Live my life to the fullest. (bener gak ya? err…)
Mungkin saat ini saya adalah seorang penjelajah (ecieee), yang berusaha mencari kotak harta karun berinisial Mr. P (bukan Mr. Pen—yah, pokoknya bukan itu, tapi Mr. Passion). Semoga saya diberi umur untuk berhasil menemukannya dan menjadikannya jangkar kehidupan saya (halah).
Iya, biar nggak hilang arah.
Sekian.
Jangan nantikan kisah petualangan saya, karena ini cukup membosankan.
Gilongprakoso.net – Seo untuk Image memiliki perbedaan tersendiri dengan Seo untuk Artikel. apakah Seo untuk image di perlukan untuk sebuah website/blog ? ini di perlukan apabila website/blog anda menginkankan beberapa hal berikut
website/blog anda adalah yang menjual barang, misal : baju, pernak pernik, dan sebagainya.
website/blog anda ingin di mendapat visitor lebih dari gambar yang anda…
Sumpah, itu benar-benar namaku. Majikanku sendiri yang memberikannya padaku di hari ketika ia membeliku. Di toko payung lantai empat sebuah mall. Kira-kira beginilah percakapan antara majikanku dengan mbak-mbak penjualku (dan teman-temanku) di sana.
Majikan: "Mbak, yang ini harganya berapa, Mbak?"
Mbak Penjual: "Itu dua puluh lima ribu, Mbak."
M: "Coba ya Mbak, saya buka dulu."
MP: "Boleh."
M: "Waahh, lucu sih tapi kecil yah, cuman muat satu manusia doang."
MP: "Iya Mbak, namanya juga payung egois, yaa buat diri sendiri."
Dan begitulah, terinspirasi dari ucapan Mbak Penjual Payung itu, majikanku akhirnya memberiku nama Ego. Nama itu tertulis dengan tinta merah di ujung tubuhku, bersanding dengan namanya sebagai pemilikku. Aku akan memanggilnya Bulan, majikanku itu. Karena sebetulnya ia tak terlalu suka dengan namanya sekarang. Katanya kurang puitis. Ah, sok sekali dia. Tahu apa dia soal puitis? Aku saja dinamainya Ego, kata yang jauh dari pengaruh konotasi. Tapi bukan berarti aku tak suka nama Ego. Nama itu terdengar lucu dan nyaman di telinga (di telinga manusia maksudnya, bukan di telingaku karena aku tak punya telinga). Dan lagi, nama itu mudah sekali diingat. Majikanku itu, Bulan, amit-amit pelupanya. Karena itu, kalau aku tak terlihat dalam jarak pandangnya, ia akan berseru kalap.
"Mana Ego? Mana Ego? Egoku mana?!"
Ia pernah bercerita bahwa sebelumnya, ada beberapa pendahuluku yang telah mangkat. Yang paling ia sayang bernama Krisan, yang warnanya sama seperti warna tubuhku namun bertotol-totol ungu-jambon. Krisan hilang diculik orang ketika Bulan secara tak sengaja meninggalkannya di kampus. Lalu setelah Krisan, ada Taro. Umur Taro hanya seminggu, karena Bulan lupa meninggalkannya di bis. Lalu yang baru saja pergi adalah Coklat, yang ia temukan tergeletak di himpunan, lalu kemudian tertinggal juga di mobil salah seorang teman Bulan. Hahh, majikanku punya ingatan yang payah. Semoga ia tak meninggalkanku di sembarang tempat, dan kalaupun ia nantinya lupa dan meninggalkanku (kemungkinannya besar sekali) dan aku dipungut oleh orang lain, aku berharap orang yang memungutku juga sebaik Bulan.
Ah, Bulan, aku senang sekali ada majikan yang mencintaiku dengan sepenuh hati. Yah, walaupun aku tahu cintanya itu sebatas pada nilai gunaku sebagai pelindungnya akan hujan dan sinar matahari.
Beberapa hari ini aku menyadari bahwa ternyata cinta kasih Bulan padaku begitu tulus. Memang sih baru empat atau lima hari aku bersamanya, tapi ia memperlakukanku dengan sangat baik. Ia membukaku dengan hati-hati, dan menggunakanku dengan hati-hati pula, terlepas dari kecerobohannya yang membuatku terbaret sepanjang tembok kosannya, tak apalah, aku rela. Ia akan membuka tubuhku kalau aku masih basah terkena air hujan dan menungguku kering, baru menutupku. Ia menyimpanku di tempat yang nyaman, tergantung di teralis jendela di dalam kamarnya, di sebelah bunga kering berwarna coklat-kuning.
Bulan juga menganggapku sebagai benda yang punya perasaan, karena ia selalu mengajakku mengobrol. Ia tahu aku kesepian dan aku juga tahu ia kadang kesepian. Kami mengobrol ketika tak ada orang di samping kami, atau ketika aku dan dia berjalan berdua saja, ia akan berbicara dengan nada pelan dan ramah. Pembicaraannya kadang melantur kemana-mana, karena ia menceritakan apapun padaku, mulai dari kecengannya (kalian tahu apa arti kecengan? aku tak begitu mengerti sih, mungkin artinya tak jauh beda dengan kata celengan), teman-temannya, hingga racauannya tentang imajinasinya yang liar itu, yang terbang hingga ke negeri antah-berantah. Favoritku adalah kalau ia mulai bercerita tentang orang-orang yang ada di kepalanya. Aku tahu mereka tak ada dalam dunia nyata, mereka hanya tokoh yang dibentuk oleh Bulan, digerakkan oleh alam pikiran Bulan, dan dituntaskan oleh Bulan sendiri. Bulan pernah berkata bahwa ia ingin sekali membuat sebuah buku, sebuah buku yang bercerita tentang orang-orang yang ada di kepalanya.
Semoga aku masih bersamanya ketika buku itu selesai ditulisnya.
Mungkin kalian mengira Bulan itu pendiam dan tak banyak omong. Yah, ia memang pendiam dan tak banyak omong sih kalau tidur, tapi kalau bersama orang lain mulutnya seperti tak bisa dikunci lama. Nyerocos terus. Bulan suka sekali mengobrol dengan orang, ia juga suka bercanda, dan bercerita, walau omongannya tak semuanya bermutu sih menurutku. Hanya kalau sedang sendiri atau bersamaku atau sedang berjalan, ia sering sekali melamun dan pikirannya terbang kemana-mana, lalu ia berbicara tentang banyak hal acak.
Kataku padanya:
"Kau jangan sering ngoceh sendiri di jalan, nanti orang mengira kau gila."
Dan Bulan menjawab:
"Loh, ya biarlah mereka menganggapku apa, kan itu kepala milik mereka, isinya berarti milik mereka, aku juga berhak menganggap mereka cabul. Tak ada masalah."
Ya sudah. Aku mengalah.
Lama-kelamaan aku mengerti sedikit-banyak tentang majikanku itu.
Sehat? Aku rindu, hahahha. So silly, I feel so silly right now. Tapi apa mau dikata, aku hanya bisa berkomunikasi denganmu melalui jari-jariku yang bergerak diatas tombol-tombol mungil ini.
Tau gak kamu? Semakin hari, nampaknya medan magnet yang kamu lepaskan semakin kuat ya. Nyatanya saja, bukan hanya aku, tapi semakin banyak orang-orang yang tertarik, dan mereka menuju ke arahmu. Disaat aku sedang terperangkap dalam kurungan yang mengharuskanku untuk tinggal, mereka berbondong-bondong atau satu per satu bergerak mendekatimu.
Iri sekali rasanya, namun aku bisa apa? Aku hanya bisa berdoa untukmu. Memanjatkan doa terbaikku untukmu, dan juga keluargaku. Jangan geer kamu. :p
Keliatannya, kamu menghitam ya? Rambutmu juga sudah panjang. Tumben. Sudah pagi, cukup untuk hari ini sepertinya. Daritadi aku sedang dimudahkan dalam menulis, dan terakhir aku tulis surat ini untukmu. Hati-hati ya disana. Aku sih maunya kamu menjaga hati untuk aku, tapi itu kan hanya mauku. :)))