Aku baik-baik saja saat tak mengenalmu dulu. Sekarang mari tak saling mengenal lagi, agar aku baik-baik saja.
- R
seen from Sweden
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United States
seen from Yemen

seen from United States

seen from United States
seen from Poland

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Italy

seen from United States

seen from United States

seen from Czechia

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
Aku baik-baik saja saat tak mengenalmu dulu. Sekarang mari tak saling mengenal lagi, agar aku baik-baik saja.
- R
Manchester City Tak Baik-Baik Saja - detikSport
Manchester City Tak Baik-Baik Saja – detikSport
Jakarta–Manchester CitydipermalukanWolverhampton Wanderersdi kandang sendiri pada pekan kedelapan. Juara dua musim terakhir ini dirasa sedang tak baik-baik saja.
City takluk 0-2 saat menjamu Wolves di Etihad Stadium, Minggu (6/10/2019) malam WIB. Kendati mendominasi penguasaan bola hingga 76%, pada akhirnya City hanya mencatatkan dua peluang on purpose plus satu percobaan membentur…
View On WordPress
Aku Baik-baik di Bumi
Hi alien. Bagaimana kabarmu sekarang?
Sudah menyerah tinggal di Bumi?
Venus lebih nyaman buatmu kan ?
Oiya tiga minggu setelah kamu menghilang, rasanya menyakitkan
Disini di Bumi aku baik-baik, semoga kamu di Venus juga
Minggu pertama rasanya seperti ada yang hilang
Minggu kedua mulai terasa sakit
Ini minggu ketiga, aku tidak tahu akan menjadi seperti apa rasanya
Sulit tidur, harus kukatakan tapi begitulah hidup bukan?
Hi Alien dari Venus, semoga kamu disana baik-baik
Planet Bumi, 30 Juli 2019
Teruntuk kau, Semoga mengerti.
Hadirmu, bagai angin lembut mengeringkan luka dengan teramat hati-hati menaruh bingkai dalam diam, menaruh bunga cantik tak tahu siapa.
Hadirmu, juga bagai pelangi cantik nan indah , bak di manja ikatan dalam buih-buih cinta. Sayang, pelangi datang sesaat lalu pergi kembali.
Hadirmu, seolah bidadara tak berwajah. Kau dipeluk erat oleh cahaya keabadian, cahaya cinta yang menghangatkan. Tapi terlalu cepat untuk dirasa.
Sayang, aku sungguh berbahagia. Kau datang singgah padaku hanya untuk penyembuh derita. Setelah lukaku mulai reda, yang aku takutkan kau malah pergi tak lagi khawatir. Padahal, luka semakin jauh lebih reda. Tapi, kau malah tak sengaja menggoresnya sedikit dengan kepergian.
Sayang, perihal isi hatiku. Memang, dulu aku terliput amarah akan sadisnya perlakuan ia. Sehingga kututup hatiku untukmu, padahal kau memang tulus atau sekedar bercanda bersamaku.
Jadi, ku pertegas kembali bersama argumen tak berjiwa. Pikirkan baik-baik untuk mencintaiku sedalam-dalamnya. Sebab, jika kau menariknya, maka hatiku mati tak berasa.
-Putririvi
Sebut perkara baik-baik selalu. Sebab kita risau juga benda tak elok kita duk ulang jadi perkara makbul yang tak diundang. Hati-hati, awak.
Selamat 25 tahun
“Selamat 25 tahun, Mas.”
“Makasih, tapi ini siapa, ya?”
Pertanyaan tak asing yang selalu kau utarakan setiap 10 Januari selama 6 tahun terakhir. Aku tidak mengingatmu seterlalu itu kan, Mas?
Sepertinya aku tidak terlambat mengirimkan salam. Aku hanya sekedar menunjukkan aku masih ada, meski dengan rasa yang tidak lagi sama.
“Mas baik-baik?”
Hai Mas, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk menanyakan kabarmu. Yah setidaknya aku dapat mengetahui kabarmu setahun sekali.
“Aku baik-baik.”
Senang membaca kamu baik-baik. Semoga selalu baik-baik ya, Mas. Semoga Mas selalu mendapatkan yang terbaik menurut Allah sekaligus yang terbaik untuk Mas. Tetapi bukankah yang terbaik menurut Allah pasti terbaik untuk hambaNya? Oke aku revisi, Mas berdoa apa? Aku mengaamiinkan segala doamu, Mas. Dengan syarat apa yang kamu doakan baik-baik.
“Kamu kok masih ingat saja, dek?”
Kata Kica, lupa itu wajar, melupakan itu jahat. Aku terlanjur teringat, Mas. Tanpa pengingat dari Colornoteku maupun halaman Facebookku. Aku menyadarinya tepat setelah ingat hari ini tanggal 10. Aku masih ingat Mas. Mungkin akan selalu.
“Aku teringat, Mas. Hehe.”
“You’re the one lhoh dek.”
Se-the one-kah aku, Mas? Percayalah, masih ada yang memperhatikanmu–mengingatmu dalam hari-harinya. Bukan, Mas, bukan aku. Aku tidak akan menggombal bahwa aku mengingatmu setiap waktu. Tetapi setiap aku teringat(–kata kerja yang berawalan ter- hampir selalu berarti sebuah ketidaksengajaan) dirimu, aku selalu berdoa baik-baik. Yah maaf, aku tidak jadi mendoakanmu diam-diam.
Tidak, Mas. Tidak ada harapan yang meninggi, pun perasaan yang berbunga-bunga dengan the one yang barusan kau utarakan, karena seperti pada bagian awal, aku tidak mengucapkan dengan perasaan yang sama. Kau ingat tidak, kau sendiri yang menyiramkan air pada api perasaanku beberapa tahun silam? Itu berhasil, Mas. Mati. Begitu saja. Dan tidak ada yang berusaha memantiknya lagi. Aku juga tidak berkata pernah ada kisah yang kita rangkai, hanya aku yang merajutnya sendiri.
Terakhir, selamat 25 tahun, Mas. Aku tunggu undanganmu(– yang mungkin bukan dengan namaku).
Solo, 01102016 yang pernah jatuh diam-diam padamu, -af
Merasa Baik-Baik Saja
Merasa baik-baik saja terkadang juga baik.Bukan maksud saya mengabaikan masalah atau sakit yang ada.Dan bukan pula melarikan diri dari permasalahan yang sedang melibatkan diri ini dan merasa tidak harus ikut terlibat.Bukan kesana maksud saya. Hanya merasa diri baik-baik saja, sejenak dan selalu bersyukur atas kondisi diri hari ini. Merasa baik-baik saja,entahlah apalah memang baik atau statusnya berusaha baik.Tapi setidaknya tidak mengeluh atas kondisi yang terjadi atau tidak melulu merasa kurang dan tidak baik setelah melihat yang lain yang seakan lebih baik.Hahaha,boleh jadi mereka yang kita lihat lagi berusaha merasa baik-baik saja sehingga mereka terlihat lebih baik.Ahhh,maaf kalau mbulet. Merasa baik-baik saja,ya memang kita semuanya kondisinya baik dan tenang. Hidup di belahan bumi Allah,di atas tanah Indonesia.Tak setegang di belahan bumi Allah yang lain,tak semenenakutkan terombang-ambing di atas lautan lepas. Diri ini masih baik-baik saja. Kita harus bersyukur atas nafas kita hari ini yang kita bayar cuma-cuma.Coba sekali-kali mengunjungi rumah sakit,dimana setiap tarikan nafas begitu berharga,tak cuma berharga tapi mahal banget harganya. Tubuh ini yang begitu sempurna,baik dari luar atau yang di dalamnya. Allah sudah menyiptakannya begitu lengkap,saat satu saja fungsinya terganggu,sakit itulah kita menyebutnya. Allah itu maha adil,selalu membagikan nikmat sesuai porsi dan tepat sasaran.Saat kau sudah mendapatkannya,sungguh bersyukur memang konsekuensinya.Eh,saat sebaliknya yang didapatkan maka bersabarlah dengan tulus.Suatu saat kau akan benar-benar merasakan manisnya. Ada target dan usaha,ada takdir dan kehedakNya,ya begitulah hidup ini.Jangan merasa cemburu melihat orang lain telah berada di posisi yang kau impikan, ada pesan untukmu agar belajar darinya.Jangan merasa kecewa saat kau mendapat yang tak lebih dari yang lain, ada hikmah yang ingin Allah sampaikan kepada kita. Tulisan ini khusus ditujukan untuk diri sendiri,yang lagi merasa baik-baik saja. Hehe,dengan semua nikmat,insiden,takdir dan juga visi misi yang masih akan terus diperjuangkan. Cukup dulu ya. Oke,see you! Salam, Betha