Maaf Karena Menjadi Manusia
Diam-diam aku menangisi kenyataan seakan realita milikku paling ironis. Tenggorokanku tercekat hebat seakan aku menahan luka parah. Tanganku bergetar, hingga lemas. Ingin berteriak, lalu mencabik, dan merobek apapun itu, Apapun dia? Seperti tak berTuhan, Aku takut setengan mati. Seperti tak beriman, Aku takut akan dunia. Merasa seakan paling menyedihkan, Melihat dunia seakan ia adalah segalanya. Nyatanya aku hanya buta, Juga tak bisa merasa. Maaf karena menjadi manusia.











