Terkadang hidup seperti mengecap manisnya empedu dan menyeringai pahitnya gula batu.
Begitu menyukai sesuatu yang terbungkus madu tanpa mau tahu apakah itu baik buatmu..
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from Türkiye
seen from Australia
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Brazil

seen from United States

seen from United States

seen from Netherlands
Terkadang hidup seperti mengecap manisnya empedu dan menyeringai pahitnya gula batu.
Begitu menyukai sesuatu yang terbungkus madu tanpa mau tahu apakah itu baik buatmu..
Realita Yang Perlahan Mencekik
I/ Menggunakan sepatu yang sama Menggunakan kendaraan yang sama Menuju tujuan yang sama Berangkat dan pulang di jam yang sama
Semua demi menyambung hidup: Melunasi cicilan yang diam-diam mencekik Menempuh perjalanan, berahap penat mereda Membeli barang yg dibutuhkan hingga yang hanya mengisi lemari, tapi mengosongkan hati
II/ Duduk di kursi yang sama Menu hari ini tak jauh beda Lidah mengecap, mata menatap layar Sembari tertawa kecil, tapi rasanya hambar
Kami makan, Tapi lapar tak melulu tentang perut
III/ Notifikasi berbunyi Saldo masuk: Alhamdulillah gaji bulan ini Seketika senyum muncul
Lalu hilang, Dalam lima menit dan tujuh cicilan
IV/ Minggu; hari di mana tubuh ingin istirahat Tapi pikiran malah tak mau rehat Tidur tak pernah nyenyak Karena Senin sudah berbisik Dari balik tirai jendela dan pop up notifikasi
V/ Aku tak lagi minum kopi karena aku suka Tapi karena takut terlambat sadar Bahwa hidup ini Hanya perulangan rasa pahit Yang diseduh hangat-hangat
VI/ Aku masuk toko tanpa rencana Keluar dengan kantong plastik penuh Bukan karena butuh Tapi karena sedih Dan harganya murah
VII/ Jam tiga pagi Semua sunyi, kecuali pikiran Yang sibuk menginterogasi: "apa benar aku bahagia?"
Tidak ada jawaban, Hanya detik jam yang terus berjalan
I'm not crazy, my reality is just different than yours.
Tim Burton
Ternyata ikhlas itu sulit ya.
Nyatanya aku masih sering menyesali jalan hidup ini.
Nyatanya aku masih sering menangis diam-diam ketika harapanku tidak sesuai kenyataan.
Ternyata hidup ini berat ya.
Berat karena semua keinginan rasanya ingin bisa diwujudkan.
Tapi nyatanya tidak bisa.
Ternyata berat ketika ekspektasi berbanding terbalik dengan realita.
Menuju usia 30.
Aku kira aku sudah bisa mapan secara mental dan financial.
Tapi nyatanya aku dihantam habis-habisan.
Diporak porandakan realita yang tidak sesuai keinginan.
Apakah aku menyesal?
Kadang….
Tapi buat apa?
Tapi aku bisa apa?
Aku yang dulu ceria kini lebih banyak diam.
Lebih memilih diam karena ketika kecewa ucapan lebih sering menyakitkan hati orang.
Biar saja kutelan realita hidup ini sendirian.
Dulu ketika gundah bisa kemana saja, pergi kemanapun aku mau.
Tapi kini semua serba terbatas.
Banyak hal yang membatasi.
Di akhir cerita nanti.
Semoga akan aku temui bahagia yang aku ingini.
Saat ini mungkin harus aku jalani dulu seperti ini.
Semoga Tuhan selalu menyertai.
3 September 2024
REALITA
Silahkan punya mimpi yang tinggi, tetapi jangan lupa bahwa kaki kita masih berpijak di bumi. berekspektasi jauh memang tidak dilarang, hanya saja jangan lupa akan realita.
jika capaian berada diatas rata-rata, sedangkan realita berkata mustahil, maka disitulah ozon keberkahan mengambil peran.
langit tidak pernah menurunkan hujan emas atau perak, maka harus ada usaha atas segala macam harap. Semakin tinggi ekspektasi dan harapan, maka harus semakin siap capek dan bersusah.
#29. Merawat Ketidakutuhan [4]
Perihal titik perjalanan yang terulang tanpa diminta. Memberi arti bahwa begitulah adanya, tidak bisa diperbaiki walau niat baik mulai bercumbu jadi sikap untuk tetap baik-baik saja atau mencoba menuju keadaan yang lebih baik seharusnya.
Ya, arti soal begitulah adanya. Tidak perlu dipaksakan.
Untuk memverifikasi segala kesalahpahaman yang dikira sebatas asumsi diri yang mungkin tidak tepat, terlalu ceroboh atau terlanjur dipaksakan. Sekali lagi, begitulah adanya.
Untuk merevisi segala perasaan yang mungkin terlanjur berlebihan, tidak ada belas kasih atau cenderung menyalahkan. Sekali lagi, begitulah adanya.
Nyatanya, hidup ini berarti belum tentu.
Belum tentu mendapat timbal balik yang sama dengan upaya keras yang dilakukan. Belum tentu senyum mendapat senyum, tawa berbalas tawa apalagi sama-sama merasa bahagia.
Pada titik persimpangan jalan, ada rambunya: people come and go.
Ada yang datang lalu meninggalkan luka baru, ada yang pergi lalu menyisahkan rindu, ada yang datang lalu membiarkan rasa yang tak berbalas, ada yang pergi lalu membuang rasa kecewa.
Semua-semua berarti siklus: ada dan tidak ada. Sirkulasi antara diri sendiri dengan orang lain yang datang dan pergi sesuka hatinya.
Tak ada beban baginya, kitalah yang boleh jadi terlalu banyak ekspektasi. Nyatanya berujung sama saja, tanpa timbal balik yang diharapkan.
Ternyata, begitulah adanya.
Hidup berjalan layaknya angin yang tak kenal kita sedang kedinginan atau kepanasan. Semua-semua soal berani menghadapi walau diri sedang tidak baik-baik saja atau cenderung rapuh dan tak berdaya.
Makna pilih kasih boleh jadi itulah arti adil?
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin
Lagi pusing banget sama keadaan. Ngerasa semuanya ga baik-baik aja. Tapi kalau ditanya kenapa, jawabannya pasti nggak tahu. Ya, karena memang nggak tahu. Diam sedikit tiba-tiba ingatnya itu. Jalan sedikit tiba-tiba lihatnya itu. Sesuatu yang nggak pernah disadari penyebabnya.
Kenapa ya aku begini? Kok seolah-olah semua hal jadi seperti beban. Padahal tidak ada yang meminta dituntaskan. Huft... Capek juga ya begini.
Tiap hari terasa berat karena dikejar-kejar oleh ekspektasi sendiri. Kayak semua jalan yang ditempuh nggak pernah ketemu titik akhirnya. Mau jauh, mau dekat, semua terasa melelahkan.
Kuncinya memang hanya satu. Menurunkan ekspektasi dari semua kemungkinan terburuk di masa depan.
Ekspektasi tinggi sah-sah saja. Ekspektasi ditaruh pada orang lain juga boleh-boleh saja. Satu hal yang harus disadari adalah respon terbaik ketika ekspektasi itu tidak bertemu realita.
- Sastrasa