Kelap-kelip gemintang diangkasa menyemarakkan Ramadhan. Langit malam ini begitu cerah. Alunan merdu tadarus Al-Qur`an dari berbagai masjid saling bersahutan. Syahdunya suasana Ramadhan malam kedua.
Dalam rangkaian hari-hari kita, pasti kita pernah mendapat perlakuan yang tidak baik dari seseorang. Kita pasti pernah terluka, bisa jadi dari ucapannya, tindakannya atau sikapnya terhadap kita. Pasti pernah.
Dan ketika seseorang tersebut sedang dalam kesulitan, sedang mendapat masalah atau apapun itu. Dan orang tersebut mendekati kita, sekedar bercerita kepada kita tentang masalahnya atau bahkan meminta kita untuk membantunya. Kita seperti punya kesempatan. Sayangnya bukan kesempatan untuk berbuat baik, malah sebaliknya. Tapi kesempatan untuk melakukan hal yang serupa seperti yang pernah seseorang lakukan terhadap kita. Istilahnya kita kenal dengan, balas dendam, tapi enggak sehoror di pilem-pilem kayak itu, yah..
Menurut perhitungan akal, kita perlu melakukannya, tujuannya agar seseorang itu bisa tahu bagaimana rasanya dicuekin, direndahin, ngak dibantu dan sebagainya. Ya, agar dia sadar saja bahwa yang dia lakukan itu tidak baik, agar dia tahu begitulah sakitnya perasaan kita dahulu saat seseorang itu melakukannya terhadap kita.
Saya sering sekali, digitu-gituin dan kesempatannya juga ada, biar dia tahu kalau saya dulu terluka bukan main dikarenakan ucapannya.
Tapi, saya selalu teringat kisah ini. Saya lupa siapa yang menceritakannya, siapa yang menjadi guru itu dan siapa saja tokoh yang terlibat pada cerita itu. Saya lupa. Jadi maafin, ya, kalau ternyata cerita ini begitu berbeda dari redaksi yang sebenarnya. Yang saya ingat Cuma inti dari ceritanya, itu aja.
Suatu hari, datang seseorang kepada sekelompok orang yang sedang belajar agama dengan seorang guru yang bijak. Orang yang datang tersebut langsung memaki-maki guru yang sedang mengajar, terus saja ia memaki sampai puas-dengan kata-kata yang kotor lagi tak pantas.
Tapi, apa jawaban si guru tersebut, “duduklah,” katanya kepada orang tersebut, lalu diberikannya makanan yang terdapat dalam kelompok kajian tersebut.
“Wahai guru,” ujar si murid, “kenapa engkau memperlakukan orang tersebut dengan baik. engkau bisa saja membalas perkataan orang itu, “
“Wahai muridku, setiap orang memberikan apa yang dia miliki,” jawab si guru dengan tenang.
Luar biasa sekali sikap guru tersebut. kalimat, “setiap orang memberikan apa yang dia miliki”. saya simpan dengan baik dalam ingatan. Disinilah akhlak seorang muslim.
Lagi-lagi, saya sering mendapat perlakuan kurang baik dari seseorang dan ketika ada kesempatan saya bisa melakukan hal serupa agar ia tahu bagaimana rasanya perasaan saya saat itu. Tapi sudahlah, tidak perlu. Saya selalu teringat dengan kalimat dari guru tersebut. Orang yang memaki guru tadi, menunjukkan bahwa yang dia punya hanyalah kata-kata yang tidak baik. Sedangkan sikap guru tadi menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang pemaaf. Kalau saja si guru tadi membalas perkataan yang serupa, mungkin keinginannya agar orang tersebut tahu seberapa buruknya perkataannya, ia akan mengetahuinya. Tapi lagi-lagi, si guru tidak melakukannya. Dia memiliki sesuatu yang baik, maka itulah yang dia berikan sedangkan orang tadi memiliki sesuatu yang buruk maka itu pula yang dia berikan. Jika kita melakukan hal yang sama, tidak ada beda antara kita dengan dirinya.
Dalam hidup yang terfokus pada diri sendiri ini. Kita memerlukan hati yang seluas lautan, bening lagi dalam, seperti kata Om Tere Liye, kalau hati seluas lautan ditumpahi racun sekonteiner pun tidak akan terasa. Kitalah yang harus meluaskan hati kita. Biarlah orang itu melakukan keburukan dan jangan sampai kita turut memperlakukannya dengan keburukan pula. Dalam kehidupan dimana sisi-sisi kemanusiaan sudah bergeser, hubungan antarpersonal seolah tidak terlalu penting lagi bagi kita. Cukup berinteraksi dan berbuat baik dengan kelompok kita saja, manusia diluar kelompok kita tidak ada urusannya dengan kita. Jangan sampai kita seperti itu karena kita tidak tahu kemana lagi setelah ini kita akan berpijak dan kepada siapa yang jadi perantara bantuan-Nya Allah untuk menolong kita. Bisa jadi mereka-mereka yang kita sakiti hari inilah yang akan kita mintai pertolongannya dan kita masih ingat bahwa kita pernah berbuat tidak baik kepadanya. Kita jadi malu sendiri kan, akhirnya.
Dan saya, akan selalu mencobanya, membalas keburukan dengan kebaikan, terus saja untuk selalu belajar dan mencobanya, sampai bisa sampai ketergantungan dengan perbuatan baik.
Malam kedua Ramadhan, Palembang | Mardliya :)