Takut Cinta?
Selama ini aku selalu berpikir aku terlalu lelah dengan rutinitas pekerjaanku yang tak henti. Yang memaksaku kehilangan banyak waktu untuk bersedih meratapi patah hati maupun rasa kesalku karena beban kerjaku ini. Lalu kupikir mungkin akan lebih menyenangkan kalau ada seseorang yang mendampingiku, tempatku bermanja dan berkeluh kesah. Tapi ketika seseorang memutuskan untuk memblokir komunikasi denganku setelah aku menumpahkan segala emosiku, aku tersadar bukan pada lelaki seharusnya aku mengadu dan mengaduh.. bukan dengan lelaki itu.
Kupikir juga, kalau saja ada lelaki yg mau menemaniku berbincang hal ringan di luar pekerjaanku mungkin hidup akan terasa ringan. Tak perlu lah ada cinta bahkan tak perlu bisa bermanja, cukup teman bercerita tanpa ikatan tanpa beban. Tapi ketika seseorang datang menawarkan benefit sebagai kekasih tanpa harus jadi kekasih, aku tersentak dan menolak. Tak sekalipun aku tertarik dengan hubungan mesra tanpa status yg banyak dipilih orang belakangan ini. Bukan krn tak butuh dikasihi, tp aku tak sanggup menanggung beban akibat rasa yg pasti mengiringinya. Aku tak sanggup lagi patah hati krn seseorang yg tak pernah kumiliki.
Pun ketika pertemanan bail terjalin, saatku mulai membuka hati untuk percaya pada pertemanan tanpa beban apapun. Aku memilih mundur saat hati mulai berani bergantung pada hadirnya. Saat hari makin tak lengkap tanpa berbagi cerita, rasa khawatirku kembali datang. Bagaimana jika, dia jadi membenciku spt dia yg telah berlalu saat melihat emosi terburukku. Apa yg akan kulakulan saat dia memilih pergi lagi spt yang sudah-sudah? Tanpa menunda, kuputuskan untuk menghilang saja darinya daripada terlalu jauh kulepas rasa berkelana. Apalagi menyadari beda yg sulit untuk disatukan krn aku tak mau mengganggu keyakinan siapapun hanya krn ego sesaat.
Benar kata orang, hati tak pandang fisik. Sementara teman-temanku ketakutan dengan penampilannya yg tak terlihat ramah aku malah nyaman dengan kesediaannya mendengarkanku. Rasa nyaman yg berbuah ketakutanku untuk tetap dekat dengannya.
Ah sudahlah, toh sudah kuputuskan kontakku dengannya. Kuserahkan saja pada yg maha memiliki. Kalau ada takdir mempertemukanku dengannya maka satu hari nanti pasti berlanjut. Kalaupun tidak, ya tak apa. Daripada rasa terus bersemi, sementara iman tak mengijinkan bersama baiknya rasa tak perlu mekar menjadi c












