Semacam Review Kedua (?)
Hmmm... tulisan ini mestinya ga perlu ada, tapi drpd kesimpen terus dan malah nambah penuh sesek di kepala mending dikeluarin aja. Entah akan dibaca atau ga.. tp seperti biasa ini kan memang kuburan yg hanya akan menjadi ingatan yang terkubur 🤪.
Kalau sebelumnya sdh nulis segala macem yg ga keluar sepanjang 2024, skr akan keluar segala macem yg ga keluar di 2025 setelah akhirnya memilih untuk mundur pelan-pelan karena melihat tidak ada harapan. Kirain bucinnya akan awet, ternyata tidak.. semakin hari si sy semakin mudah mengabaikan kehadirannya. Dan semakin menyadari mungkin saat itu saya hanya sedang kesepian dan hanya butuh teman bicara. Sampai akhirnya akhir 2025 sy memutuskan untuk pamit setelah membuka akses ke tulisan yg sy tulis di awal 2025. Hari itu sy sdh putuskan, dia bukan orang yg potensial untuk investasi jangka panjang dr segi waktu, pikiran maupun perasaan... karena ketidak jelasan sikap & lack of commitment. Sayangnya pamitnya saya dibaca lain, sepertinya, lbh diterima sebagai confession instead of decision 😅. Entah kenapa saya seperti dikejar balik tanpa kesiapan.
Lagi-lagi yg terasa adalah sikapnya yg suka-suka tapi kali ini ditambah sikap demanding yg terasa grasa-grusu.. rasanya tak nyaman tapi masih bisa dimaklumi, mungkin sikapnya muncul gara-gara traumanya yg katanya sudah berkurang.. tapi aslinya masih terasa jelas efeknya 🙃. Seperti yang lalu-lalu babak kedua ini biasanya diawali dg masa observasi ulang donk.. apalagi rasa ingin memiliki yg tahun lalu ada sekarang sudah berubah. Yang ada di pikiran & hati saya hanya, jangan menutup pintu terlalu rapat kemungkinan itu bisa datang kapan saja dan biasanya akan langsung pergi kalau tak lansung dibukakan pintu lebar-lebar. Jadi yaa.. mungkin sy hrs katakan "maaf ya bang, aku sudah tidak se-excited dulu lagi.. tapi ngusir abang jg rasanya tak bijak. Jadi hadirnya abang bukan lagi prioritasku seperti tahun lalu, makanya mengabaikan abang diantara kesibukanku terasa mudah."
Senangnya, ada sedikit perubahan dalam sikapnya.. meskipun masih sesuka hati tapi setidaknya ga cuma sy yg selalu reach out duluan. Tapi, sepertinya dia punya ekspektasi sendiri tentang sosok saya.. dia punya gambaran sendiri tentang kepribadian saya.. yang (sy yakini) jauh berbeda dengan aslinya saya. Berkali-kalipun sy blg saya ga sebaik sangkaannya dia tetap yakin dengan penilaian yg sy pandang skeptis. Ya gimana selama ini kan dia memang ga pernah perhatian full, banyak detail yg sudah pernah saya ceritakan dia lupa sampai2 bertaya berkali-kali.. mohon maaf, gimana aku bisa percaya kalau abang memang tertarik kalau hal-hal yg sdh aku ceritakan aja ga diingat-ingat? Rasanya habis ini yg sy tulis bukan review, tp lebih ke segala hal yg ga terucapkan. 😎
Lucunya, setelah 2 tahun kenal..ketemu juga konflik yg akhirnya membuka wajah-wajah yg selama ini samar-samar itu ya bang.. baru kali itu aku dibuat kesal sampai memilih untuk mundur dan diam, karena kalau dipaksakan bisa jadi yg keluar bukan seorang perempuan penyabar yg abang pikir abang kenal.. tapi seekor naga yg kakinya ketusuk duri dan menyemburkan api membabi buta. Sayangnya, abang merespon mundurnya aku sebagai bentuk perlawanan, bukan sebagai upaya menenangkan diri. Abang justru masih memaksa aku meladeni maunya abang di saat aku lebih butuh jaga jarak dengan kamu.
Perasaan kesal & penyebab aku kesal, abang abaikan, dan dijadikan bercandaan. Iya si abang minta maaf, tapi cara abang minta maaf tak terasa tulus.. lbh seperti guilty triping. Melabeli aku ga bertaqwa kalau aku ga memaafkan. Padahal masalahnya bukan aku ga mau ngomong karena ga mau memaafkan.. lbh ke aku masih terlalu kesal & ga mau bicara. Aku hanya butuh waktu untuk tidak diganggu. Fyi, banyak orang bilang saat mood aku jelek mukaku kaya setan jd lebih aman aku diem dan ngomong apa-apa.
Itu sebabnya aku jadi lebih marah krn perasaanku abang remehkan dan pake bawa2 label taqwa, bukannya hanya Allah yg berhak menilai ketaqwaan kita?
Sebetulnya aku berharap, abang cukup terbuka menghadapi wajah baru aku & mau berdialog untuk menyelesaikan konflik. Di waktu emosiku sudah tenang & aku siap bicara. Ekspektasiku saat aku blg aku kesal jawaban abang adalah "ok, kalo lagi kesel gpp take your time. Kita ngobro saat kamu siap." Dan saat aku bilang aku tak suka dipaksa, aku akan lebih mudah melunak kalau abang jawab "maaf kalo kamu merasa dipaksa & tidak nyaman dengan caraku. Jangan lama-lama ya, aku harap bisa secepatnya bisa vc." Dan terakhir kalimat "please call me when you ready to discuss everything" bisa dipastikan akan mengubah persepsiku tentang abang yg egois & seenaknya jd abang yg pengertian & bs jd partner yg ok untuk seumur hidup yg ga pendek itu.
Alih-alih membuka diri, sepertinya abang justru membuat keputusan final untuk menutup komunikasi saat itu ya? Krn pertanyaan aku untuk diskusi abang tolak dan abang anggap kondisi aku sebelumnya hal kecil yg ga perlu dibahas. Dan saat itu juga aku menyimpulkan, kalau toh ada jodoh untuk kita maka aku harus siap dengan sikap masa bodoh abang terhadap perasaanku.
Abang memang pernah tanya kriteria aku spt apa, dan jawabanku sebetulnya masih terlalu umum.. tapi aku pernah nyebutin dia hrs bisa menerima aku & keluargaku dengan segala kondisinya.. yg salah satunya tentunya menerima kondisi psikologis, fisik, ekonomi dll. Yg di dalamnya termasuk menerima bagaimana caraku merespon konflik yg terbentuk dr trauma & pengalaman masa lalu aku. Kalau di sini kita ga sejalan.. nilai yang tadinya 10 jadi ga ada apa-apanya kan?
Seminggu ini aku mikir, mungkin abang jg butuh waktu untuk ngobrol.. tapi ternyata tidak. Pengabaian abang terhada telponku seminggu ini akhisrnya aku simpulkan sebagai pernyataan dari abang kalau kita sudah selesai. 😊
Terima kasih untuk 2 tahun penuh cerita, mohon maaf atas kekurangan-kekuranganku yg ga berkenan di hati abang. Semoga allah selalu melindungi & berkahi abang dengan jalan bahagia. Take care 🫡














